
" Selamat datang di rumah kita kakak ipar." sambut adik perempuan Robin terlihat antusias ketika menyambut kakak iparnya.
"Gayamu itu dek, sudah kayak penjaga Swalayan saja. "celetuk Robert sambil melirik ke arah adiknya.
Sesuai perjanjian yang mereka buat sebelumnya, setelah menikah Mariska harus tinggal di rumah Robert.
Dengan berat hati, wanita itu mengemas barang-barang serta pakaiannya dan meninggalkan rumah beserta kedua orang tuanya.
Tak tanggung-tanggung, Mariska membawa tiga koper sekaligus yang terisi penuh oleh barang-barang dan juga pakaian miliknya.
Bahkan wanita itu membawa bantal dan gulingnya sendiri.
"Biar aku bantu Kak." wanita cantik itu mengambil dua koper milik Mariska.
Sementara itu coper satunya lagi dibawa oleh Robert.
" Eh, kalian sudah sampai? Robert! langsung bawa istrimu ke kamar. " ajak Ibu Halimah Seraya menjalankan kursi rodanya ke arah pintu.
" Mama jam segini udah nyuruh Ngamar aja. " pria itu terkekeh.
"Maksud Mama biar istri kamu istirahat. Kamu mikirnya apa sih!
"Kirain nyuruh bikin cucu."
" Robert! " geram Mariska dengan suara tertahan dan Gigi mengerat.
Rasanya ia ingin menjahit bibir suaminya yang selalu mengeluarkan kata-kata mengesalkan.
"Ya udah, kita ke kamar dulu kalau begitu. Robert menarik tangan Mariska agar mengikutinya menuju kamar.
"Aku bisa sendiri" Mariska melepaskan tangannya dari genggaman Robert.
"Ya, elah, Ris. Kita tuh harus terlihat so sweet di depan Ibu aku, biar dia nggak curiga kalau kita ini menyimpan rahasia besar. " bisik Robert."
"Ini kamar aku." Robert membuka pintu kayu berwarna coklat di hadapannya.
Mata dua orang itu membulat ketika melihat sprei dan bantal yang tertata rapi serta taburan bunga mawar merah berbentuk love di atas kasur yang berukuran tidak terlalu besar.
"Ini siapa yang buat? tanya Robert dengan tatapan yang masih tertuju ke arah kasur di dalam kamar tersebut.
"Aku !" jawab Cesi
Seketika Robert dan Mariska langsung menoleh ke arah wanita itu yang mendekat sambil menarik koper milik Mariska.
" Ini surprise buat pengantin baru. " ucap Cesi dengan mata berbinar.
Ini beneran Kamu yang buat Dek? tanya Robert kembali.
__ADS_1
"Of course!! wanita cantik itu mengangkat tangan dengan jemari yang berbentuk huruf O.
"Terimakasih, ya. Ternyata kamu kreatif juga. " Robert tersenyum Getir.
Nih kopernya kita taruh di sini aja ya. Timpal Cesi Seraya menaruh koper itu di dekat pintu kamar sang kakak.
Sekali lagi, terimakasih ya. Adik kakak yang cantik dan cetar membahana. By the way bunga ini kalian dapat dari mana?
Aku beli di depan TPU ujung sana
" Astaga! ini bunga kuburan dong. Robert Langsung melempar tatapan tajamnya ke arah adiknya.
"Selamat malam pertama Kak. " ucap cesi. lalu Ia meninggalkan Robert dan Mariska yang sedang menahan kemurkaan.
"Adik kamu kocak juga ya. mereka sekolah kelas berapa sih? " tanya Mariska setelah wanita cantik itu menghilang.
"Masih kelas 2 SMA. Dasar adik Durjana masa kakaknya mau malam pertama, malah dikasih bunga kuburan." kesal Robert Seraya menarik koper Mariska satu persatu masuk ke dalam kamar.
Setelah itu Mariska mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam kamar yang berukuran tidak terlalu besar itu.
"Robert, kasur kamu kecil banget. Kamu tidur di bawah ya!" tutah Mariska Seraya mengamati kamar yang didekorasi khas kamar pria dengan beberapa gambar pesepakbola.
****
"Kamu lihatin apa sih? sampai lupa ada suami disini. " tanya Dimas setelah menutup laptop dan meletakkannya ke atas nakes.
Dimas ikut merebahkan tubuh di samping sang istri yang sedang tidur dengan posisi terlentang.
Pria itu ikut melihat ke arah layar ponsel Andini yang menampilkan beberapa foto.
"Itu foto tadi?" tanya Dimas dengan mata yang memperhatikan foto tersebut.
"Iya Mas, Mariska sama Robert lucu ya. Mereka menikah kayak lagi praktek di sekolah. Andini terkekeh ketika memperhatikan gaya berpose sahabatnya yang telah menjadi suami istri itu.
Namun mata Dimas tertuju ke arah sebuah foto yang membuat dahinya mengerut.
" Coba lihat foto yang ini. Dimas mengklik foto tersebut dan menjadi besar sampai memenuhi layar ponsel istrinya.
Bahkan pria itu sampai men zoom bagian yang menurutnya mencurigakan.
"Ini apa? kok Bima pegang tangan kamu! " tanya Dimas kembali dengan sorot mata yang menajam ketika melihat tangan Bima memegang jemari istrinya.
Mata Andini membulat. Ia tidak tahu kalau saat Bima memegang tangannya tertangkap kamera.
"Ini..."
"Apa? mau ngelak lagi Ini? sudah jelas loh dia pegang tangan kamu!" suara Dimas mulai meninggi bahkan giginya terlihat mengerat.
__ADS_1
"Ini nggak sengaja Mas. " Elak Andini
"Enggak sengaja gimana? Memangnya ada orang yang tiba-tiba megang tangan tampa sengaja ? Jangan ngaco kamu! ini pasti ada hal yang kamu sembunyikan." Dimas merampas ponsel Andini dan langsung bangkit.
" Mas kembalikan ponselku. Aku sama Bima udah nggak ada hubungan apa-apa lagi kok. " Andini ikut bangkit dan berusaha mengambil kembali ponselnya.
" Aku nggak percaya sebelum aku periksa langsung ponsel kamu." Dimas turun dari atas ranjang yang langsung disusul oleh Andini.
" Mas balikin ponsel aku! kamu kenapa jadi posesif gini sih? ponsel aku nggak ada apa-apanya. " Andini mendekat dan berusaha merebut ponsel itu dari tangan Dimas.
"Kalau nggak ada apa-apanya, ya udah kamu diam. biar aku cek dulu."
"Enggak Mas. Balikin ih! Aku nggak suka ponsel aku dibuka-buka.
" Kenapa? kamu takut ketahuan kalau kamu sering chattingan sama dia?" tegas Dimas yang membuat wajah istrinya langsung memerah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku cuma nggak suka ajak ponselku di kotak katik sama kamu. " cepat balikin Andini berjinjit dan berusaha meraih ponselnya kembali.
" Enggak! aku mau cek dulu."
" Balikin Mas! "
" Enggak! "
" Balikin Mas!"
Prangggg!!!!!
Ponsel itu terjatuh ke atas lantai dan pecah.
" Ya Allah, ponselku! " teriak Andini ketika melihat ponselnya terjatuh dan mati total dengan layar yang pecah. Bibir wanita itu bergetar air mata mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.
Andini berjongkok dan mengambil ponselnya dengan mata yang kabur terhalang buliran bening yang mulai menetes dengan deras.
"Ini ponsel pemberian Opa, saat aku ulang tahun ." lirihnya dengan mata yang menatap ponsel itu dengan tatapan penuh kehancuran.
"Nanti aku ganti ." ucap Dimas Seraya kembali ke arah ranjang.
"Gampang banget kamu ngomong kayak gitu. Kamu nggak tahu betapa berharganya ponsel ini bagi aku. Di sini banyak kenangan yang aku simpan ." tangis wanita itu semakin pecah.
"Gampang! semua datanya tinggal dipindahkan saja ke ponsel yang baru. lagian itu juga salah kamu yang ngeyel.
Keduanya berdebat karena tiba-tiba Dimas melihat tangan Andini dipegang oleh Bima saat berfoto bersama di pernikahan mereka dan Robert.
BERSAMBUNG....
HAI HAI SEMUANYA JANGAN LUPA DUKUNG TERUS KARYA OUTHOR. DENGAN LIKE, COMEN, VOTE DAN HADIAHNYA YA
__ADS_1
TRIMAKASIH.