
"Kamu terlalu anteng memperlihatkan wajah saya, sampai lupa saya dari tadi mobil ini terus berjalan."
"Habisnya kamu nggak ngebosenin untuk dilihat, Mas."
"Saya tahu, wajah saya ini mengandung zat yang bisa membuat candu Siapa saja yang melihatnya."pria itu tersenyum manis.
" Terus, muka aku mengandung apa dong?"Andini menunjuk wajahnya sendiri.
"Mengandung arsenik."jawab Dimas sambil terkekeh.
"Mas,ikh. Beracun dong!"Andini memukul dengan suaminya dengan kesal.
"Sudah, jangan cemberut. Bibirnya tambah doer
"Doer, doer juga bekas kamu, Mas."
"Perlu diralat, bukan bekas tapi milik saya. kalau bekas itu biasanya sudah tak terpakai lagi, tapi ini akan selalu saya pakai."Dimas mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya.
"Meleleh hatiku, Mas."
"Sudah, turun yuk."Dimas membuka pintu mobilnya yang langsung disusul oleh Andini, Kebetulan sekali mereka berpas-pasan dengan Mariska dan Rian yang baru tiba di parkiran.
Andini melambaikan tangannya ke arah Dimas, ketika suaminya itu akan berjalan ke arah ruangan dosen.
Hal itu langsung membuat Mariska memicingkan matanya dan segera menarik tangan Rian agar meninggalkan parkiran.
"Mariska, Rian tunggu! Andini mengejar langkah kedua sahabatnya, tetapi Mariska terus menarik tangan Rian agar Andini tidak dapat mengejar langkah mereka.
"Mariska, Rian stop!"Andini menghalangi langkah kedua wanita itu.
Mariska langsung menatapnya dengan nyalang, sementara Rian hanya terdiam dengan wajah tegang.
"Mariska, Rian, Aku mau bicara sama kalian. please dengerin aku dulu."
"Kita nggak ada waktu!"
"Mariska, dengerin aku dulu!"Andini kembali menghadang langkah wanita itu.
"Kamu mau ngomong apa lagi? kamu mau ngomong kalau kamu sama Pak Dimas sudah bahagia, begitu? sergah Mariska, hati Andini terasa teriris ketika mendengar sahabatnya berbicara seperti itu.
"Mariska, kita berteman bukan setahun atau dua tahun. kita sudah berteman sejak SMA...
"Aku nggak peduli!"Mariska melepaskan tangan Rian dan berlari menuju kelas.
__ADS_1
Andini mengusap wajah dengan kasar, air mata Wanita itu sudah menggenang di pelupuk matanya.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah Rian yang masih berdiri di hadapannya.
"Rian, kamu mau dengerin aku kan?"suara Andini terdengar bergetar.
Rian hanya mengangguk yang membuat mata Andini langsung berbinar.
"Kita bicara di taman aja yuk!"Andini menyentuh tangan sahabatnya, tetapi saat melihat tak ada penolakan dari wanita itu, Andini menggenggam jemari sahabatnya dengan erat.
Wanita itu menarik tangan Rian agar mengikuti langkahnya menuju taman belakang.
Keduanya duduk di kursi batu yang berada tepat di bawah pohon yang rindang.
Andini menarik nafas perlahan sebelum berbicara.
"Rian, sebelumnya terima kasih karena kamu udah mau dengerin aku."Andini menatap sahabatnya dengan haru.
"It's oke Din. nggak seharusnya juga aku bersikap kayak kemarin ke kamu tanpa aku tahu apa masalah sebenarnya."
"Rian, aku sama Pak Dimas menikah karena dijodohkan. Waktu itu, kami berdua sama-sama tidak menerima pernikahan ini.
Hingga kami memutuskan untuk merahasiakan pernikahan ini dari siapapun, termasuk kalian."Andini menggenggam jemari sahabatnya.
"Oke, mungkin ini kamu anggap hal yang sangat privasi, Aku hargai ini. Tapi, kalau aku boleh tahu, Kenapa kamu nggak bisa menerima pernikahan kamu sama Pak Dimas? padahal si Mariska mati-matian buat dapatin hati dosen kita."Rian menatap sahabatnya dengan lembut.
"Tapi sekarang kamu udah sayang kan sama Pak?"
"Ya, sayang."Andini mengangguk perlahan.
"Kamu cinta kan sama Pak?"tanya Ryan kembali dengan wajah keponya
"Rian, apaan sih? seorang istri itu kan harus mencintai dan menyayangi suaminya."
"Cieeee.... banyak loh, kisah benci Jadi Cinta. aku tinggal menyaksikan kebucinan kamu dengan Pak Dimas setelah ini."Ryan tersenyum menggoda.
"Apaan sih? enggak ya, aku harus tetap jaga image."
"Kagak ada image, image an waktu sama si Bagas Kamu sepertinya bucin walaupun Di Antara Kalian tidak ada hubungan apa-apa. sampai upilnya aja kamu anggap mutiara."wanita itu terkekeh.
"Rian, ini fitnah jahanam namanya."Andini mendekat tubuh sahabatnya.
"Kenceng banget pelukannya, sudah Kak melihat suami saja."Ryan mengendorkan kedua tangan Andini yang mendekap tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
"Meluk suami mah lebih dari ini."
"Idih, pasti kamu sama Pak Dimas udah Nina ninu kan?"Ryan menoyor kepala sahabatnya.
"Jomblo nggak boleh nanya itu, nanti pikirannya travelling. Tidak ada yang menjadi pelampiasan."ucap Andini sambil terkekeh.
"Enggak apa-apa entar aku minta tutornya sama kamu."
"Heh, bloon! mau praktek sama siapa kamu?"Andini melepaskan pelukannya.
"Sama babang Herlan."
"Idih, ogah Aku punya kakak ipar bloon kayak gini."canda Andini.
"Ya, udah. nggak jadi baikan."Ran menyenggol lengan Andini.
"Iya, iya sorry. ntar aku salamin deh sama Kak Herlan."
"Nah, gitu dong, entar aku kasih tisu magic."
"Heh, apaan sih? suami aku udah perkasa tanpa pakai yang gituan."
"Iya sih, yang udah unboxing."
"Diam! ini pembahasan haram untuk jomblo wati kayak kamu."ucapkan dini sambil terkekeh.
"Sombong."
"Hahaha... kamu beneran udah maafin aku kan?"tanya Andini memastikan.
"Iya, Lagian kesalahan kamu ke aku apa sih sebenarnya!"Rian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lah, terus kamu kemarin judes aku, jutekin aku, itu kenapa?" Andini menatap heran ke arah sahabatnya.
"Aku cuman ikut-ikutan si Mariska doang."
"Dih, si kampret! kamu kalau ada orang masuk kuburan, kamu juga mau ikut masuk kuburan, gitu?
"Ya, enggak lah. aku juga masih punya pikiran kali." ucap Rian
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK.