
Beberapa rangkaian acara telah dilewati, siang telah berubah menjadi malam.
Pesta pernikahan yang mewah Telah usai. semua tamu undangan telah meninggalkan gedung pesta, termasuk sepasang suami istri yang telah meresmikan hubungan mereka di depan umum.
Hari ini Dimas dan Andini menjadi orang yang paling bahagia, keduanya tak henti-henti mengembangkan senyuman.
Dimas membawa istrinya menuju hotel. Dimas membawa istrinya menuju hotel bintang lima yang telah dipesan secara khusus.
Senyum Andini kembali mengembang, Ketika keduanya telah berada di dalam kamar dan dekorasi khas kamar pengantin baru.
Taburan mawar di atas kasur king size, seolah menjadi sesuatu yang tidak boleh terlewatkan untuk tempat tidur pengantin baru.
Wanita itu menatap kagum ke seluruh penjuru kamar yang terlihat mewah, Ia tak menyangka ternyata suaminya benar-benar menyiapkan segalanya.
"Aku punya hadiah untukmu, Sayang."Dimas menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado.
"Hadiah apa, Mas? Andini mengambil kotak itu dengan mata berbinar.
"Buka saja!" titah Dimas dengan bibir yang tersenyum tipis.
Andini segera membuka kado itu dengan tak sabar.
Netranya membulat ketika melihat isi dari kotak tersebut.
"Ini apa, Mas?"Andini mengambil isi kado itu dan mengangkatnya.
Sebuah linkrey berwarna putih. Andini menatap ngeri ke arah kain tipis itu.
Selama ini, ia tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu, membayangkannya saja ia tak sanggup.
"Pakai ya!"pinta Dimas dengan tatapan lembutnya
"Hah! pakai? Aku pakai yang beginian? ih nggak mau. Mas saja yang makai!"Andini menyerahkan linkrey itu ke pangkuan suaminya.
"Jangan ngaco kamu. Mana mungkin Mas pakai baju beginian." ucap Dimas
"Kan, Mas yang beli. Iya Mas yang pakai lah."Andini terkekeh. Pikiran nakalnya langsung membayangkan Dimas yang memiliki tubuh kekar memakai lingerie berwarna putih itu.
"Tapi aku sudah memberikannya sama kamu. berarti kamu yang harus pakai."Dimas menyerahkan kain itu kembali ke pangkuan Andini.
"Lagian, Mas ada-ada aja pakai beli yang beginian. Aku nggak akan cocok Mas, baju apaan ini? yang ada aku malah masuk angin memakai baju ini."Andini memperhatikan kain tipis itu.
"Bukan aku yang beli baju itu."
"Lah, terus siapa dong? masak papa."
"Erin."
"Apa? mata Andini membulat.
"Aku cuman nyuruh Erin buat membelikan gaun tidur untuk kamu. Tahunya dia malah beli yang kayak beginian. Ya udah pakai aja! atau nanti aku bilang sama Erin kalau kamu nggak mau pakai baju yang dia pilih. Nanti dia pasti marah."
__ADS_1
"Ya sudah, aku pakai!"Andini membawa lingerie itu ke dalam kamar mandi.
Dimas terkekeh ketika melihat tingkah istrinya.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi itu terbuka lebar.
Andini keluar dengan menggunakan lingerie tadi. Kulit putihnya sangat kontras dengan lingerie berwarna putih, apalagi Andini menyukai warna putih. Kain tipis itu membuat lekuk tubuhnya semakin kontras.
Dimas terdiam sesaat. Matanya hampir tak berkedip, susah payah ia menelan Salivanya
Andini mengibaskan rambutnya dan berjalan sambil meliukkan tubuhnya.
Dimas segera mendekat. Dan tanpa basa-basi langsung mengangkat tubuh sang istri.
"Astaga! Mas Mau ngapain? teriak Andini Seraya menggerakkan kedua kakinya.
"Mau mengeksekusi kamu. Sudah selesai kan, datang bulannya?"tanya Dimas sambil berjalan ke arah kasur.
Andini hanya terdiam dengan wajah merona, ia sudah dapat menebak Apa yang dimaksud suaminya.
Dimas menurunkan tubuh istrinya dengan hati-hati ke atas kasur.
Lingerie yang dikenakan Andini menyingkap ke atas, sampai memperlihatkan paha mulusnya yang tanpa celah.
Dimas semakin beringas, pria itu segera membuka pakaian dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh keduanya.
"Kamu sudah siap? tanyanya dengan sorot mata lembut
Melihat itu, Dimas tersenyum dan meminta Andini untuk membaca doa terlebih dahulu.
Setelah itu, ia mulai mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan di dahi sang istri dengan lembut.
Kecupan itu turun ke Area kelopak mata sang istri, dan turun lagi pada pipi Gadis itu yang merona. Sampai berhenti pada pelabuhan pucuk ranum yang seolah menjadi candu.
Dimas meraup bibir manis sang istri.
Andini membuka kedua bibirnya, membiarkan sang suami mengabsen setiap Inci rongga mulutnya.
Keduanya berpagutan cukup lama, saling menukar rasa dengan suasana yang kian memanas.
Tangan pria itu mulai bergerak nakal, memegang anggota tubuh sang istri yang menjadi favoritnya.
Dimas cukup lihai memberikan rangsangan, sampai sang istri merasa melambung ke udara bersama kenikmatan.
Setelah merasa tubuh istrinya tidak lagi tegang, pria itu membisikkan sesuatu.
"Maaf, Aku tak ingin melukaimu. Pukul lah punggungku Jika kamu merasa sakit ya sayang."Andini hanya mengangguk pasrah.
Setelah itu, Dimas mulai memasukkan pusakanya ke dalam mahkota sang istri yang masih rapat.
Pria itu melakukannya dengan hati-hati karena takut sang istri terluka.
__ADS_1
Namun, tetap saja, suatu hal yang pertama kali dilakukan tidak akan semulus yang sudah terbiasa.
Andini mencengkram sprei saat merasakan sesuatu menusuk Salah satu bagian tubuhnya.
Dimas menautkan jemari mereka dan kembali memberikan rangsangan agar sang istri tidak merasa tegang.
Dorongan itu semakin kuat, hingga bentang besar yang menjadi pertahanan sebuah mahkota hancur.
Sebuah perisai telah menemukan pelabuhan tempatnya bersemayam.
"Sakit?"tanya Dimas setelah merasakan perusakannya menghancurkan karang besar yang menjadi benteng pertahanan sang istri.
Andini hanya terdiam dengan senyum yang mengembang.
Dimas mengusap air mata yang mengenang pada sudut mata sang istri.
Setelah itu, ia mengecup lembut pucuk ranum yang telah menjadi candu baginya.
"Maaf kalau ini terasa sakit. Mas, akan membawamu ke atas puncak kenikmatan. aku mencintaimu sayang."ucap Dimas dengan nada lembut.
Andini kembali mengembangkan senyuman dengan air mata haru.
Ini pertama kalinya Dimas mengucapkan kata itu.
"Sayang kenapa kamu menangis?
"Mas aku sayang kamu."Andini mengalungkan tangan pada leher suaminya, keduanya menatap dengan dalam menyatukan raga yang diiringi dengan rasa.
"Sayang."ucap Dimas dengan suara sensual.
Pria itu mulai menjalankan kembali pelayaran mereka dengan dayungan yang semakin lama semakin cepat.
Ritme gerakan keduanya mengelilingi degup jantung dan aliran darah yang kian berdesir, membuat rasa semakin membuncah.
lenguhan dan d3$@han terdengar menggema di dalam ruangan yang kedap suara itu.
Andini mulai menyeimbangkan permainan suaminya, ketika sakit yang ia rasakan telah berganti dengan kenikmatan.
Sebuah pelabuhan Telah menanti, Ketika sang perahu sedang berdayung di lautan madu.
Suasana kamar di hotel itu kian memanas, tatkala kedua insan saling bertukar peluh, beriringan dengan serangan dan lenguhan kenikmatan yang kian membuncah.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.
__ADS_1