
"Hoek ... Hoek... suara itu menembus ke alam mimpi seseorang yang masih bersemayam di balik selimut.
Andini membuka kedua matanya dengan perlahan, dan meraba ke arah tempat tidur Sang suami.
Namun, lahan di sebelahnya itu malah kosong. Tangannya hanya meraba kasur yang tidak terisi.
Andini langsung membuka matanya lebar-lebar, dan melihat ke arah samping dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Mas, kamu dimana? tanya Andini sambil bangkit. Sebenarnya Andini jarang sekali bangun subuh-subuh . Tapi karena dirinya mendengar suara muntah-muntah dari arah kamar mandi, sehingga ia pun terbangun.
"Hoek...Hoek ....suara itu terdengar kembali.
Andini langsung melangkahkan kakinya ke arah sumber suara, yang ia yakini berada di dalam kamar mandi.
"Mas, kamu di dalam? tanyanya sambil mengetuk pintu kamar mandi itu beberapa kali.
"Hoek...Hoek.....Hoek"
tak menunggu lama lagi, setelah suara itu terdengar kembali, Andini langsung membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci.
Betapa terkejutnya Andini ketika melihat sang suami sedang memuntahkan isi perut dengan wajah yang terlihat pucat.
"Astagfirullah, Mas. Kamu kenapa?" Andini segera mendekat dan memijat tengkuk leher suaminya, agar pria itu menghentikan muntahannya.
Dimas mencuci mulut dan mengangkat kepala menatap ke arah Andini dengan sayu.
"Astaga, Mas! kamu pucat banget. Wajah wanita itu terlihat khawatir. Andini melap mulut sang suami yang basah dengan tangannya sendiri.
"Nggak tahu Sayang, perut Mas sangat mual banget." ucap Dimas dengan lirih
Tenaganya hampir habis saat perutnya terasa dikuras.
Hal itu membuat Andini merasa iba menatap suaminya. Dia tidak tega melihat sang suami yang terlihat pucat dan lemas.
__ADS_1
"Lagian sih, Mas aneh. Andini yang hamil kok malah Mas yang ngidam.
Mas yang mengalami morning sickness." ucap Andini sedikit terkekeh walaupun dirinya mengkhawatirkan suaminya
"Tapi Tenang saja mas, itu artinya Mas sayang sama Andini, karena mas tidak ingin Andini merasakan lemah saat hamil anak kita." ucap Andini sambil memberikan kecupan hangat di wajah tampan suaminya.
"Mendapat kecupan pagi-pagi begini dari kamu membuat Mas semakin kuat."ucap Dimas sambil berusaha mengembangkan senyumnya. Keduanya melangkah keluar dan Andini meminta kepada suaminya untuk merebahkan tubuhnya kembali sampai tenaganya kembali pulih.
Sementara Andini berlalu ke dapur mengambil air hangat, kemudian ia kembali menghampiri suaminya. Lalu memberikan air putih hangat untuk suaminya berharap rasa mual yang dirasakan Dimas mengurang.
****
Di tempat lain, Mariska juga mengalami hal yang sama. Dia memuntahkan seluruh isi perutnya pagi-pagi subuh seperti ini. Padahal wanita itu paling sulit untuk bangun jika pagi hari.
Tapi entah mengapa pagi ini wanita itu terbangun lebih awal.
Hoek... Hek... Hoek
"Kamu mual sayang? kok pagi-pagi begini kamu sudah bangun? tanya Robert karena dia mengetahui kebiasaan istrinya itu paling sulit jika bangun pagi.
Tadi aku terbangun karena mual."sahut Mariska sambil keluar dari kamar mandi dengan hati-hati.
"Kok mual? kamu masuk angin?biar aku kerok ya." ucap Robert.
Nggak usah ini kayaknya morning sickness.
"Apaan itu sayang?" Robert menatap ke arah istrinya dengan heran.
"Mual di pagi hari, biasanya dialami oleh wanita yang sedang hamil muda." jelas Mariska yang langsung duduk di atas ranjang.
"Oh dedeknya nakal ya, jangan ngerjain Mami pagi-pagi. Padahal papinya masih pengen di kelon." ucap Robert dengan tangan yang mengusap perut sang istri.
"Idih, geli banget aku dengarnya. Papi mami segala." gerutu Mariska dengan wajah sebel.
__ADS_1
"Harus dibiasakan sejak anak kita masih berbentuk zigot sayang."ucap Robert
"Tau, ah. Mariska kembali mencegah kesal.
"Ya udah, aku buatkan teh hangat buat kamu ya. biar nggak mual lagi."
"Nggak usah, aku bukan pengen teh." cegah Mariska
"Terus pengen apa?" Robert menghentikan kakinya yang menggantung di udara, karena baru saja ia akan melangkah
"Aku pengen makan.... "
Mariska sengaja menggantung ucapannya.
"Kamu mau makan apa sayang?
"Aku pengen sate, sate pak Karim yang berjualan di dekat kampus."ucap Mariska.
"Hah! sate mang karim? Yang benar saja dong. sate Mang Karim nggak enak?
"Enak, tahu! makanya sana beli. Titah Mariska
"Ini masih subuh sayang, Sate mang Karim belum buka. Nanti ya jika sate mang Karim sudah buka ya." ucap Robert setelah melihat jarum jam yang ada di dinding.
Mariska hanya mengerucutkan bibirnya, kemudian ia kembali berbaring di atas tempat tidur, sementara Robert menggaruk kepalanya yang tak gatal, melihat istrinya ngambek.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"
__ADS_1