Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 209. BERTEMU ALENA KEMBALI


__ADS_3

"Ini sebuah kebetulan yang luar biasa. Selamat ya, Heri, Alena atas kelahiran anak pertama kalian.


"Sama-sama. Sepertinya istri kamu juga sedang hamil."Heri melihat ke arah Andini


"Iya, istriku juga sedang hamil. Doakan semoga lahiran dengan selamat. Anak kita nanti pasti berteman." ucap Dimas dengan senyum mengembang.


"Hahaha..... Iya, aku harap anak kalian perempuan supaya bisa dijodohkan dengan Rehan." Heri tertawa ringan


"Hahaha.... bisa aja kamu." Dimas ikut tertawa dan menepuk bahu sahabatnya.


Kedua pria itu terlihat asik berbincang. Tetapi Alena dan Andini tidak ada yang berucap sedikitpun.


Alena hanya terdiam. sama sesekali tidak bicara apa apa. Dia hanya menatap ke arah wajah putranya yang tertidur lelap. Begitupun dengan Andini, wanita itu terdiam dengan pikiran yang tak jelas.


Namun, ia merasa lega. Karena melihat Alena baik-baik saja. Karena kadang ia masih berpikir perihal foto itu.


"Ya sudah. Dimas, Selamat berbelanja. Kami sudah selesai, dan akan segera pulang." ucap Heri sambil menunjukkan sebuah plastik yang dipegangnya.


"Baiklah, hati-hati di jalan."


Setelah itu, mereka berpisah. Heri pulang bersama dengan Alena, begitupun dengan Dimas yang memilih aneka kue dan segera pulang setelah selesai berbelanja.


Setelah sampai di rumah, mereka mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa. Supaya besok tinggal berangkat saja.


"Malam ini, orang tua Bima menginap di sebuah hotel milik keluarga Anggara. Tetapi besok pagi mereka tetap akan berangkat bersama.


Dimas dan Andini tidur lebih awal, mempersiapkan energi untuk besok apalagi perjalanan besok cukuplah jauh.


Perjalanan dari ibukota ke Sumatera, bukanlah perjalanan yang singkat. Tetapi perjalanan yang akan mereka jalani dari Jakarta menuju Brandan cukup menguras tenaga. Karena perjalanan mereka menuju rumah orangtuanya Bima, bukan hanya melalui darat saja. Mereka harus terlebih dahulu melakukan perjalanan melalui jalur udara.


Hingga matahari telah kembali memancarkan sinarnya di pagi hari. Mereka sudah bangun dan bersiap untuk berangkat.


Sebenarnya Dimas merasa malas harus pergi ke rumah Bima. Namun, demi menghargai orang tua adik iparnya itu, ia terpaksa harus pergi.


Dimas dan Andini duduk di kursi bagian depan mobil. Sementara Anggara duduk di kursi belakang, mereka menuju bandara.

__ADS_1


Begitupun dengan Bima dan Erin yang ikut bersama mobil orang tuanya.


Kebetulan hari ini juga Ricky dan orang tuanya pulang ke Brandan untuk mempersiapkan pernikahan Ricky dan Nisa yang telah disepakati akan dilaksanakan beberapa hari ke depan.


"Kamu jaga kesehatan, ya. Sepertinya beberapa hari ke depan cukup banyak acara." ucap Dimas saat mereka telah melakukan setengah perjalanan.


"Acara apa Mas?" tanya Andini sambil menatap ke arah suaminya yang fokus menyetir.


"Iya acara hajatan Bima dan Erin. Begitu juga dengan Ricky dan Nisa. Aku khawatir Kamu kecapean." Dimas melirik ke arah istrinya.


"Kamu tenang saja, Mas. insya Allah aku dan anak kamu tetap sehat." Andini mengusap perutnya.


"Amin! pokoknya kalau ada keluhan apa-apa langsung bilang ke aku, jangan diam aja."


"Siap Big Bos." Andini merangkul lengan Dimas dan menyandarkan kepala pada bahu pria itu.


"Ehem .. suara deheman dari kursi belakang, membuat Andini buru-buru menanggalkan kembali kepalanya dan duduk dengan tegap.


"Eh Papa, mau minum Pa?" tanya Dimas sambil melihat wajah sama ayah dari pantulan kaca spion.


"Tidak! papa mau nikah saja." balas Anggara yang membuat mata Andini dan Dimas seketika membulat.


"Sama janda bohay di depan rumah." jawab Tuan Anggara membuat Andini hampir memecahkan tawanya.


"Oh mantan istri Pak Rahmat!"tebak Dimas


"Bukan Pak Rahmat, tapi Pak Mahmud." balas Anggara kembali.


Andini menutup mulutnya menahan tawa,


Ketika mendengar ucapan Dimas, wanita itu tertawa sambil menutup mulut agar tidak terlalu berisik.


"Pa lihat menantu bapak! ketawa sambil nutup mulut, kayak orang nggak punya gigi aja." celetuk Dimas sambil melirik ke arah istri.


"Apaan sih, Mas. Aku tutup mulut biar nggak berisik." protes Andini yang masih tertawa.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? biasanya juga kamu ketawa berisik banget kayak terompet tahun baru."


"Ini kan ada, Papa. Takut keganggu."


"Tidak apa-apa, malah Papa senang kalau mendengar menantu Papa tertawa. Orang hamil itu harus selalu happy biar anaknya juga sehat." balas Anggara.


"Untung Aku selalu membahagiakan istriku." celetuk Dimas sambil merangkul tangannya sebelah ke arah Andini.


"Mas ih, kalau nyetir pakai dua tangan." Andini melepaskan tangan Dimas dan mengarahkan kembali tangan kekar pria itu pada setir mobil.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam menuju bandara. Akhirnya mereka tiba di sana. Keluarga Pak Karyo, dan keluarga Anggara langsung menuju ruang tunggu.


Setelah bagian informasi memberitahu, kalau pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera terbang ke Bandara Kualanamu, Keluarga besar Karyo dan juga Anggara langsung menuju pesawat yang akan segera menghantarkan mereka ke Sumatera.


Dimas sudah meminta kepada salah satu anak buahnya untuk membawa kembali mobil miliknya pulang ke rumah pribadi milik Dimas. Sementara mobil yang ditumpangi oleh keluarga Bima, juga sudah dibawa oleh asisten Dimas ke rumah utama keluarga Anggara.


***


Setelah mereka tiba di Bandara Kualanamu, dua mobil kijang Innova sudah datang menghampiri keluarga besar Anggara dan juga karyo.


"Tuan Dimas Anggara?"tanya seorang pria yang baru turun dari mobil kijang Innova itu.


"Iya saya Dimas!"ucap Dimas sambil langsung mempersilahkan pria itu mengangkat barang bawaan mereka masuk ke dalam mobil.


Pak Karyo merasa heran, melihat Dimas dikenal di Bandara Kualanamu.


"Perjalanan kita masih lumayan jauh nak, kita masih harus melakukan perjalanan selama kurang lebih dua jam menuju pangkalan Brandan."Pak Karyo memberitahu.


"Iya Pak, saya tahu. Sehingga saya meminta kepada mereka untuk segera menghantarkan kita ke sana."


"Kok bisa? tanya Pak Karyo dan ibu Sulastri keheranan.


"Namanya juga Sultan."celetuk Ricky yang baru datang menghampiri mereka.


"Sayang, Papa sudah mempersiapkan mobil untuk kita menuju rumah kamu."ucap Nisa kepada Ricky. Ricky menatap Nisa dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah mobil kijang Innova juga datang menghampiri mereka. "Tuh dia sayang, mobil yang akan menghantarkan kita ke kampung Kamu."ucap Nisa sambil menunjukkan sebuah mobil kijang Innova berwarna hitam.


Ricky pun perlahan menjauh dari Dimas, mereka meninggalkan keluarga besar Anggara dan juga Pak Karyo di sana. Dia langsung memboyong kedua orang tuanya masuk ke dalam mobil kijang Innova yang sudah dipersiapkan Tuan Arnold sebelumnya.


__ADS_2