Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 150. MODE NGAMBEK


__ADS_3

"Setelah ngasih jam tangan di saat ulang tahun dia, terus Kalian ngapain?"cacar Rian yang membuat Herlan terkekeh pelan


"Astagfirullah. Ingat terus, padahal ini sudah beberapa jam yang lalu."Herlan menepuk dahinya sendiri.


"Sampai kapanpun aku akan tetap ingat, bahkan sampai mati."


"Astagfirullah, ini mulut."Herlan mencomot bibir tipis istrinya.


"Sudah, buruan cerita!


"Iya iya, sini dulu! nanti aku cerita."Herlan menepuk lengan berototnya agar Rian merebahkan kepalanya di sana.


"Nggak mau, kamu nggak pakai baju. Bau ketek!"


"Masa? wangi begini."Herlan mengendus keteknya sendiri.


"Idih, Abang jorok banget ih!"


"Cie ...manggilnya sudah Abang lagi."Herlan tersenyum menggoda.


"Buruan cerita! kalau nggak...


"Kalau nggak apa?


"Kalau nggak ya, udah aku mogok ngomong."


"Memangnya bisa? bibir tipis kayak gini mau mogok mau ngomong."Herlan kembali menyentuh bibir istrinya sambil terkekeh.


"Cerita nggak?


"Iya cerita. Jadi begini, dulu aku memang memberikan jam tangan itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Larissa. Karena aku nggak bisa ngasih dia mobil ataupun pesawat."Rian langsung menatap suaminya dengan kesal karena jawaban itu bukan yang di inginkan Rian membuat dahi Rian mengerut.


"Terus! ditanya Rian dengan cepat


"Terus, abis itu kita makan di Cafe."


"Setelah itu?


"Setelah itu aku bayar walaupun tanggal gajian masih lama."


"Terus?"


"Kalau terus terus, ya nabrak Rianti!!


"Mas ihk!" ucap Rian dengan kesal


"Awalnya kita mau bayar masing-masing, tapi aku gak tega lihat dompet Larissa yang setipis tisu. Jadi aku traktir aja."Herlan terkekeh ketika melihat ekspresi istrinya yang terlihat semakin kesal.


"Bang Herlan!!! Bukan Cerita ini yang aku mau."Rian menyentil dada suaminya dengan kesal.


"Terus cerita apa? kan memang begitu kejadiannya."


"Aku yakin cerita yang asli nggak kayak gini. aku harus tanya langsung ke Larissa!


"Ngapain? kamu mau nanya langsung ke dia, yang jelas-jelas tidak menerima hubungan kita. Terus dia melebih-lebihkan cerita yang membuat kamu semakin tidak percaya sama aku."


"Ya memang aku nggak percaya sama kamu."


"Nggak percayanya kenapa? Kamu berpikir kalau setelah itu aku dan Larissa melakukan hal yang di luar nalar gitu?


Rian mengangguk dengan perlahan.


"Rianti, aku paling menghindari hal itu. Aku punya adik perempuan yang selalu aku jaga. aku tidak ingin ada laki-laki yang menyentuh mereka sebelum menghalalkan mereka. Begitupun dengan setiap wanita yang dekat dengan aku. Maupun pacar atau bukan, aku yakin mereka adalah wanita yang sangat dijaga oleh keluarganya. Jadi, untuk apa aku merusak sesuatu yang orang lain jaga?"jelas Herlan panjang lebar yang membuat Rian terdiam.


"Satu lagi, kita ini suami istri, kepercayaan adalah hal yang paling utama. Aku percaya sepenuhnya sama kamu. Dan aku minta agar kamu juga percaya sama aku. Jangan mendengarkan kata orang lain yang membuat hubungan kita retak. Kita tidak akan pernah tahu berapa orang yang tertawa atas kehancuran kita."


Rian menatap ke arah suaminya dengan nanar, Hatinya tersentuh ketika mendengar penuturan pria itu.


"Bang maafkan aku, ya!"ucapnya dengan penuh penyesalan.


"Tidak perlu minta maaf. Ini bukan sebuah kesalahan. Cuman aku minta Lain kali kalau ada masalah, atau ada apa-apa, kamu ngomong aja langsung. Jangan meminta aku untuk menebaknya. Karena aku bukan paranormal."ucap Herlan sambil terkekeh.


"Iya Bang sekali lagi aku minta maaf."ucap Rian dengan wajah sendu dan pelupuk mata yang mulai berembun.


"Nggak apa-apa, nggak usah nangis juga. Abang sayang Adek."Herlan memberikan kecupan lembut pada kening istrinya yang membuat Rian seakan ingin jingkrak jingkrak di atas kasur mendapatkan perlakuan manis dari sang suami.

__ADS_1


***


"Hoek...Hoek...Hoek"Robert hapal betul suara yang berasal dari kamar mandi itu.


Apalagi kalau bukan suara muntahan istrinya. semenjak Mariska dinyatakan hamil wanita itu tidak pernah melewati pagi tanpa mual dan muntah.


Robert sebagai suami siaga langsung bangkit dari atas kasur sembari melipat kain yang melingkar pada pinggangnya. Pria itu setengah berlari menghampiri sang istri yang sedang muntah-muntah dengan tubuh yang terlihat lemah.


"Astaga Mariska! perasaan tiap pagi kamu muntah-muntah terus. Setiap makanan yang kamu makan selalu dikeluarkan, bisa-bisa kurus kamu kalau kayak begini terus."cerocos Robert sambil mendekat ke arah sang istri.


Pria itu mengangkat tangannya akan menyentuh tengkuk Mariska, Ia ingin membantu istrinya agar tidak terlalu mual.


Namun, sebelum tangannya menyentuh tengkuk sang istri, Mariska sudah menepisnya terlebih dahulu sampai membuat Robert menatap istrinya dengan heran.


"Loh, kok tanganku di tepis, sayang?


Mariska mencuci mulutnya dengan kasar.


"Kamu kalau ngomong enak bener ya, Robert. aku juga kayak gini karena hamil anak kamu. Coba aja kalau aku nggak hamil, biasanya juga aku sehat. Nggak pernah muntah-muntah! ucap Mariska dengan nafas memburu, menahan amarahnya.


"Apa? maksud kamu apa? Coba aja kalau kamu yang ngidam pasti kamu juga nggak akan kuat. Seperti Pak Dimas yang saat ini dia yang mengidam, padahal istrinya yang hamil. itu artinya Pak Dimas sangat sayang kepada Andini. Bukan seperti kamu! Awas saja, nanti aku minta ke Mbah buat mindahin ngidamnya aku ke kamu!"tegas Mariska membuat mata Robert membulat sempurna.


"Aduh jangan dong Sayang. Nanti aku malah repot."cicit Robert dengan mata memelas.


"Makanya jangan meremehkan orang Yang lagi ngidam! Mariska berkacak pinggang dengan wajah sangarnya.


"Kya Sayang, aku minta maaf Robert mendekat dan mengelap mulut Mariska dengan tangannya sendiri.


"Jangan kayak gitu lagi, aku nggak suka!"sudut mata wanita itu terlihat berkaca-kaca suaranya bergetar seperti menahan tangis.


"Sayang, aku minta maaf. Sudah jangan nangis. Aku ikut nangis nih, kalau kamu kayak gini."Robert merangkul bahu istrinya yang bergetar.


"Kamu nyebelin banget. Aku kan Lagi mual, Kamu tahu kan rasanya mual kayak gimana? ucap Mariska dengan suara tercekat. Buliran bening lolos begitu saja dari pelupuk mata wanita itu.


"Sayang, udah jangan nangis. Aku kan jadi ikut sedih."Robert memeluk tubuh istrinya dengan air mata yang mulai menetes.


Mariska masih terdiam tangannya bergerak mengusap air mata dengan kasar. Namun, dahinya langsung mengerut ketika merasakan bahu suaminya bergetar dan terdengar suara Isakan.


"Kamu kok nangis? tanya Mariska sambil melepaskan pelukan pria itu.


"Huaaaa..."Robert memecahkan tangisan. Air matanya mengalir begitu deras dari matanya yang memerah.


"Kamu beneran nangis? tanya Mariska sekali lagi dengan mata yang menatap serius wajah suaminya.


"Kamu jangan nangis, tambah jelek."Mariska memegang kedua pipi suaminya.


"Aku minta maaf sayang. Kamu jangan nangis lagi, aku nggak bisa kalau lihat wanita menangis, air mataku seakan ikut keluar, ingus aku juga." ucap Robert dengan suara sesenggukan.


"Robert, jelek ih! jangan gini!


Mariska mengusap air mata suaminya dengan lembut.


"sayang kamu bilang aku jelek. Aku tambah sedih ini. Rasanya nggak pernah ada seorangpun yang bilang aku ini ganteng." lirih Robert wajah memelas.


"Hahaha.... kamu memang jelek Robert."Mariska tertawa ketika mendengar ucapan suaminya


"Sayang! Robert mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas.


"Hahaha... kamu ganteng kok Robert, ganteng rupa dan ganteng hati.


"Meleleh hatiku sayang."


"Dih lebay, udah yuk keluar nggak enak banget lama-lama di kamar mandi. Mariska menari tangan suaminya keluar dari kamar mandi.


"Robert sini deh! Mariska kembali menarik tangan suaminya ke jendela kamar yang sudah terbuka.


"Apa sayang?


"Robert lihat deh. Itu apa? Mariska menunjuk ke arah luar dengan mata berbinar.


"Itu pohon mangga."jawab Robert setelah mengikuti kemana arah telunjuk istrinya.


"Mangganya lebat ya, Robert.".


"Iya sayang. Itu mangga milik ibu Ati. Cuman pohonnya dekat rumah kita." jelas Robert

__ADS_1


"Ambil satu dong," titah Mariska dengan mata berbinar yang menatap ke arah mangga tersebut.


"Maksudnya mengambil mangga ibu Ati, gitu? tanya Robert dengan dahi mengerut.


"Iya Robert, kayaknya enak banget kalau dibikin rujak."Mariska ******* Bibir bawahnya ketika membayangkan betapa nikmatnya rujak mangga.


"Enggak ah, kita beli di pasar saja ya. Asal kamu tahu ibu Ati itu menjaga mangganya sudah kayak menjaga anaknya.


"Nah maka dari itu, aku mau mangga ini Mariska tersenyum dengan mata menyipit.


"Kita beli aja ya Sayang." bujuk Robert.


"Nggak mau! aku maunya yang itu. Mariska kembali menunjuk ke arah mangga di samping rumahnya.


"Ini ngidam, apa ngerjain sih? desah Robert


"Kalau nggak mau ya, udah biar aku aja yang manjat." Mariska mengangkat kakinya akan keluar dari jendela.


"Jangan sayang, bahaya!"


"Makanya, kamu ambil sana minta satu doang masa nggak boleh, pelit banget nanti kuburannya sempit!


"Ya sudah, aku coba minta dulu siapa tahu dikasih.


"Ambil dulu baru minta.


"Heh!! ajaran dari mana itu?


"Hehehe.... ayolah Robert, demi anak kamu Mariska mengusap perutnya yang mulai terlihat terlihat.


"Ck.... gimana ya Robert berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk dahinya


"Sudah, jangan banyak mikir aku keburu ngiler nih. Nanti, setelah mangganya habis baru kamu ngomong sama ibu Ati


"Ajaran sesat ini." Robert menoyor jidat istrinya pelan.


"Ayolah, Robert!! masa permintaan gitu doang kamu nggak mau mengabulkan, apalagi kalau aku minta pesawat sama bandaranya.


"Bunuh aja aku sayang." Robert merentangkan kedua tangannya di hadapan Mariska.


"Buruan, jangan kayak gini. Perut kamu itu ceking nggak kayak roti sobek. Yang ada malah kayak roti tawar rata doang.


"Iya buruan sana Mariska sedikit mendorong tubuh suaminya ke arah jendela.


"Iya iya sayang, ini masih subuh mudah-mudahan ibu Ati belum bernyawa kembali. Nanti aku minta bila perlu bayarlah setelah ini, Yang penting kamu puas.


"cepatin!! Jangan banyak bacot!


"Iya sayang, sabar sebentar! Robert keluar lewat jendela dan menuju ke arah pohon mangga yang tumbuh lebat, di perbatasan antara rumahnya dengan tetangganya yang terbilang cukup killer itu.


Setelah tiba di pohon mangga, Robert langsung naik ke atas pohon mangga dengan hanya memakai sarung saja.


"Yang itu Robert!" Mariska menunjuk ke arah sebuah mangga yang paling besar.


"Ssst jangan berisik!! Robert menempelkan telunjuknya pada bibirnya.


"Ayo Robert." ucap Mariska kembali dengan suara yang sedikit pelan.


Robert mengambil buah mangga yang tadi ditunjuk oleh istrinya. Setelah itu ia bersiap turun kembali dan melompat dari atas pohon mangga.


"Hati-hati Robert!! teriak Mariska saat suaminya sudah mengambil ancang-ancang. Robert menghitung dalam hatinya dalam hitungan ketiga pria itu meloncat dari atas pohon mangga yang ia anggap sudah tidak terlalu tinggi.


Namun sayangnya sarungnya yang ia kenakan, malah tersangkut dan ia hanya menggantung bak seekor kelelawar.


"Astaga, robek!" teriak Mariska ketika melihat suaminya menggantung di pohon mangga.


"Sayang tolong aku!" teriak Robert kembali dengan tangan yang berusaha menggapai dahan mangga untuknya berpegangan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2