
Dua Minggu kemudian, Setelah melewati beberapa proses, akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Siapa lagi yang menunggu hari ini kalau bukan sepasang calon pengantin.
Hari ini adalah hari pernikahan Ricky dengan Nisa. Acara pernikahan keduanya diselenggarakan di sebuah gedung mewah yang sudah disiapkan secara matang.
Semua tamu undangan siap hadir untuk menyaksikan acara sakral itu. Termasuk sepasang suami istri yang tidak pernah berpisah bak sepasang sendal.
Pagi-pagi sekali, Rian sudah sibuk sendiri. wanita yang tengah berbadan dua itu menyiapkan pakaian couple yang akan dikenakannya bersama sang suami.
Bahkan, Rian sudah membeli baju couple itu dari jauh-jauh hari, saat ia mengetahui sahabatnya akan menikah.
Wanita itu ingin terlihat perfect Bersama sang suami.
"Suamiku tampan sekali, Uluhhh...membuat hati ini meleleh."celotehnya sambil mencolek Dago Herlan yang sedang mengancingkan kemeja yang ia kenakan.
"Ih, bang Herlan cuek banget sih! balas lagi dong."protes Rian dengan bibir mengerucut.
"Balas apa?"pria itu menautkan kedua alisnya.
"Ya,balas muji aku dong."
"Jangan mau dipuji, nanti besar kepala."tegur Herlan.
"Ini beda lagi, Bang. Biar aku tambah yakin kalau aku tidak cantik dan aku merasa pede untuk menebar pesona ke keramaian." cerocos Rian sambil mengibaskan rambutnya.
"Ngapain tebar pesona segala! ingat, kamu itu punya suami, kecantikan dan keindahan kamu hanya boleh dinikmati oleh suami kamu sendiri."
"Ihk, Bang Herlan nggak asik! aku udah cantik dan seksi begini."Rian berdiri selayaknya seorang model yang berada di atas catwalk.
"Rian, jangan kayak gitu berdirinya! biasa aja."tegur Herlan kembali.
"Kenapa sih, Bang? aku kan mau menunjukkan Budi aku yang aduhai ini."Rian berkaca pinggang bergaya ala model internasional.
"Astagfirullah, Rian. Coba lihat perut kamu! sudah membuncit gitu, Masa mau bergaya ala ala model."Herlan menyentuh perut istrinya yang membuncit di balik gaun cantik yang dikenakan wanita itu.
"Memangnya perut aku sudah besar sekali ya Bang?"Ryan menunjukkan kepala, melihat ke arah perutnya.
"Kamu lihat saya sendiri, sudah kaya ikan buntal."
"Heh, Bang Herlan keterlaluan banget! buncit dari mana coba? orang biasa aja."Rian masih memperhatikan perutnya.
"Jangan lihat dari atas, coba lihat dari samping kamu berdiri di depan cermin Dan lihat perut kamu dari samping."Herlan menggeser tubuh istrinya ke depan cermin dengan perlahan.
__ADS_1
Rian melaksanakan perintah suaminya, wanita itu melihat seluruh tubuhnya dari pantulan cermin dan memperhatikan bentuk tubuhnya dari samping .
Mata wanita itu hampir membulat ketika melihat perutnya yang terlihat membuncit.
"Huaaaa . .... aku nggak nyadar, ternyata perut aku sudah segede ini,"pekik Ryan dengan suara melengking
"Makanya, jangan terlalu banyak gaya. kasihan anak kita kalau ibunya terlalu banyak tingkah."tegur Herlan.
"Ini semua gara-gara kamu Bang. alat pompa kamu ganas banget, sampai perut aku kayak gini. Huaaaaa... aku jadi nggak seksi lagi."Rian kembali berteriak sambil mengusap sudut matanya yang kering.
"Berisik! nggak ada yang harus disesali. Aku malah bahagia karena kita akan punya keturunan. mau sebuncit apapun perut kamu, tidak akan mengurangi rasa cinta dan sayangku."
"Bang Herlan so sweet sekali. aku jadi terhura!"Rian langsung mendekat tubuh suaminya.
"Terhura apaan?
"Terharu, Bang. Maaf typo, yang pasti Rian mencintai kamu Mas. Rian semakin mempererat pelukannya.
"Kamu ini ada-ada saja, sudah seperti outhor Morata yang kerap sekali typo dalam menulis.
Tapi mas menyukai karya-karyanya."ucap Herlan kepada sang istri.
"Iya, deh iya." sahut Herlan sambil membalas pelukan istrinya.
"Ya, sudah lepasin! kita berangkat sekarang, Nanti telat."
"Nggak mau! balas I love you too. gitu Bang!"titah Rian yang masih belum melepaskan pelukannya.
"CK... ribet banget sih! Kan tadi udah aku bilang, kalau aku cinta dan sayang sama kamu."
"tinggal balas I love you too doang bang. Kalau nggak mau ya udah biar kita gini aja."
"Ya udah, I love you too, istriku."
"Huaaa.... ini terlalu sweet."Rian jingkrak jingkrak sambil terus memeluk tubuh Herlan sampai keduanya terjatuh di atas kasur.
Sementara itu, sepasang suami istri sudah berada di atas motor dan menuju ke gedung yang akan menjadi tempat akad nikah sekaligus resepsi sahabat mereka.
Robert dan Mariska memakai baju couple yang menjadi identitas kalau mereka adalah pasangan.
"Robert, cepat dong! mana mataharinya panas banget lagi, padahal masih pagi. bisa-bisa make up aku keburu luntur ini mah, kena debu dan kawan-kawannya."gerutu Mariska dengan kesal.
__ADS_1
"Sabar sayang, ini lumayan macet. jam segini memang waktunya orang-orang pada berangkat kerja, makanya macet."balas Robert seraya menjalankan motornya dengan perlahan, karena jalanan sangat ramai dan berdesakan.
"CK... gak ada jalan lain gitu? mana panas, macet pinggang aku pegal lagi."gerutu Mariska kembali sambil sekali mengelap keringatnya.
"Sabar ya Sayang, insya Allah sebentar lagi kita naik mobil."
"Naik mobil apa? jangan bilang kamu mau ngajak aku naik taksi!"temple Mariska dengan nada yang terdengar kesal.
"Enggak sayang, Aku punya rencana kredit mobil. Kayaknya, uang tabungan kita sudah cukup untuk dp-nya, simpanan buat kamu lahiran juga sudah aman. Aku rasa, Sudah saatnya kita datang ke showroom."tutur Robert.
"Yang bener, Robert? tanya Mariska dengan wajah berbinar.
"Iya, kali ini aku serius. Aku pengen ambil mobil supaya kamu tidak kepanasan lagi saat melakukan perjalanan. Terus, biar nanti pas anak kita lahir, bisa langsung naik mobil. kan repot kalau bawa bayi naik motor."jelas robek yang membuat bibir istrinya mengembangkan senyuman dengan perlahan.
"Uluhhh, manis banget suamiku. Terima kasih ya, sayang!"
"Ucap terima kasihnya sambil meluk dong!"Robert menarik tangan umariska agar melingkar pada perutnya.
"Nggak mau ah. kamu nggak ingat apa perut aku sudah besar kayak gini, kalau meluk kamu nanti dedeknya kejepit."protes Mariska sambil menarik kembali tangannya.
"Dikit aja pegangnya sayang. ini jalan udah mulai lancar, kayaknya aku bakal sedikit ngebut biar kita nggak telat."
"Ya, udah. dikit aja."Mariska memegang ujung jaket suaminya.
"Ya, illeh pelit banget sih, cuma meluk doang juga."protes Robert.
"Hiss... tiap malam juga aku peluk, Masa bilang pelit."
"Tapi kan aku pengennya dipeluk setiap detik, menit, jam, hari sepanjang waktu."
"lebay banget sih Robert, geli aku dengarnya!" Mariska mencubit pelan pinggang pria itu.
Keduanya terus saja berbincang sampai tiba di tempat tujuan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1