Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 65. WAKTU YANG TIDAK TEPAT


__ADS_3

Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi.


Sepasang suami istri itu sudah bersiap untuk menuju kampus.


"Hari ini kan, ada kegiatan di kampus. sebenarnya aku sedikit nggak suka dengan kegiatan ini. Karena menurutku itu hal yang sia-sia belaka.


"Kenapa begitu?


"Karena yang ditampilkan hanyalah yang itu itu saja.


"Padahal aku ingin, perayaan pentas seni dilaksanakan bukan hanya memamerkan keahlian bernyanyi, menari atau foto model saja. Tapi aku ingin juga, melihat orang-orang yang selama ini tidak terlalu terekspos di kampus.


"Contohnya?


"Ya, seperti seni melukis, mendesain interior, dan banyak hal-hal lain lagi. Tapi yang selalu ditunjukkan di kampus itu dominannya, menampilkan orang-orang yang memiliki suara yang merdu. Sehingga yang tampil yang itu itu aja.


"Kan, Tidak semua orang memiliki suara merdu, tapi mereka juga memiliki seni yang tinggi dan juga ingin tampil dan diperhitungkan di kampus."Andini memberitahu apa yang ada di dalam hatinya selama ini.


"Ini satu masukan yang luar biasa. Bener juga apa yang kamu katakan. Nanti akan saya buat list di program berikutnya."sahut Dimas.


"Iya memang seharusnya seperti itu, Oh iya sepertinya Mas ada meeting di luar Nanti. "


"Berarti Andini bisa dong libur ke kampus, Lagian hari ini hanya acara pentas seni doang kan? mata Andini berbinar.


"Tidak bisa, kau istri pemilik kampus. Jadi kau harus menghadiri acara pentas seni itu, kau yang mewakili ku?


"Apa?


"Nggak mungkin dong Mas aku yang menyampaikan pidato di sana. Sejarah selama ini orang-orang di kampus tidak mengetahui kalau aku ini istri mas. Paling yang tahu hanya dosen dan dekan saja.


"Nggak apa-apa biar mereka tahu."


"Tapi belum saatnya Mas, pasti teman-teman aku bakalan terkejut."


"Mungkin ini saatnya mereka akan mengetahui Siapa kamu sebenarnya."


"Astaga Mas! aku belum siap melihat Mariska patah Hati, Jika dia mengetahui kalau kita sudah menikah.


"Kok jadi Mariska?


"Iya, selama ini mereka sudah sangat lama memendam rasa kepada Mas. Bagaimana kalau dia tiba-tiba mendengar kabar Kalau kita sudah menikah? pasti dia akan menjauhiku dan ia menganggapku sebagai seorang penghianat.


"Cepat atau lambat teman-teman kamu juga pasti akan mengetahui pernikahan kita."


"Tapi belum saatnya Mas, Aku tidak ingin kehilangan sahabatku Mariska saat ini."ucapnya memberitahu. Khawatir kalau dirinya akan kehilangan sahabat baiknya Mariska, yang mendambakan seorang Dimas menjadi suaminya.


Dimas menghela nafas panjang. Pokoknya kamu harus datang di acara itu. Tidak ada pidato dari kamu nanti, Nanti akan saya wakilkan oleh ikan sendiri.


"Ih, padahal kan enak libur."wanita itu mengejutkan bibirnya.


"Enakan yang semalam."Dimas melirik kara istrinya dengan senyum menggoda.


"Mau lagi?"Andini mendekatkan wajahnya ke arah Dimas.


"Mau, tapi nanti setelah pulang dari kampus."Dimas merangkul bahwa Andini dan menarik tubuh istrinya agar memeluknya.

__ADS_1


"Hahaha... dilarang mesum."Andini kembali menjauhkan tubuhnya ketika mobil yang mereka tumpangi sudah mendekati area kampus.


"Berhenti di sini aja, Mas."Andini menyetop laju roda empat itu sebelum masuk ke dalam gerbang


"Kapan sih kita bisa masuk bareng dan berjalan bersama ke area kampus?"tanya Dimas setelah menghentikan mobilnya.


"Nanti, ini belum saatnya Mas."Andini memakai tasnya dan bersiap keluar, tetapi sebelum itu ia melihat wajah suaminya yang terlihat cemberut.


Andini mendekatkan wajahnya.


Cup!


Andini memberikan sebuah kecupan untuk pertama kalinya kepada suaminya.


Dimas yang awalnya bengong, langsung melihat Kak Andini yang sedang tersenyum getir.


"Terima kasih,"ucapnya Seraya memegang pipi, bekas kecupan istrinya.


"Jangan cemberut lagi."Andini melambaikan tangannya dan keluar dari mobil.


Keduanya berpisah, Andini masuk dengan berjalan kaki, sementara mobil Dimas mengiringi langkahnya.


Andini langsung menghampiri Mariska dan Rian yang sedang duduk di parkiran, kedua sahabatnya itu langsung menyambutnya dengan hangat.


"Hello, guys! siapa Andini dengan wajah ceria.


"Hai juga!"balas Mariska dan Rian serentak.


"Ehem... mukanya ceria banget, kayak habis ketemu gebetan,"celetuk Mariska.


Namun, saat Gadis itu duduk rambutnya yang menutupi leher sedikit tersingkap dan membuat mata jelly Mariska langsung membulat.


"Din, leher kamu kenapa?"Ciledug Mariska dan akan kembali menyingkap rambut Andini.


Wajah Andini seketika, jangan sampai sahabatnya mengetahui kalau itu adalah jejak semalam. Ia sangat mengetahui kalau temannya itu memang ratu kepo. Dia tidak akan berhenti mencari tahu sebelum ia mendapat jawaban yang pasti.


"Emmmm.. nggak apa-apa, semalam aku digigit serangga."balas Andini Seraya merapikan kembali rambut yang menutupi bagian jejak kemerahan ciptaan sang suami.


"Kamu tidur di mana sih? kok sampai digigit serangga segala,"timpal Mariska dengan heran.


Wajah Andini semakin terlihat tegang, tangannya terus bergerak merapikan rambutnya.


Sementara tatapan Mariska dan Rian sholat detektif yang sedang menelusuri kasus, jiwa keponya meronta-ronta.


Tiba-tiba salah seorang mahasiswa datang menghampiri mereka Kalau acara akan segera dimulai. Membuat Andini bernapas lega, setidaknya ia dapat mencari alasan nanti menjawab pertanyaan kedua sahabatnya.


***


Acara pentas seni berjalan dengan lancar. tampak seorang MC, Memanggil nama seseorang untuk menampilkan suara merdunya di sana untuk menghibur para mahasiswa disana, setelah memastikan para dosen sudah tidak ada di lokasi pentas seni.


Karena saat ini sebenarnya acara pentas seni telah usai dilaksanakan. Tapi untuk seru-seruan mahasiswa, mereka membuat hiburan sendiri.


Banyak mahasiswa masih berkumpul di sana,


Bima naik ke atas panggung.

__ADS_1


"Din, si Bima bakal nyanyi nih!"seru Mariska ketika mereka masih di sana Sementara Andini sudah ingin segera pulang. Tapi karena Dimas berjanji akan menjemputnya Setelah usai meeting di luar, Ia pun akhirnya mengurungkan niatnya dan memilih menunggu Dimas di sana.


Andini hanya membalas dengan senyuman, wanita itu tidak terlihat antusias seperti biasanya.


Robert, Rian, Bima, dan beberapa mahasiswa Mas naik ke atas panggung dan mulai mengambil alat-alat musik mereka.


Bima mengambil mikrofon dan gitar untuk menyanyikan sebuah lagu.


Banyak mahasiswa bersorak mengagumi Bima.


"Selamat siang menjelang sore semuanya, lagu ini akan aku nyanyikan spesial buat wanita berbaju putih,"ucap Bima pada microphone yang terdengar oleh semua orang.


Beberapa mahasiswa memakai baju putih langsung bersorak. Sementara tata pan pemuda itu tertuju ke arah Andini yang menggunakan baju putih dipadukan dengan celana jeans berwarna biru. Dan menggunakan sepatu warna putih juga.


Petikan gitar mulai terdengar, Bima mengeluarkan suara merdunya dan membuat beberapa mahasiswa berteriak histeris.


Pria itu menyanyikan sebuah lagu yang seolah mengungkapkan perasaannya kepada seorang wanita.


Andini tersenyum, menyaksikan penampilan memukau teman-temannya.


Semua orang bertepuk tangan dan meminta agar Bima menyanyikan lagu lagi. setelah lantunan lagu itu selesai.


"Thanks semuanya. Sebelum melanjutkan ke lagu berikutnya, Aku ingin menyampaikan sesuatu."Bima bangkit dari kursi yang tadi didudukinya.


Semua pandangan mengikuti gerakan kakinya.


"Aku mau mengungkapkan perasaan aku kepada seseorang."para mahasiswa kembali bersorak.


"Dia seorang wanita yang selalu membuat aku tersenyum, Dia seorang wanita yang mampu membuat aku nyaman, Dia seorang wanita yang membuat aku tertarik dan dia adalah...."


Seketika suara sorakan itu terhenti, semua pandangan tertuju ke arah Bima yang semakin melangkah maju.


"Andini maukah kamu menjadi pacarku."


Degh!


Kata-kata itu membuat Andini mematung, aliran darahnya seolah terasa terhenti.


"Kalau Andini nolak kamu, kamu harus cabut dari kampus ini!"oncom seseorang yang membuat semua pandangan langsung tertuju ke arahnya.


Bagas masuk ke tengah kerumunan dan menatap Bima dengan nyalang.


Sementara Andini semakin terdiam, bingung harus berbuat apa. Kalau ia menerima, dia menyakiti hati Dimas. Tapi dia juga tidak ingin temannya itu keluar dari kampus hanya karena taruhannya dengan Bagas.


"Andini, kalau kamu menerima aku, ambil bunga ini tapi kalau kamu menolak aku, kamu jangan terima bunga ini."Bima menyodorkan setangkai mawar yang telah disiapkannya ke arah Andini. Andini merasa tidak tega.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_1


__ADS_2