
Jauh dari suami membuat moodnya hancur, iya merasa Tak semangat melakukan hal apapun.
Hingga siang kembali berganti malam, seharian ini Dimas agak susah dihubungi.
Sekali mereka saling bertukar kabar hanya sebentar, karena pria itu cukup sibuk mempersiapkan semuanya.
Andini kembali bersemayam di balik selimut tebal dan memeluk boneka besar yang ia letakkan di sampingnya.
Berharap kali ini ia bisa bermimpi bertemu dengan suaminya.
Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Bahkan, untuk menemui pagi kembali rasanya seperti menunggu musim salju datang di negara tropis.
Beginilah rasanya jika sedang kasmaran dan berjauhan dengan orang yang sangat dicintai.
Satu detik saja terasa lebih lambat, seperti setetes air yang jatuh dengan perlahan dari atas langit.
Saat Sang fajar kembali memancarkan sinarnya, Andini bangkit dari atas kasur dengan ceria.
Wanita itu membuang nafas kasar, Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, rasanya ia sudah tak sabar untuk melangsungkan acara resepsi yang sudah direncanakan dengan matang.
Wanita itu terkekeh ketika mengingat waktu dirinya akan dinikahkan dengan Dimas, mengingat Bagaimana perjuangannya untuk kabur dan membatalkan pernikahan itu.
Hingga pada akhirnya ia tetap menikah dengan pria yang kini menjadi raja di hatinya.
Dua orang MUA sudah datang menghampirinya dan mulai memoles wajahnya dengan make up yang natural.
Kali ini Andini diam dan bersemangat untuk mengikuti arahan sang perias.
Tidak seperti di saat ia akan dinikahkan pertama kali, Bahkan ia sempat meminta sang perias yang merias dirinya dulu, membantunya untuk kabur.
Wanita itu disulap menjadi bidadari cantik, gaun pengantin berwarna silver dan berbagai pernak-pernik membuat penampilannya tampak anggun dan sempurna.
__ADS_1
Andini naik mobil bersama dengan keluarganya menuju gedung resepsi.
Sementara Dimas datang setelah ia tiba di gedung itu cukup lama.
Penyambutan pengantin pria dimulai, Nyonya Laras mengembangkan senyumnya menatap sang menantu telah datang.
Air matahari menetes dari pelupuk mata wanita itu.
Ia tak menyangka pernikahan yang sangat ia benci, akhirnya menjadi mimpi indah yang jadi kenyataan.
Dimas mengulurkan tangannya ke arah Andini, mata pria yang mengenakan jas berwarna silver itu senada dengan gaun yang dikenakan oleh Andini seolah tak berkedip, melihat ke arah sang istri yang nampak bak seorang bidadari.
Para tamu undangan yang menyaksikan itu dibuat terenyuh oleh pasangan pengantin yang saling bergandengan tangan menuju pelaminan.
"Kamu cantik sekali,"bisik Dimas yang membuat wajah istrinya langsung berubah menjadi merona.
"Mas juga ganteng banget,"balas Andini dengan senyum yang mengembang pada kedua sudut bibirnya.
Andini dan Dimas sudah berdiri di atas pelaminan, keduanya terlihat seperti raja dan ratu yang menempati singgasana.
Kebanyakan yang datang dari kalangan mahasiswa dan dosen, serta rekan bisnis Dimas dan orang tuanya. Kerabat dari keluarga Andini juga banyak memenuhi gedung itu.
Tak lupa pula, tetangga satu kompleks, bahkan satu kelurahan yang mendapatkan undangan dari Nyonya Laras ikut serta hadir.
Begitupun dengan teman arisan wanita paruh baya itu, pasalnya setiap perkumpulan arisan, Nyonya Lara selalu membanggakan menantunya yang seorang dosen muda dan juga tampan sekaligus pemilik kampus.
Tentu saja hal itu membuat rasa penasaran ibu-ibu arisan meronta dan mereka kompak hadir di acara resepsi putri dari temannya itu.
Beberapa rangkaian acara telah dilaksanakan, kini saatnya saya pasang pengantin itu saling memasangkan cincin kawin.
Cincin yang dulunya hanya tersimpan rapi di dalam kotak, sekarang dikeluarkan dan menjadi saksi pengikat hubungan Dua insan Yang sudah saling mencintai itu.
__ADS_1
Dimas memasangkan cincin itu pada jari manis istrinya dengan hati-hati.
Setelah itu, Andini juga melakukan hal yang sama memasangkan cincin pada jari suaminya.
fotografer juga sudah stand by, untuk mengambil setiap momen dari kedua mempelai tersebut. berharap telah ada yang mau mereka ingat, saat acara resepsi pernikahan mereka. Foto-foto itu kelak dapat membuat anak-anak mereka mengetahui bagaimana foto pernikahan sang orang tua.
Andini kembali meneteskan air mata haru, buliran bening mengalir dengan perlahan dari pipi Gadis itu yang dilapisi make up yang natural.
Dimas mengulurkan tangannya dan mengusap air mata sang istri dengan perlahan.
"Jangan menangis sayang, ini adalah hari bahagia kita."ucap Dimas dengan nada.
Andini mendekap tubuh suaminya dengan erat, tak mempedulikan suarakan para tamu yang menyaksikan adegan itu.
Banyak yang ikut terbawa perasaan ketika melihat Andini memeluk tubuh Dimas dan menyandarkan kepala pada bidang pria yang sudah sah menjadi suaminya Beberapa bulan yang lalu.
Serta Dimas yang mengecup pucuk kepala istrinya.
"Tidak! ini terlalu sweet Rian, dadaku terasa sesak."Mariska merentangkan tangannya seolah akan jatuh.
"Kamu kenapa? kamu penyakit asma? tanya Rian Seraya menepis tangan sahabatnya itu.
"Kamu ini apaan sih? Memangnya Sejak kapan aku terkena penyakit asma? hatiku terasa diremas lalu dilempar ke lautan ujung samudra."
"cie ileh lebay banget kamu. mending sekarang kita naik ke atas pelaminan dan mengucapkan selamat untuk Andini dan juga Pak Dimas."ajak Rian.
Kedua wanita itu tampak cantik dan anggun dengan balutan gaun yang memiliki warna senada. Karena mereka sudah janjian, menggunakan gaun yang sama di saat menghadiri pesta resepsi Andini dengan Dimas.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.