
"Kakimu terluka, kita harus segera ke rumah sakit untuk mengobati lukamu. Kalau tidak, bisa infeksi nanti." ujar Dimas kepada istrinya yang sudah tampak merintih kesakitan.
Dimas membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Bapak mau ngapain?" tanya Andini dengan wajah yang terlihat kaget bercampur takut, ia Kwatir sang dosen melakukan sesuatu yang membuatnya akan trauma
"Pakai kemeja saya. Lihatlah, baju kamu sudah tak layak pakai." Dimas membuka kemejanya dan memakaikan kemeja itu kepada tubuh istrinya dengan hati-hati, dan mengancingkan kembali ke meja itu sampai tubuh istrinya tertutup rapi.
Andini terdiam dengan mata yang menatap ke arah wajah Dimas, jika sedang berlaku lembut seperti ini, kadar ketampanan suaminya itu semakin bertambah. Membuat jantung Andini berdegup kencang
Terlebih lagi, kini Dimas hanya mengenakan kaos tipis berwarna hitam dan membuat otot dan dada bidang sang suami serta perut kotak-kotaknya terbentuk jelas.
Setelah itu, Dimas mengangkat tubuh istrinya dengan hati-hati, dan membawa tubuh yang ia anggap ringan itu, keluar dari dalam bangunan tua itu, yang membuat istrinya hampir kehilangan keperawanannya.
"Pak, ada yang lihat kita Ngak?"
"Ada,"jawab Dimas santai.
Andini mengalungkan tangan pada leher Dimas, dan menyembunyikan wajahnya pada Dadang bidang pria itu.
"Siapa Pak?" tanya Andini kembali tanpa menjauhkan wajahnya dari dada sang suami.
"Allah,"jawab Dimas membuat Andini langsung mengangkat kepala dan menatap ke arah wajah suaminya.
Tetapi ia malah salah fokus sama hidung mancung dan bibir seksi Dimas, yang nampak terlihat indah dari bawah membuat Andini terpesona.
Dua anggota tubuh itu terlihat bak pahatan sempurna. Suasana di kampus sudah sangat sepi, para dosen yang tadinya mengadakan meeting di ruang meeting sudah pada pulang.
Bahkan di parkiran hanya tinggal mobil Dimas yang terparkir."
"Pak, Saya turun saja, ya."mohon Andini saat Dimas membawanya menuju parkiran. Ia takut ada orang yang melihat dirinya digendong oleh dosen yang mempunyai cukup banyak penggemarnya itu.
Apalagi kalau Mariska tahu, pasti sahabatnya itu akan seperti cacing kepanasan.
"Turun bagaimana? Memangnya kamu bisa jalan? lihat tuh, kaki masih luka berdarah-darah lagi. Kamu mau jalan Bagaimana sampai ke mobil?" ucap Dimas tanpa menghentikan langkahnya.
Andini terdiam. Ia hanya menatap suaminya dengan Tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Setelah tiba di dekat mobilnya, Dimas segera membuka pintu mobil dan mendudukkan tubuh sang istri dengan hati-hati.
"AW!"pekik Andini saat kakinya yang terluka sedikit terbentur di dalam mobil.
"Sebentar!" Dimas segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Jangan biarkan kakimu menggantung nanti darahnya Kembali keluar dan lukanya semakin menganga!" ucap Dimas seraya mengangkat kaki Andini, Dan meletakkan kedua kaki Andini di atas paha Dimas. Tak peduli darah pada luka sang istri mengotori celana yang ia kenakan.
Andini perlahan menggeser tubuhnya menjadi menghadap ke arah Dimas. Andini sungguh tak menyangka suami dengannya itu sangat perhatian terhadapnya.
Bahkan Dimas tidak peduli dengan celananya yang sudah kotor. Karena kaki Andini terluka dan darahnya menetes ke celananya.
"Tidak apa-apa. Kalau kaki sedang terluka itu Jangan dibiarkan menggantung. Apalagi luka kamu cukup besar, takut kalau robeknya makin terbuka." Dimas menjelaskan Seraya menjalankan mobilnya meninggalkan kampus.
"Tapi Ini kaki saya beneran sakit banget. Andini meringis kesakitan menahan perih pada kakinya.
"Kamu tahan ya, kita sebentar lagi akan sampai di rumah sakit." Ucap Dimas sambil memegang tangan Andini, berusaha untuk menenangkan sang istri.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Dimas menghentikan mobilnya lalu segera turun dan kembali menggendong tubuh istrinya, masuk ke dalam rumah sakit.
"Kamu nyaman banget ya bersembunyi pada dada saya."Celetuk Dimas membuat Andini langsung mengangkat kepala dan menatap suaminya dengan mata membulat.
"Sudah, jangan banyak bicara. Kita obatin kamu sekarang." sambung Dimas sebelum istrinya berucap."
"Dok tolong obatin luka istri saya." Pintar Dimas kepada seorang dokter yang langsung menuntunnya ke sebuah ruangan.
"Kok bapak bilangnya istri saya, sih? protes Andini.
"Jadi saya harus pakai apa? kamu kan, memang istriku. Masa bilang, dok... tolong obatin luka mahasiswa."Dimas meralat ucapannya.
"Nah itu terdengar lebih enak." jawab Andini.
Hanya di kampus kamu menjadi mahasiswa saya. Tapi di luar itu, kamu adalah istri saya."sahut Dimas penuh dengan penegasan.
Dimas masuk ke dalam ruangan dan merebahkan tubuh Andini di atas branker yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
"Mari saya periksa!" seorang dokter mendekat ke arah Andini dan mulai memeriksa luka pada kaki Andini yang menganga.
__ADS_1
Robekan pada telapak kakinya cukup dalam dan lebar. kita harus jahit lukanya ya, pak." ucap sang dokter kepada Dimas. Membuat Andini membulatkan matanya.
"Iya nggak apa-apa, Dok. jahit saja." sahut Dimas menyetujui.
"Memangnya kaki saya ini baju apa? main jahit aja." gerutu Andini dengan kesal.
sang dokter mendekat dengan beberapa alat dan mulai membersihkan luka Andini.
"Aw... sakit! teriak Andini merintih kesakitan ketika merasakan perih pada kakinya.
"Nona cantik, Jangan bergerak dulu, ya. Saya akan menjahit lukamu." dokter itu mulai mengambil alat penjahit luka.
"Dokter, bisa nggak tidak perlu dijahit luka saya." pinta Andini dengan wajah memelas bercampur ketakutan.
"Tidak bisa! jahit saja dokter." titah Dimas yang membuat Andini kembali menatap tajam ke arah suaminya.
"Bapak ini kenapa sih?" senangnya melihat saya kesakitan?"
"Bukan begitu istriku sayang, kalau tidak dijahit lukanya pasti akan terbuka terus, dan lama sembuhnya. Bahkan bisa menyebabkan infeksi." terang Dimas. Entah mengapa tiba-tiba saja Dimas mengucapkan kata-kata sayang kepada Andini. Padahal Andini selama ini tidak pernah mendengarkan kata-kata itu dari mulut suaminya.
Benar sekali, oleh karena itu lukanya harus segera dijahit sang dokter memegang kaki Andini dengan alat jahit pada tangan kanannya.
Andini terdiam dan memejamkan matanya. Ia hanya pasrah dokter melakukan apa terhadap kakinya.
sang dokter mulai menjahit luka Andini dengan hati-hati.
"Mama......sakit ..." teriak Andini seolah memenuhi seisi rumah sakit, bahkan beberapa orang yang ada di luar ruangan Sampai menutup telinganya ketika sebuah suara yang terdengar bagaikan petir memenuhi indra pendengaran mereka.
Setelah luka Andini selesai dijahit dan diobati, Dimas langsung membawa istrinya kembali ke dalam mobil.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1