Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 25. HUKUMAN SERATUS SOAL


__ADS_3

Andini dan Almira masuk ke ruang dekan. tentunya setelah Andini mengetuk pintu terlebih dahulu dan dekan mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruang kerjanya.


Kedua Gadis itu masuk hampir berbarengan.


"Silakan duduk!"ucap seorang laki-laki paruh baya, salah satu ruangan dan orang yang paling ditakuti oleh para mahasiswa sejagat universitas.


Andini dan Almira duduk bersebelahan, tetapi keduanya masih saling melempar kebencian.


Pak Rohdian yang menjabat sebagai dekan di kampus itu, menatap kedua gadis di hadapannya secara bergantian.


Andini dan Almira menundukkan kepalanya ketika sorot mata lelaki yang paling banyak ditakuti mahasiswa sejagat universitas terarah kepada mereka.


Andini sudah siap membuka telinga lebar-lebar untuk mendengarkan untaian kata mutiara dari seorang dekan.


"Saya sudah mengetahui apa yang terjadi dengan kalian berdua. Bukannya hanya katanya, tapi saya melihatnya langsung melalui CCTV dan juga video yang sudah tersebar di grup sosial media kampus."ucap Pak Rohdian yang membuat Andini dan Almira cukup tersentak.


"Jadi video mereka sudah tersebar di grup sosial media kampus? itu artinya semua mahasiswa dan juga dosen di kampus itu sudah mengetahui aksi barbar mereka.


Bahkan mahasiswa yang beda tingkat dan jurusan pun bisa mengetahuinya. Karena hampir semua mahasiswa dan dosen masuk ke dalam grup sosial media itu.


"Baiklah untuk meminimalisir kejadian itu terulang lagi, saya akan memberikan sanksi atas perlakuan kalian berdua yang telah melanggar etika di kampus ini.


Kata-kata yang keluar dari mulut dekan itu cukup membuat jantung Andini dan Almira berdebar begitu cepat. Andini begitu khawatir kalau beasiswanya akan dicabut .


"Baiklah hukuman kalian akan saya skor selama satu minggu!"tegas Pak Rohdian yang membuat kedua Gadis itu, menghadapnya membulatkan matanya.


"Tapi Pak...."


"Kalian tidak diperbolehkan menyangka! lelaki paruh baya itu langsung memotong ucapan Andini.


Andini menutup bibirnya rapat-rapat tak bisa lagi membantah.

__ADS_1


"Permisi Pak Rohdian. Maaf mengganggu." ucap seseorang yang baru datang ke ruangan itu.


Andini yang mengenal suara sosok lelaki yang baru datang ke ruang kerja dekan langsung berbinar ketika Dimas datang.


"Ada apa Pak Dimas?


"Sebelumnya saya mohon maaf jika mengganggu bapak. Jadi begini, Andini dan Almira itu kan sebentar lagi akan skripsi. Jadi menurut saya alangkah lebih baiknya jika mereka diberikan hukuman yang lebih bermanfaat,"ucap Dimas yang langsung diangguki oleh pak Rohdian.


Sementara Andini sudah tersenyum penuh kemenangan. Ia yakin suaminya itu akan memberi usulan yang lebih baik.


"lalu hukuman apa yang cocok untuk mereka Pak Dimas?


"Ini pak. Saya sudah menyiapkan seratus soal untuk mereka isi dalam waktu dua puluh empat jam, dan mereka mengumpulkannya esok pagi tanpa kecuali!"jelas Dimas raya menaruh beberapa lembar kertas HVS di atas meja.


Mata Almira kembali membulat. Mata dengan Tatapan yang tertuju karena tumpukan kertas HVS yang berada di hadapannya.


"Ide bagus. Pak Dimas memang dosen terbaik. selalu memberikan hal yang bermanfaat."Puji Pak Rohdian kepada Dimas yang tersenyum tipis ke arah Andini.


"Banyak banget soalnya pak? gak bisa dikurangin gitu."komplain Almira. Ia sudah tahu kalau dirinya tidak akan mampu menjawab soal sampai seratus soal seperti itu.


Dimas paham kalau istrinya pasti akan mudah menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh Dimas kepada Mereka. Karena ia tahu tingkat kecerdasan istrinya itu di atas rata-rata. Ia sudah yakin kalau istrinya bisa menyelesaikan seratus soal dengan waktu yang singkat. Jadi ia memilih memberikan hukuman itu untuk mereka berdua.


Andini dan Almira keluar dari ruang kerja Pak Rohdian. Almira menatap Andini dengan tatapan tajam. Ia terlihat kesal terhadap Andini. Sementara Andini hanya senyum-senyum saja mendapatkan hukuman yang ringan baginya. Dan hanya diberikan hukuman menyelesaikan soal seratus soal dalam waktu dua puluh empat jam, itu mudah baginya


Andini mendudukkan bokongnya di tempat duduknya semula saat sudah tiba di ruang kelas. Mariska, Rian, Robert, dan Bima penasaran hukuman apa yang diberikan oleh Dekan kepadanya. Pertanyaan demi pertanyaan pun dilontarkan oleh teman-temannya kepada Andini.


"Sanksi apa yang diberikan dekan kepadamu besti? ucap Mariska penasaran.


terlihat wajah Andini murung, membuat teman-temannya semakin penasaran.


"Serius Andini. Apa sanksi yang diberikan dekan kepadamu atau kepada Almira?

__ADS_1


Andini memperlihatkan tiga lembar kertas HVS yang di dalamnya ada seratus soal membuat teman-temannya mengerutkan kening mereka.


"Dekan memberikan kami hukuman mengerjakan soal seratus soal dalam waktu dua puluh empat jam jam."ucap Andini kepada teman-temannya.


"Ampun! aku kirain hukuman apa yang akan dikasih dekan kepada kalian. Kalau cuma seratus soal ma, itu mudah bagi Andini secara otak Andini kan encer." tidak seperti yang sana tuh bloon! sindir Mariska sambil melirik ke arah Almira yang sudah tampak gelisah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal memperhatikan soal-soal yang diberikan Dimas kepada mereka.


"Kita sih yakin kalau kamu dengan mudah menyelesaikan itu Andini, apalagi ada sohib kita ya, yang bebeb, Bima yang juga tidak kalah jenius dengan kamu."ucap Rian kepada Andini.


"Iya, tidak apa-apa aku bisa bantu kamu juga."


"Ini hukuman untukku, sudah sewajarnya aku yang mengerjakan sendiri. Sekarang tinggal kalian membantuku, Di mana tempat yang cocok untuk mengerjakan tugas ini semua? jika aku mengerjakannya Di sini, Bisa-bisa ada yang nyontek. Karena kalian tahu sendiri bukan, antek-anteknya yang itu banyak tuh di sini. Tentunya Aku tidak mau dong dia akan menyontek hasil kerjaku.'


"Sudah kamu tenang saja, Bagaimana kalau kita ngerjainnya di sebuah Cafe. yang lokasinya tidak jauh dari kampus untuk ini biar aku yang traktir."ucap Bima tersenyum bahagia yang dibalas sorak sorai dari teman-temannya.


"Kalian ini, kalau yang namanya ditraktir langsung ke girangan. Ayo kita berangkat sekarang, Aku tidak ingin menunda waktu Ingin sekali aku menyelesaikan tugas-tugas ini. Aku juga ingin melihat seberapa pintarnya wanita itu yang mengatai aku sugar baby. Padahal dia tidak mengetahui siapa Aku dan siapa lelaki yang bersamaku saat itu.


"Apa kalian jalan dengan kakak kandung kalian itu namanya sugar baby? Sama halnya seperti aku lakukan dengan kakak sepupuku, Apakah aku termasuk sugar baby ? tanya Andini sambil menyindir ke arah Almira.


"Sudah ah, ribet banget. Lebih baik kita langsung berangkat sekarang."


"Din, kamu ikut bersamaku."ujar Bima


Andini mahalan nafas. Ia khawatir kalau Dimas akan melihatnya berboncengan dengan lelaki lain, yang bisa memancing amarahnya. Tapi ia juga tidak ingin Kalau teman-temannya merasa curiga terhadapnya sehingga akhirnya ia pun mengiyakan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2