Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 113. DIMAS CEMBURU


__ADS_3

Andini segera mengambil dan setelah itu langsung mengikuti langkah lebar Alvin menuju ruang meeting.


Mereka memasuki ruangan yang telah diisi beberapa orang berpakaian rapi, dan bersiap melakukan meeting bersama sang Bos.


"Siapkan kursi untuk saya! titah Alvin dengan nada dingin, yang membuat Andini gelagapan.


Wanita itu langsung melihat ke arah kursi di bagian paling depan, yang ia yakini itu adalah kursi milik Alvin.


Andini langsung mendekati kursi itu, dan menariknya, lalu mempersilahkan sang Bos untuk duduk.


Alvin langsung duduk dengan ampuh dan Tak lama kemudian meeting dimulai.


Pria itu terlihat serius. Bahkan ada beberapa berkas yang dirobek dan ia menyuruh karyawannya untuk merevisi kembali.


Semua orang menunjukkan wajah tak berani mengangkat kepala sedikit pun, ketika Alvin memberikan kritikan pedas pada karyawan.


"Meeting ini saya tutup. Kita adakan lagi besok, revisi semua laporan dan berkas yang kalian berikan tadi! Awas kalau ada yang salah sedikit saja! tukasnya lalu bangkit dari kursi kebesaran yang dikhususkan untuknya.


Pria itu seolah ditakuti oleh semua orang, termasuk Andini yang menunduk patuh padahal hatinya terus-terus ngedumel. Jika Andini mengetahui kalau perusahaan itu milik suaminya, pasti Andini akan menabok Alvin.


"Menyeramkan banget ini orang, pasti cewek yang menjadi istrinya punya kesabaran sekebon."gumam Andini Seraya menggerakkan kedua bahunya.


"Kamu mau tetap di sini, atau sampai lumutan? sergah Alvin dengan suara baritonnya, yang membuat Andini langsung tersadar dari lamunan.


"Memangnya ada manusia lumutan? Gerutu Andini dengan suara pelan yang mengikuti langkah lebar Alvin


"Coba saja sendiri!" balas Alvin tanpa menulis sedikitpun ke arah Andini yang sedang menutup mulutnya.


"Iya tak menyangka ucapannya yang pelan akan tembus ke telinga sang Bos.


****


Jam kantor selesai, hari ini Andini bekerja sambil menjaga sikap.


Andini berusaha menghilangkan jiwa barbarnya dan berusaha profesional dalam bekerja. Untung saja Andini masih memiliki kesabaran, mungkin pak sabar yang memberikan kesabaran untuknya.


Saat ia keluar dari kantor, tepat berbarengan dengan Revan yang sejajarkan langkah dengannya.


"Din, nggak nungguin Herlan? tanya Revan yang membuat Andini langsung menoleh ke arahnya.


"Enggak, aku ada yang jemput kok.


"Tumben, Siapa yang jemput? tanya Revan penasaran.


"Aku dijemput...."


deringan ponsel milik Andini menghentikan ucapannya. Ia langsung mengambil ponsel dari tas sandang dan mengangkat sambungan telepon seluler itu, ketika mengetahui siapa yang menghubunginya.


"Aku sudah ada di depan kantor cepat pulang, jangan ngobrol terus sama laki-laki itu!"sergah Dimas yang membuat mata Andini membulat.

__ADS_1


lalu ia mengarahkan pandangannya ke tepi jalan di depan kantor. Benar saja, mobil suaminya sudah terparkir di sana.


"Iya, aku ke sana sekarang. Pak Revan aku duluan ya! Andini melambaikan tangannya dan segera berlari, meninggalkan Revan membuka mulut akan membalas ucapannya.


Andini segera masuk ke dalam mobil, suaminya dan duduk di samping Dimas yang sedang melempar tatapan tajam padanya.


"Mas, sudah lama? tanya Andini Seraya mencium punggung tangan Dimas.


Wanita itu terdiam sejenak, tidak langsung melepaskan tangan. Biasanya Jika ia sudah mencium punggung tangan Dimas, suaminya itu akan membalas dengan mencium keningnya.


Namun, kali ini Dimas Hanya terdiam sampai Andini melepaskan tangannya dengan perlahan.


"Laki-laki tadi siapa?"tanya Dimas secara tiba-tiba.


"Itu namanya Revan. Dia teman SMA-nya Kak Herlan. Dulu dia sering main ke rumah sama kakak Herlan,"jelas Andini.


"Oh, berarti sudah kenal lama dong? Dimas mulai menjalankan mobilnya.


"Iya sudah lama, tapi baru ketemunya lagi sekarang. Ternyata dia bekerja di perusahaan ini.


"Senang dong, bisa bertemu orang lama."


"Senang lah Mas, setidaknya aku sudah kenal orang-orang di kantor itu walaupun tidak semuanya.


"Bisa sekalian nostalgia juga ya, sama yang namanya Revan itu."Dimas berbicara dengan tatapan lurus, tak menoleh sedikitpun ke arah istrinya.


"Nostalgia apaan? Revan itu sudah aku anggap seperti kakakku sendiri,"sangkal Andini.


"Kenapa sih? Mas cemburu cuman lihat aku saling sapa sama Revan?"Andini menatap wajah suaminya yang berekspresi datar.


"Aku cuman nggak suka saja ada laki-laki yang terlalu dekat sama kamu."


"Terlalu dekat dari mana? kita ngobrol juga Ada jaraknya. Nggak kayak aku sama kamu begini."Andini merapatkan tubuhnya pada sang suami.


"Awas saja kalau sampai kayak gini, Mas tebas lehernya! tegas Dimas yang membuat Andini langsung menegakkan kepala dan melihat ke arah wajah suaminya yang terdiam tanpa ekspresi.


"Serem banget Mas. Kamu psikopat, ya?"


"Mas bisa jadi apa saja jika ada orang yang berani mengusik hidup Mas dan istri mas."


"Tenang Mas percaya sama Andini. Andini bisa jaga diri dan jaga hati."Andini mengusap dada suaminya dengan lembut.


"Itu harus, kalau kamu tidak mau aku kurung di kamar!"


"Ih, serius banget sih! Oh iya, Ada kabar gembira Mas."Andini membenarkan kembali posisi duduknya.


"Kabar gembira apa? tanya Dimas Seraya menoleh ke arah sang istri.


"Aku sekarang diangkat jadi asisten CEO perusahaan." ucap Andini dengan wajah berbinar.

__ADS_1


Berbeda dengan Dimas yang langsung menajamkan matanya.


"Ini bukan kabar gembira. Kenapa harus jadi profesional asisten? Kenapa tidak jadi karyawan biasa saja?"


"Mas, Kok kamu gitu sih? ini lebih bagus dari karyawan biasa Mas. Aku pasti akan mendapat banyak pengalaman.


"Tetap saja Mas, kurang setuju kamu jadi asisten."


"Terus gimana dong? masa aku mundur? kalau aku mundur terus malah diberhentikan gimana?" tanya Andini.


"Memangnya tidak bisa apa kalau menjadi karyawan biasa saja?


"Mas, kok banyak aturan gini sih? Andini malah jadi bingung. Ini nggak boleh, yang itu nggak boleh. Bahkan pekerjaan penuh kamu masih ngatur,"kesal Andini.


"Bukan banyak ngatur, aku cuman tidak suka...."


"Melihat aku dekat dengan laki-laki lain. Mas aku juga tahu batasan, ini hanya dalam lingkungan kerja saja. Semuanya bisa disesuaikan. Tolong jangan terlalu posesif. Kalau begini terus lebih baik kamu kasih aku nilai yang bagus dan lulus begitu saja, tanpa harus magang dulu," ucap Andini sambil bersedekap dada. kesabarannya hampir habis bahkan emosinya hampir membuncah.


"Ya sudah, maaf. Tapi kamu harus selalu ingat kalau kamu sudah punya suami!


"Memangnya kapan Andini lupa mas? Kamu tuh, yang harus ingat kalau udah punya istri. nanti malah genit-genit sama mahasiswi."


"Sudah sudah. Kalau begini terus malah jadi panjang urusannya."


"Mas yang duluan loh!"


"Iya, Mas Memang suka mulai duluan, tapi kamu yang suka keterusan."


"Mas sih, nyebelin banget . Ngalah nggak? Andini menatap suaminya dengan mata membulat


"Ngapain ngalah? orang Mas nggak salah.


"Ih, jadi laki-laki itu harus ngalah, kalau nggak mau libur satu bulan.


"Iya, iya maaf."


"Cuman Maaf doang?


"Terus apa dong? Dimas melirik sekilas kerah sang istri.


"Beli apaan kek!


Dimas tak membalas ucapan istrinya. Tetapi pria itu menunjuk pipi kirinya.


Andini paham apa yang diisyaratkan oleh suaminya. Wanita itu mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan lembut pada pipi sang suami.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2