Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 42. NONTON HOROR


__ADS_3

Setelah Dimas keluar dari mobil terlebih dahulu, meninggalkan Andini yang terdiam mematung.


Tok ..


Tok ...


Tok ...


"Cepat keluar!"titah Dimas setelah mengetuk kaca mobil di sebelah Andini.


Andini segera mengembalikan kesadarannya dan turun dari dalam mobil.


Seperti biasa, Dimas selalu berjalan dengan langkah lebar dan cepat.


Hal itu pula yang membuat Andini sering berlari untuk menyeimbangi langkahnya.


"Pak, kita mau ke mana?"tanya Andini mensejajarkan langkahnya dengan suaminya.


"Maunya ke mana? Apa kamu tidak ingin membeli sesuatu? tanya Dimas kepada istrinya.


"Tidak, aku tidak memiliki uang. Aku hanya cuci mata saja di sini."sahut Andini yang mampu membuat dimas terkekeh mendengar jawaban sang istri. Itu artinya Andini mengira kalau dirinya masih tergantung kepada kedua orang tuanya. Padahal Dimas adalah suaminya sudah sewajarnya Dimas yang bertanggung jawab segala kebutuhan Andini.


"Eh, aku sih punya uang, sisa uang yang aku sumbangin untuk anak-anak jalanan hasil dari hadiah balapan ku semalam."tapi itu rencananya aku tabung, jika suatu saat nanti aku membutuhkannya ingin melanjutkan pendidikanku S2 kelak.


Tak mungkin aku mengharapkan uang dari mama, tentunya mereka tidak akan mengizinkanku melanjutkan pendidikan karena aku mengetahui kondisi ekonomi keluarga kami bagaimana."ucapnya sambil menatap lurus ke depan berjalan mengikuti suaminya.


"Kalau kamu tidak mau beli apa-apa, bagaimana kita kalau menonton saja."usul Dimas.


"Boleh, tapi aku ingin menonton drama romantis si Hureng Opa Korea kesukaan Ku ."


"Jangan drama Korea dong."


"Terus nonton apa?"tanya Andini kepada suaminya menatap ke arah wajah Dimas yang terlihat datar.


"Film action."


"Nggak, saya nggak mau nonton film gitu."


"Saya juga nggak mau nonton drama."


"Ya sudah kalau gitu kita nonton film horor aja, itu jalan tengahnya."


"Memangnya kamu berani?"Dimas menatap wajah istrinya dengan dahi mengerut.


"Ya beranilah. Cuman film doang, Saya nggak takut."


Andini berjalan terlebih dahulu yang langsung diikuti oleh Dimas. Gadis itu langsung memesan dua tiket film horor.


"Ini uangnya."Dimas menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu ke tangan istrinya.

__ADS_1


Andini tersenyum dan segera membayar tiket.


Nonton bioskop tidak lengkap rasanya jika tidak ditemani dengan cemilan. Entah itu popcorn atau snack lainnya.


Andini membeli dua cup cemilan itu dan berjalan terlebih dahulu menuju studio regular.


Andini berjalan dengan riang, wajahnya terlihat begitu ceria.


Dimas menggelengkan kepala ketika melihat tingkah sang istri.


Andini termasuk orang yang ekstrovert, Ia akan merasa senang jika berada di luar.


Berbeda dengan suaminya Dimas yang introvert, dan lebih suka berada di dalam ruangan dengan membaca buku atau pelajaran hal-hal belum yang ia ketahui.


Sebelum masuk, Andini menghentikan langkahnya dan membalikkan badan kerah Dimas.


"Pak, bapak masuk duluan, ya. Saya mau ke toilet dulu,"ucap Andini Seraya menyerahkan dua cup popcorn ke tangan Dimas.


Setelah itu, Andini melangkah dengan ceria ke arah toilet tanpa menunggu persetujuan sang suami. lagi lagi Dimas menggelengkan kepala ketika melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil.


Sifat dan sikap Andini sangat jauh berbeda dengan kriteria wanita yang ingin Ia jadikan istri.


"Apa di masalah menikahi wanita?


Tiba-tiba saja ingatannya tertuju kepada seseorang yang telah meninggalkannya beberapa tahun yang lalu.


"Apa kabar wanita itu sekarang?"


"Andini! suara itu membuat Andini menghentikan langkah kakinya, tubuhnya mematung sejenak. Ia hafal betul suara cempreng itu milik Mariska.


"Din, kamu di sini juga?"Mariska menepuk bahu sahabatnya dan membuat Andini membalikkan badan secara perlahan.


Awalnya ia ingin tetap melanjutkan langkahnya, tetapi Mariska dan Rian yang sudah mengenalnya hampir satu abad pasti sudah mengenalinya walau hanya dari belakang.


Bahkan kedua temannya itu bisa mengenalinya walaupun hanya melihat jari kelingkingnya saja.


"kebetulan sekali Ternyata bestie kita nyelip di sini."canda Robert Seraya mendekat berbarengan dengan Bima dan juga Rian.


Netra Andini langsung terbelalak, Ternyata semua teman-temannya ada di sana.


Kenapa makhluk itu selalu gentayangan?


"Din, kamu ditelepon kok nggak ngangkat-ngangkat, ternyata udah ada di sini saja."Celetuk Mariska


"Kami telepon aku? sorry ponselku di silent, jadi nggak kedengaran."Andini menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hai Din!"sapa Bima dengan gaya coolnya gaya laki-laki yang sangat disukai Andini sama persis seperti Bagas.


"Hai Bima!"balas Andini dengan tersenyum ragu.

__ADS_1


sebenarnya ia sedikit tak enak kepada Bima saat kejadian itu.


"Din, kamu baik-baik aja kan? kamu nggak diapa-apain sama Pak Dimas semalam?"tanya Bima dengan wajah khawatir.


"Eh iya. kok pak Dimas bisa tiba-tiba bawa kamu pulang. mana digendong lagi jangan-jangan...." Mariska menduga-duga membuat Andini langsung merasa sedang diintrogasi.


"Ini yang ia takutkan, jika bertemu dengan teman-temannya. Pasti mereka menanyakan hal itu. Jiwa kepo Mariska, Rian, Robert, dan Bima juga membuncah. Membuat Andini tak bisa berkutik Dia sedikit gugup.


"Emm... Pak Dimas itu sebenarnya teman Kak Herlan. Jadi, saat aku pergi ke pesta, Kak Herlan menitipkan aku ke Pak Dimas. "Andini berbohong Seraya meremas jemarinya, takut jika semua teman-temannya tak percaya.


"Oh gitu. syukur deh kalau kamu sama Pak Dimas nggak ada apa-apa. jadi doa aku lewat jalur langit masih bisa bersujud."celoteh Mariska dengan angkuh.


Andini menatap ke arah sahabatnya dengan hati tak enak, ternyata Mariska sangat mengagumi dosen yang telah menjadi suami Andini.


"Jalur langit, maksud kamu naik pesawat gitu?"sahut Robert yang membuat suasana langsung mencari karena gelak tawa mereka.


"Oh iya. kamu ke sini sama siapa? kok cuman sendiri? gabung aja yuk sama kita, nonton drama romantis. Entar kamu duduk di samping Bima biar makin melenyot."ucap Mariska yang membuat Andini bertambah bingung.


"Kalau kamu mau, aku belikan tiketnya sekarang."tawar Bima.


"Sudah jangan banyak mikir. Sudah lama juga kita nggak nobar, apalagi sekarang kan ada Bima yang siap memberikan bahunya untuk bersandar,"temple Rian.


Andini terdiam dengan wajah bingung.


Sebenarnya ia sangat ingin nonton bareng teman-temannya. Apalagi ada Bima yang selalu membuatnya nyaman.


"Tapi, Ia ingat Dimas yang sekarang sedang menunggunya di dalam studio.


pasti pria itu akan murka Jika ia meninggalkannya begitu saja.


"Gush Sebenarnya aku ke sini sama Kak Herlan. sorry aku nggak bisa ikutan kalian ucapkan dini dengan perasaan Tak rela mengatakan itu.


"Dimana Kak Herlan? Sudah lama aku nggak ketemu sama babang manis." ucap Mariska sambil melirik ke kanan dan ke kiri Andini, mencari keberadaan pria yang dia kagumi juga.


"Ye genitnya mulai, tak cukup genit sama Pak Dimas."ucap Rian mengusap wajah sahabatnya.


"Emmm... Bima sorry aku nggak bisa nonton sama kalian,"ucap Andini raya meremas jarinya.


"It's okay. lain kali kita jalan berdua,"Bima mengembangkan senyum pada wajah tampannya, yang membuat bibir Andini refleks ikut tersenyum.


"Din kamu ajak Kak Herlan nonton bareng kita aja, biar duduk di samping aku tetap Mariska dengan wajah penuh harap.


"Modus aja kamu!"sendir Rian yang membuat Mariska langsung membekap mulut sahabatnya itu.


"Sekali lagi sorry ya, gush. Aku duluan."Andini membalikkan badan dan melangkah dengan gontai masuk ke studio.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2