
"Bagaimana kondisi suami saya dokter?"tanya Andini mengkhawatirkan suaminya.
"Hanya teman biasa, dengan istirahat dan minum obat yang sudah saya resep kondisinya akan semakin membaik. Mungkin Dimas terlalu banyak pikiran."jawab dokter Dirga.
Hal itu membuat Andini merasa bersalah, mungkin Dimas terlalu kepikiran atas sikap Andini yang sudah mendiamkannya. Semenjak jadi diri Dimas dibongkarnya saat acara wisuda itu.
Setelah sang dokter selesai memeriksa kondisi kesehatan Dimas, dokter Dirga berpamitan kepada Dimas dan juga Andini.
"Aku pulang dulu ya Dimas, ingat jaga kesehatan jangan terlalu banyak beban pikiran. Istirahat yang cukup ya."ujar dokter Dirga.
"Terima kasih Dirga, kamu sudah repot-repot datang ke rumah saya."
"Kamu ini bagaimana sih, sudah seperti orang lain saja."
"Kapan kamu melepas masalah?"pertanyaan itu yang langsung dilontarkan oleh Dimas kepada dokter Dirga.
Dokter Dirga hanya mengulum senyum."Belum ada calonnya."sahutnya lirih. kemudian ia langsung berlalu dari kamar yang ditempati oleh Dimas.
Andini berlalu ke dapur, Andini berniat membuat bubur ayam untuk suaminya, ketika Dimas sedang istirahat di kamar.
Tiga puluh menit kemudian, Andini kembali menghampiri suaminya yang ada di kamar dengan membawakan nampan yang di atas nampan itu ada semangkok bubur ayam, dan air mineral.
Setelah ia tiba di kamar, dia melihat suaminya bukannya tertidur pulas. Malah tangannya dengan lincah berkutat di laptopnya. Hal itu membuat Andini sedikit kesal terhadap suaminya. "Bukannya istirahat malah kerja melulu."gerutu Andini yang membuat Dimas langsung menghentikan aktivitasnya.
Andini langsung menutup laptop itu, tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu kepada sang suami. Dimas menghela nafas. sementara Andini meletakkan kembali laptop itu di atas meja lalu meminta Dimas untuk menyantap sarapan yang sudah ia masak sebelumnya.
"Ayo Mas makan dulu buburnya."ujar Andini sambil memberikan semangkuk bubur ayam kepada sang suami.
"Tapi, mas. Nggak selera makan sayang."
"Ayo dong Mas, Kalau mas tidak makan nanti mas tidak akan sembuh. Aku suapi ya."tawar Andini yang langsung dibalas anggukan dari Dimas.
Andini menyodorkan sendok yang berisikan bubur ayam kepada sang suami. Tentunya setelah Andini memastikan kalau bubur itu sudah tidak terlalu panas lagi untuk disantap. Tak menunggu lama, semangkok bubur ayam buatan Andini sudah habis disantap oleh Dimas.
"Bubur ayam buatan kamu enak sekali sayang."Puji Dimas.
"Nggak usah gombal, biar Andini nggak ngambek gitu karena kebohongan Mas?"ucap Andini dengan nada sewot
"Bukan sayang, kamu sensi banget sih beberapa hari ini. Ibu hamil itu tidak boleh sensi, nanti bisa-bisa anak kita yang ada di dalam sini juga sensian seperti mamanya."ucap Dimas yang langsung dibalas tatapan tajam dari sang istri.
"Nggak usah ngadi-ngadi. Pokoknya mulai saat ini jangan pernah ada kebohongan di antara kita. Aku nggak suka Mas berbohong. karena Mas yang mengajarkan Andini untuk tidak berbohong."ucap Andini kepada sang suami.
__ADS_1
"Iya sayang, Mas minta maaf ya."ucap Dimas kepada Andini sambil meraih tangan Andini.
"Iya, kali ini aku maafin karena kalian sudah bekerja sama sama papa dan mama. Tapi untuk lain kali, Aku tidak akan maafkan mas."ucap Andini kepada Dimas.
"Terima kasih ya, sayang."ucap Dimas sambil merayu Andini kepelukannya kemudian ia pun memberikan kecupan hangat di bibir manis sang istri.
"Tolong jangan diamkan Mas ya, sayang. rasanya hidup mas terasa hampa, jika mas tidak mendengar suara canda dan tawa kamu ucap Dimas sambil kembali memberikan kecupan hangat di wajah cantik istrinya.
****
Suasana di Cafe Kampung Kecil mulai sepi, para pengunjung sudah pulang karena waktu tutup Cafe akan segera tiba.
Setelah beres-beres, Ricky segera menghampiri Bima sebelum sahabatnya itu pulang ke rumah mertuanya.
"Bim, tunggu! jangan pulang dulu!"cegah Ricky saat Bima akan keluar dari Cafe itu.
"Ada apa? muka kamu kecil banget kayak Pampers bekas."balas Bima setelah menghentikan langkah dan membalikkan badan ke arah Ricky.
"Dasar ******! Aku lagi pusing nih."Ricky mengacak rambutnya sendiri.
"Memangnya kamu pusing kenapa? minum obat cacing sana!"balas Bima kembali yang membuat gula darah sahabatnya naik.
"Kamu, senang banget melihat temanmu menderita! Kamu dengerin dulu kenapa?
"Woi, mau pada pulang kagak?"sergah Robert yang berjalan ke arah pintu bersama Mariska.
"Bentar, ini si Ricky katanya ada yang mau disampaikan,"jawab Bima.
"Apaan?"Robert menatap ke arah Ricky dengan dahi mengerut.
"Oke, karena waktu sudah langsung saja aku mau bilang, kalau aku diminta buat nikahin Faranisa bulan ini."Ricky memberitahu.
"Apa? pekik Mariska dengan suara melengking.
seketika ketika pria itu menatap ke arah Mariska yang malah tertawa ngakak.
"Dih, istri kamu kenapa, Robert? tanya Ricky.
"Biasa, kalau sudah malam pengen segera dimasukin."
"Dimasukin apaan?"Ricky mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Dimasukin pecel lele."balas Bima yang diiringi tawa kecil
"Dih, pembahasan yang haram bagi aku."Ricky menutup telinga.
"Udah, Kembali ke laptop. kamu disuruh nikahin Mbak Nisa bulan ini juga? kamu nggak hamil kan Ricky? tanya Robert dengan wajah serius.
Namun, Tak lama kemudian tawa Mariska kembali memecah setelah mencerna ucapan suaminya.
"Robert, mana mungkin si Ricky bisa hamil? dia kan nggak punya rahim, yang ada dia punya satu pisang dan dua telur ."Mariska tertawa ngakak.
"Nggak tahu tuh, laki kamu."
"Kalau kamu diminta buat nikahin Faranisa, iya kamu sikat aja lah. kenapa kamu malah tegang kayak orang yang mau berak?"Bima menatap ke arah sahabatnya.
"Aku bingung."Ricky menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bingung kenapa? kamu mau nggak nikah sama Nisa? Kamu suka nggak sama dia?"tanya Robert beruntun.
"Kalau ditanya mau apa enggak, iya aku jelas mau."
"Nah, terus kenapa kamu bingung? Robert menopang sikutnya pada bahu Ricky.
"Yang membuat aku bingung itu, dia orang kaya, punya segalanya. lah aku, hanya punya harga diri. Itupun kalau nggak diinjak sama keluarganya dia."sahut Ricky frustasi.
"Susah, jangan mikirin itu. Intinya, kalau kamu beneran mau nikah sama dia, nikahi dia selama dia tidak terpaksa nikah sama kamu, dan siap direpotkan setelah menikah sama kamu."tutur Bima.
"Asem! kata-katanya malah buat aku nyusup sampai ke dasar jurang." protes Ricky.
"Ricky, kita ini laki-laki, masih muda dan punya energi tinggi. Kita bisa bekerja untuk menghidupi keluarga. Uang bisa dicari, tapi cewek yang mau dinikahi dan menerima apa adanya mungkin datang seumur hidup hanya sekali."tutur robot dengan nada bijak.
"Apa aku jual aja ginjal aku, ya? buat maharsi Nisa."celoteh Ricky
"Cakep, habis akad, kamu langsung malam pertama di dalam kubur," Balas Robert yang langsung disambut gelak tawa sahabatnya.
"Sialan kamu!!! balas Ricky sambil menyingkirkan sikut Robert dari bahunya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN