
Beberapa pesan Whatsapp yang dikirimkan oleh Andini hanya centang dua warna abu-abu, menandakan pesan belum dibaca.
Andini menyeka air yang mengenang pada sudut matanya
Bunyi ponsel membuat gadis itu segera meraih kembali ponsel yang tadi ia letak di sampingnya.
Andini membuka pesan itu dengan mata berbinar.
Bagas : Oh, jadi kamu dijodohkan?semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah ya!"
"Bagas sssss!!!!! Andini melempar ponsel itu dan menenggelamkan wajahnya pada bantal. semuanya Mengapa membuatku kesal, tidak ada seorang pun yang mendukung ku."teriaknya frustasi
****
Pagi ini Andini memulai harinya dengan kegalauan, niatnya untuk mogok ngomong kepada orang tuanya masih belum berubah. bahkan tidak hanya untuk kedua orang tuanya semua penghuni rumah juga.
Andini tidak menghiraukan panggilan sang mama.
"Andini!"Panggil Nyonya Laras untuk yang ketiga kalinya. Namun, yang dipanggil tidak menyebut sedikitpun.
Andini tetap berjalan dengan langkah lebar akan keluar dari rumah itu. Nyonya Laras menarik nafas panjang sebelum kembali memanggil putrinya.
"Andiniiiiii!!!!
Pranggggg.....
sebuah vas bunga jatuh dan langsung pecah.
Andini menghentikan langkah dan membalikan badan yang menghadap sang ibu.
"Astaga, sangking kencangnya suara mama pas itu sampai jatuh."Andini menunjuk ke arah vas bunga yang kini hanya tinggal serpihan saja di atas lantai.
"Eh, kalau ngomong sama orang tua mulut itu dijaga. vas bunga Itu jatuh Bukan karena suara mama, tuh lihat pelakunya!"Nyonya Laras menunjukkan kerah kucing kesayangan Andini yang berdiri tak jauh dari vas bunga itu.
"Ngeles aja, Makanya jangan suka teriak-teriak kalau di rumah, suara wanita kan aurat,"ucap Andini sambil mengelus kucingnya yang manja. Ya Andini memang menyukai memelihara kucing. Bahkan ia sudah menganggap kucing sebagai temannya. Terkadang jika tidak ada yang mendengar curhatan hati Andini, ia lebih memilih curhat kepada sang kucing seolah-olah kucing itu memahami apa yang dibicarakan oleh Andini kepadanya.
"Ngomong aja kayak manusia beneran. Lihat tuh, penampilan kamu sudah seperti laki-laki, Mama teriak juga kan gara-gara kamu yang pura-pura budak."Nyonya Laras melipat lengan bajunya dan berjalan ke arah Andini.
"Memangnya Mama mau ngapain teriak-teriak?"nggak malu apa didengar tetangga Mama teriak-teriak melulu.
"Nggak tahu, Mama sudah lupa. Tapi sekarang mama mau mutilasi tuh kucing kesayangan kamu, Karena dia sudah menjatuhkan vas bunga kesayangan Mama. apa kamu tahu vas bunga Itu hadiah dari papa kamu."Nyonya Laras menunjuk ke arah kucing Andini.
"Paaaaa! lihat nih istri Papa sudah seperti psikopat,"teriak Andini sambil berlari keluar rumah membawa kucingnya.
"Opa, Andini titip kucingnya ya. Jangan sampai Mama menyentuh sedikitpun. Mama ingin memutilasi kucing kesayanganku ini."Andini meletakkan kucing itu ke pangkuan sang kakek yang sedang duduk di atas kursi roda menikmati matahari pagi berada di pekarangan rumah.
Setelah itu, Andini langsung meluncur dengan motor ninja miliknya menuju kampus. Seperti biasa stylish yang digunakan oleh Andini kaos oblong berwarna putih dipadukan dengan celana jeans sobek-sobek yang ada di lutut samping kiri kanan dan sepatu sport putih. Rambut di ikat ekor kuda, dan tidak lupa topi kesayangannya.
__ADS_1
Andini segera turun dari motor, matanya berbinar ketika melihat seseorang dari kejauhan sedang berjalan ke arahnya.
Bibirnya tersenyum full saat melihat Bagas berjalan semakin mendekat dengan gayanya yang cool.
Sebagaimana hari-hari biasanya, Bagas selalu menyambutnya dengan senyum lembut dan sapaan hangat.
Hati Andini seolah berbunga kembali, ternyata sohib dekatnya itu masih melakukan hal yang sama.
Setelah ini pasti ia akan berjalan dengan bergandengan tangan dengan Bagas masuk ke dalam kelas.
Andini merapikan rambutnya dan bersiap untuk menerima rangkulan hangat dari pria Tampan itu.
"Bagas...."Andini merentangkan tangannya.
"Hai sayang!"ucap Bagas sambil melewati Andini dan berhenti tepat di hadapan seorang gadis. Andini segera membalikkan badan, matanya membulat melihat Bagas menggandeng tangan seorang wanita teman satu kelasnya.
Sekali lagi kehancuran dirasakannya, walaupun di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa, hanya teman dekat saja. Tapi tetap saja Andini merasa sakit. Matanya mulai memanas, sekuat tenaga ia menahan tangis agar teman satu kelasnya yang kebetulan bernama Almira yang sedang menatapnya dengan angkuh tidak tertawa dan mengejeknya.
Andini segera membalikkan tubuhnya dan berlari kencang menuju kelas.
Brukkkk!
Tubuhnya menabrak seseorang yang baru keluar dari kelas.
"Andini iiii! pekik Darrel dengan suara yang melengking.
"Ups.....sorry Darrel, aku nggak sengaja."
"Makanya Andini, kamu jangan lari-lari mulu kayak kanguru, Mau sampai kapan kamu tidak berubah."cyber Darrel sambil memungut buku-buku yang berserakan di atas lantai.
"Biar aku banting kamu."
"Eh mulut kamu ya, dijaga."
"Sorry keseleo, maksud aku biar aku bantu kamu."Andini ikut memunguti beberapa buku yang masih berserakan di lantai.
"Kamu mau bawa ke mana sih, bawa buku sebanyak ini?"tanya Andini sambil menyerahkan buku yang ia pungut.
"Loh, nggak lupa kan, ini tugas dari dosen dan mau aku kumpulkan sekarang."
"Dosen siapa?".
"Pak Dimas.
"Beneran ini mau dikasih ke Pak Dimas?"Andini segera merampas semua buku itu dari tangan Darrel.
"Eh kamu mau ngapain?
__ADS_1
"Sudah, kamu tenang saja biar aku yang antar semua buku ini.".
"Kamu pasti modus, kan?"tuduh Darrel sambil menunjuk wajah Andini.
"Silent!"Andini segera melangkah dengan lebar menuju ruang dosen killer yang selalu saja mengejek dan mengolok-olok dirinya.
Andini menyusuri setiap ruangan yang bertuliskan Dimas Anggara. "Sial hafal betul nama dosen killer sekaligus calon suami itu."
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga dimas.
"Masuk! suara itu terdengar berat beban hidup yang akan dialami oleh oleh Dimas setelah menikah dengan gadis barbar seperti Andini.
Andini segera memutar kenop pintu yang masuk ke dalam ruangan itu dengan hati-hati.
Gadis itu melangkah dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi dari pantulan sepatunya.
Terlihat seorang pria sedang duduk di bangkunya sambil bermain ponsel pada genggamannya.
Bahkan Dimas tak mengangkat wajahnya sedikitpun ketika langkah Andini semakin mendekat.
"Permisi Pak. Saya mau mengumpulkan tugas dari bapak."Andini menaruh setumpuk buku itu di hadapan Dimas.
"Hmmm..."pria itu hanya menggumam Pelan dengan Tatapan yang masih fokus ke layer ponselnya.
"Ehem...."Andini berdehem agar Dimas melihat kerahnya.
Namun, pria itu seolah tak mendengar sedikitpun kode darinya.
"Ehemmm..."sekali lagi Andini berdehem dengan suara yang lebih keras, tapi pria di hadapannya seolah tuli.
"Ehemmm..... Ehem..... ehemmm"Andini memberikan triple deheman sekaligus yang membuat Dimas langsung mengangkat wajah dan menatapnya dengan datar.
"He he he ... Bapak ditunggu dari tadi baru nyadar kayaknya."Andini tersenyum kikuk sampai menunjukkan deretan giginya yang gimgsul.
Dimas menatap penampilan Andini yang tak kunjung berubah. Walaupun kedua orang tuanya sudah menjodohkan Andini dengan Dimas Anggara. Ia melihat Andini dari ujung kaki hingga ujung rambut, membuat Andini sedikit keheranan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN