Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 201.TIDUR SENDIRI


__ADS_3

Saat ini keluarga Anggara dan juga Pratama sudah duduk di ruang makan. Yang di sana sudah tertata rapi menu makanan yang sudah dihidangkan oleh asisten rumah tangga yang ada di rumah pribadi Dimas.


Biasanya Andini langsung melayani suaminya. Tapi untuk kali ini dia berdiam diri saja dan menunggu nyonya Laras yang melakukannya semua. Nyonya Laras melirik putrinya yang duduk tepat di samping Dimas.


Tapi karena tak kunjung ada pergerakan dari Andini, membuat Nyonya Laras pun akhirnya langsung menyendok makanan ke piring suaminya dan Tuan Anggara Dimas menyendok makan untuk dirinya sendiri. Dan dia juga menawarkan agar dia yang menyendok nasi istrinya. Tapi Andini menolak dan memilih untuk menyendok nasinya sendiri.


Hening.


Tidak ada yang bersuara. Hanya detingan sendok dan garpu yang terdengar di ruangan itu. Andini menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Saat ini dia ingin menambah kembali. Kembali Andini menyendok nasi dan beserta lauk pauknya. Dimasukkannya ke dalam piring lalu menyantapnya lagi.


Dimas yang memperhatikan istrinya mengerutkan keningnya. Tidak biasanya istrinya makan begitu lahap. Bahkan Sampai nambah dua kali. "Kenapa menatapku seperti itu? apa aku tidak bisa nambah ? tanya Andini lagi dengan Ketus.


"Bukan begitu Sayang, sensi amat sih bawaannya terus? nggak ada yang larang kamu nambah, bahkan sampai Berapa kali tambah mas ngak masalah. Justru mas senang sekali kalau kamu makan makanan yang bergizi seperti."


"Terus kenapa menatapku seperti itu?? Andini kembali bertanya dengan ketus. Sementara Tuan Anggara hanya diam saja. Begitu juga dengan Nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama.


"Bukan sayang, hanya saja Mas perhatikan akhir-akhir ini kamu makannya dengan lahap. udah itu porsinya tidak seperti biasa. Makanya Mas heran.


Andini tidak menyahut. Setelah menghabiskan menu makanan yang ada di dalam piringnya, ia langsung bangkit berdiri meninggalkan ruang makan itu. Dan berniat untuk duduk di ayunan yang di bawah pepohonan rindang.


"Ma, ini gimana? sepertinya Andini masih marah sama Dimas


"Sudah, kamu tenang saja. Dia hanya saja sok mendengarkan kebohongan yang kita tutupi selama ini. Paling juga sebentar lagi dia akan meminta maaf kembali karena sudah mendiamkan kamu." sahut Nyonya Laras enteng.


Setelah acara makan malam itu selesai Mereka pun ngobrol bersama di ruang tengah. Setelah itu, Tuan Nicholas meminta kepada Dimas untuk memimpin perusahaan kembali seperti sebelumnya. Sedangkan Erin, Dimas akan mempercayakan hotel dan restoran akan dia kelola dibantu oleh Bima.


Karena menurut Dimas, sepertinya Bima dapat mengembangkan restoran itu kembali. Bima juga memiliki ilmu pengetahuan di bidang manajemen, di samping itu dia juga ahli dalam meracik kopi.

__ADS_1


Sebelumnya Dimas sudah membicarakan itu kepada Tuan Anggara. Semenjak pernikahan Erin dan Bima, Erin pun menyetujui usulan Tuan Anggara, kalau suaminya dan dia yang mengelola hotel dan restoran yang saat ini dikelola oleh asisten Dimas.


"Alvin yang sedari tadi hanya sebagai pendengar, dia sama sekali Tidak berkomentar apa-apa. Dimas kembali melontarkan pertanyaan kepada Alvin.


"Alvin, Kamu bisa nggak bantu Kakak untuk mengelola hotel yang baru Kakak beli itu, tapi kamu juga tetap membantu aku di perusahaan, Jika kamu saya butuhkan." tanya Dimas kepada Alvin.


"Kalau Alvin terserah Kakak saja, mana baiknya menurut Kakak, itu sudah baik menurut Alvin." sahutnya dengan tegas.


"Mulai sekarang, kakak percayakan kamu mengelola Hotel itu, aku yakin hotel yang baru kakak rintis itu dapat berkembang di tangan kamu. Karena kakak percaya akan kemampuan kamu." ucap Dimas kepada Alvin.


Setelah mereka sepakat, Tuan Miko Pratama dan nyonya Laras berniat untuk segera kembali ke rumah utama keluarga Pratama. Sedangkan Tuan Anggara diantar oleh Alvin kembali ke rumah utama Anggara.


Andini yang masih duduk di ayunan menikmati angin sepoi sepoi dia sambil mengotak-atik ponselnya.


"Andini!!!! Panggil Nyonya Laras. Andini hanya mendongakkan kepalanya kemudian ia berjalan menghampiri Nyonya Laras. "Mama dan Papa pulang dulu, ingat pesan Mama. semua ini tidak sepenuhnya kesalahan Dimas. Ini kesalahan papa dan Mama juga."kembali Nyonya Laras mengingatkan.


Disusul dengan Tuan Anggara yang akan kembali ke rumah utama keluarga Anggara. lalu Andini mencium punggung tangan Tuan Anggara takzim


Mobil yang dikendarai oleh Tuan miko Pratama berlalu dari rumah pribadi Dimas. Diikuti dengan mobil yang dikendarai Alvin untuk segera menghantarkan Tuan Anggara, sebelum Alvin kembali ke rumah pribadinya yang Beberapa bulan yang lalu ditempati oleh Dimas dan Andini.


Setelah keluarga besar itu kembali ke kediaman masing-masing. Richard mengembangkan senyumnya. Lalu meraih tubuh istrinya berniat ingin mengajak istri masuk ke dalam kamar. Ia tahu istrinya hari ini pasti sangat lelah.


"Sayang, lebih baik kamu Langsung istirahat saja. Ayo mas antar."ujar Dimas sembari menggandeng tangan Andini. Tapi lagi-lagi Andini menghempaskannya. Dia tidak ingin dipegang oleh suaminya.


Dimas pun masih memahami kekesalan istrinya. Dia berjalan di depan istrinya yang diikuti oleh Andini dari belakang.


Setelah tiba di kamar pribadi Dimas, Andini melihat seisi kamar itu yang terlihat luas dan desain interiornya yang begitu mewah. Dia melihat isi kamar itu terdapat foto-foto pernikahan mereka. Tak ada satupun foto yang lain, selain foto Andini dan juga Dimas.

__ADS_1


"Sayang, kalau mau ganti baju disana!" Dimas menunjukkan walk in closet.


Setelah membersihkan diri, Andini langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran king size itu. Di balik diamnya Andini, Dimas merasa benar-benar tidak mengerti, bagaimana caranya lagi untuk meminta maaf kepada istrinya.


"Sayang maafkan mas, mas tidak berniat untuk membohongi kamu." ucapnya sambil berniat ingin membaringkan tubuhnya di samping Andini.


"Keluar!!!! teriak Andini. Rasanya dirinya tidak sulit tidur bersama istrinya.


"Kok mas, disuruh keluar sayang?


"Oke, kalau nggak mau keluar biar aku yang keluar dari kamar ini!"titah Andini dengan tegas, seolah dia tidak ingin dibantah oleh suaminya.


"Baiklah, Kamu tidur saja dulu. Mas akan keluar, Semoga kamu tidur yang nyenyak ya sayang." ucap Dimas sambil ingin memberikan kecupan hangat di kening Andini. Tapi Andini langsung menjauh.


Rasa sakit di hati Dimas didiamkan oleh istrinya membuat pikirannya gundah gulana. Saat ini Dimas benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Akhirnya Dimas pun tidur di kamar yang akan dijadikan kamar anak-anaknya kelak.


Dia sengaja tidur di samping kamar pribadinya. Takut kalau Andini membutuhkan pertolongannya. "Maafkanlah sayang, mas tidak ada niat ingin membohongi."lagi lagi Dimas menyalahkan dirinya sendiri karena telah membohongi istrinya.


Malam ini, Dimas sama sekali tidak dapat tertidur pulas. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tapi pikirannya masih berkelana kemana-mana. Entah bagaimana caranya agar istrinya dapat memaafkan dirinya.


Jam terus bergulir, hingga pagi. Tapi Dimas tak kunjung bisa memejamkan matanya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2