
Setelah itu keduanya mendekat ke arah Sintia yang telah membawakan beberapa gaun cantik. Tentu saja Dimas memilih gaun yang paling tertutup untuk istrinya walaupun Andini kurang menyukainya.
Namun, apalah daya jika sang raja yang meminta.
Setelah memilih gaun dan texedo yang akan dikenakan keduanya pada malam ini, Dimas kembali menjalankan mobilnya ke arah sebuah salon.
Meskipun sebenarnya ia tidak mengetahui salon terbaik itu di mana, tapi ia memilih satu salon dengan rating terbaik menurut Map
Setelah tiba di tempat itu. Dia masuk langsung dengan Istrinya ke dalam sana. yang terlihat cukup mewah dari luar
Seorang yang mengenakan rok mini dan prospektif menghampiri mereka dengan gaya yang melanggak lenggok.
"Welcome to our salon,"ucapnya dengan tangan melambai tetapi lengannya cukup berotot.
Dimas mengerutkan keningnya ketika mendengar orang yang entah bagaimana jenisnya itu.
"Dia laki-laki atau perempuan?" tanya sedikit berbisik
"Saya spesies langka." balas orang itu kembali dengan suara bariton yang dibuat sok imut.
"Perasaan tadi aku ngomongnya kecil deh, Tapi kok masih kedengaran sama dia?" bisik Dimas kembali yang membuat Andini tertawa kecil.
Ini namanya, baru pria bukan wanita bukan. Intinya pria jadi-jadian. Kan Mas dulu ngatain Andini wanita jadi-jadian. Nah kalau yang ini baru benar pria jadi-jadian." ucap Andini sambil terkekeh.
"Yuk masuk Mas ganteng, mau medicure pedicure, Meri siap melayani." pria gemulai itu mendekat ke arah Dimas dan mencolek dagunya yang membuat Andini langsung membulatkan matanya.
"Aw, jenggotnya geli-geli manja." ucapnya kembali sambil mengibaskan rambut palsu yang dikenakannya sampai sedikit melorot.
"Astaga! hampir aja botaknya Ekei kelihatan." pria gemulai itu atau pria jadi-jadian itu kembali membenarkan wig-nya membuat Dimas dan Andini tertawa seketika melihat tingkah manusia di depannya itu.
"Kirain rambut asli." ucap Andini.
"Rambut asli adanya di bawah, siapa nih yang mau perawatan di sini? yuk." pria bernama Meri itu menunjuk ke arah Andini dan Dimas dengan jari telunjuknya, yang sengaja dibuat lentik.
"Istri saya, tapi saya mau wanita aja yang merias istri saya." ucap Dimas
"Oh, apa Mas ini laki-laki? Meri berkata dengan suara yang mendesah dan membuat Andini langsung menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Tapi kan kamu...."
"Tenang saja Mas, Eike sudah lupa Gimana rasanya perempuan. Meri mengedipkan matanya bak orang cacing kepanasan.
"Sayang kita cari salon yang lain aja yuk!" ajak Dimas yang membuat mata merin membulat sempurna.
"No no no, setiap everybody yang datang ke sini tidak boleh keluar sebelum berubah menjadi Cinderelli
"Cinderella woi sangkal Andini.
"Nah icuh, sorry bibir seksi Eika sudah kepeleset ucap Meri sambil menggerakkan Bibir bawahnya dengan lemas.
__ADS_1
"Untung cuman kepeleset, bukan terkilir timpal Dimas.
"Kalau terkilir, bahaya dong Mas! yuk lah, come on cin!" Meri menarik tangan Andini dengan kasar.
"Astagfirullah Bang Meri, kasar banget. Andini melepaskan tangan kekar yang memegang lengannya.
"Ups sorry, tadi kondomnya keluar."
***
Setelah beberapa lama di salon itu Andini sulap menjadi seorang putri.
Make up yang sempurna serta gaun cantik yang dikenakannya membuat istri dosen itu terlihat bak putri raja.
Mereka berangkat ke Hotel setelah segala persiapan selesai.
"Masya Allah cantiknya istriku." ucap Dimas dengan mata yang tak lepas menatap ke arah istrinya.
Andini mengenakan gaun berwarna silver dengan panjang yang menjuntai Sampai menutup Mata kakinya, serta lengan panjang dan dada yang tertutup.
Sesuai gaun yang di request oleh Dimas. Namun, gaun dengan manik-manik yang menghiasi bagian dada itu tetap terlihat cantik dan anggun.
Tak lupa pula rambut Andini yang ditata rapi membuat penampilan wanita itu semakin terlihat berbeda.
Dimas tak henti-hentinya memuji kecantikan sang istri. "Aku jadi tak rela kalau kamu dilihat banyak orang." ucap Dimas masih dengan Tatapan yang tertuju ke arah sang istri.
"loh kok gitu Mas? kan kamu sendiri yang mau minta aku dandan seperti ini."
"Jangan kuatir Mas, aku cuman tertarik sama kamu doang kok. Andini menunjukkan senyum terbaiknya.
"Ya udah, nanti di sana kamu tidak boleh jauh dari aku sejengkal pun." Dimas menggandeng tangan istrinya untuk menuju mobil.
"Jangan terlalu lebay Mas. Yang ada tuh nanti Banyak yang naksir sama kamu. Andini menatap ke arah suaminya yang mengenakan texedo yang memiliki warna senada dengan gaun yang dikenakannya.
"Tidak mungkin lah. Sekarang kita berangkat, nanti malah telat." Dimas membuka pintu mobil untuk istrinya.
Setelah itu, keduanya langsung melaju ke arah hotel yang baru pertama kali didatangi oleh Andini. Walaupun sebelum membeli Hotel itu dari teman Dimas, Dimas memberitahu Andini, tapi Andini belum pernah sama sekali ke sana.
"Pasti banyak tamu yang datang ya, Mas?
"Lumayan, aku juga mengundang Mama dan Papa kamu. Kak Herlan dan Rian. Papa aku dan juga Erin serta beberapa teman aku dan juga teman kamu juga." jelas Dimas.
"Wah Mama sama Papa juga akan datang Mas?" tanya Andini dengan mata berbinar.
"Tentu dong Sayang, ini kan acara spesial kita. orang tua harus hadir."
"Aku senang banget deh Mas, pasti Mama semakin bangga punya menantu kayak kamu. Mampu membeli Hotel walaupun tidak sebesar hotel-hotel milik orang lain." ucap Andini yang ia kira Hotel itu hanya kelas melati saja.
"Jangan terlalu memujiku sayang, nanti aku sombong."ucap Dimas sambil teri Kekeh
__ADS_1
Mobil mereka terus melaju sampai tiba di sebuah bangunan yang terlihat gemerlap oleh lampu dari luar.
Tempat itu sudah ramai, bahkan tempat parkir hampir dipenuhi oleh mobil dan motor Tamu yang datang ke sana.
Dimas memarkirkan mobilnya di tempat yang pas, dan membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Andini melihat ke arah hotel yang dibeli dan direnovasi oleh suaminya. Yang ternyata Hotel itu sangat besar sungguh tidak mungkin menurut Andini kalau Dimas mampu membeli Hotel sebesar itu.
"Mas, ini Andini tidak salah, nanti Mas salah tempat, apa memang ini hotelnya?
"Astaga! sayang, Mas belum lupa ingatan memang inilah Hotel kita."
"Jadi beneran Mas ini hotelnya?
"Wow.... besar banget ya, Mas. Andini kira hotelnya kelas melati saja.
Dimas hanya tersenyum dia memilih untuk tidak menjawab istrinya.
"Mas, nama hotelnya memang Andini Hotel?
"Iya, sayang. Memangnya kamu keberatan?"
"Bukan begitu Mas, tapi kenapa kamu menamai nama hotel ini, Andini hotel?
"Karna kamu itu istriku, dan aku sangat mencintai kamu dan agar semua orang tau kalau kamu itu milikku." sahut Dimas sambil memberikan kecupan hangat di kening Andini
Andini benar benar tidak menyangka. suaminya sampai segitunya mencintai dirinya, sampai sampai hotel yang baru di beli suaminya di beri nama."Andini Hotel" yang merupakan nama Andini sendiri.
Mereka disambut hangat oleh para pelayan dan pekerja di hotel itu.
Hampir semua mata tertuju ke arah sepasang suami istri itu, yang berjalan dengan tangan yang saling bergandengan.
Andini membuang nafas lega, ketika ia melihat kedua orang tuanya serta beberapa orang yang ia kenal. Artinya di tempat itu ia tidak merasa sendirian dan asing.
"Mas kita samperin Mama sama Papa dulu yuk." ajak Andini sambil menarik tangan Dimas ke arah kedua orang tuanya.
"Selamat malam Ma, Pa, Terima kasih sudah datang." ucap Dimas sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Selamat ya nak Dimas. Mama sama papa ikut bangga dan bahagia atas opening hotel ini." ucap Nyonya Laras dengan senyum ramahnya.
"Iya nak Dimas, semoga lancar selalu ya." timpal Tuan Miko Pratama.
"Terima kasih Ma, Pa, ini juga berkat dos baik dari kalian." balas Dimas yang tidak pernah memudarkan senyum ramah pada wajahnya ketika berhadapan dengan kedua mertuanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"