Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 188. AKAD NIKAH TERTUTUP


__ADS_3

Hari itu juga, pernikahan diadakan secara singkat dan tertutup itu akan dilaksanakan di kediaman mempelai wanita.


Karena semuanya serba dadakan, Dimas tidak sempat menyiapkan pesta pernikahan untuk adiknya. Rencananya, mereka akan melangsungkan resepsi Setelah orang tua Bima datang menemui Dimas dan ayahnya.


Andi ini datang menghampiri Erin yang terdiam mematung di depan lemari pakaian yang sudah terbuka. Wanita itu memperhatikan pakaiannya satu persatu. tapi tak ada satupun pakaian yang cocok ia kenakan di acara akad nikahnya.


Semuanya gaun yang dimilikinya terbilang tidak sopan dan tidak mungkin ia kenakan di saat acara nikah. Karena selama ini Erin beberapa tahun tinggal di negara Eropa.


"Kamu ngapain berdiri di situ? tanya Andini.


"Kak Andini, Aku bingung mau pakai baju yang gimana. Soalnya baju-baju aku semua, rata-rata yang terbuka dan kurang sopan."jawab Erin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Andini terkekeh ketika melihat wajah bingung adik iparnya. "Makanya, kalau beli baju tuh yang jahitannya selesai. dan tidak kurang bahan. ini hampir semua baju kamu belum selesai dan kurang bahan."Ciracas Andini dengan mata yang terus memperhatikan pakaian adik iparnya yang tergantung di lemari.


"Ayo dong Kak bantu aku. jangan berkomentar Lagi bantu cari solusi."sangkal Eren dengan wajah cemberut.


"Tunggu sebentar!"Andini memberikan badan, lalu keluar dari kamar itu. Andini kembali ke kamarnya dan berbarengan dengan Dimas yang baru keluar dari kamar mandi.


"Aduh tampannya suamiku."ucapkan dini sambil menyentuh perut berotot suaminya. Dimas keluar dari kamar mandi hanya mengenakan sehelai handuk yang dililitkan di pinggangnya seperti biasa.


"Genit banget sih."balas Dimas dengan mata yang tertuju ke arah istrinya, tetapi bibir pria itu menyunggingkan senyuman.


"Aku genit cuman sama suamiku doang. kalau aku genit sama suami orang bisa-bisa aku ditebas."sahut Andini sambil terkekeh.


"Awas kalau kamu berani genit-genit sama laki-laki, apalagi sama calon adik ipar kita."balas Dimas yang membuat Andini langsung menoleh ke arahnya.


"Adik ipar kita? maksudnya Bima?"tanya Andini dengan dahi mengerut.


"Siapa lagi, kalau bukan laki-laki menyebalkan itu. Padahal, aku sangat tidak suka sama dia, kenapa malah menjadi adik ipar kita."cara charge Dimas kembali sambil mendekat ke arah istrinya.


"Amit-amit jabang bayi, sedikitpun Tidak ada niatan genit-genit sama lelaki lain, apalagi sama Bima. Huh nggak bisa dibayangkan, kalau sempat aku jatuh cinta dulu kepadanya!"ucap Andini sambil mengelus perutnya.


"Alhamdulillah, kalau kamu tidak mau berpikir genit-genit sama."ucap Dimas sambil langsung meraih tugu istrinya diperlukannya lalu membubuhi Andini dengan kecupan demi kecupan.


"Sudahlah mas, itu baju kamu sudah aku siapin. Aku mau ke kamar Erin dulu."


Andini meninggalkan suaminya dengan sebuah pakaian yang berada dalam pelukannya.

__ADS_1


"Itu kan gamis kamu, mau kamu bawa ke mana? tanya Dimas sebelum istrinya keluar dari kamar.


"Ini buat Erin Mas."jawab Andini sambil terus melangkah keluar dari kamar, iya tak mempedulikan Dimas yang menatapnya dengan heran.


Andini kembali ke kamar Erin, wanita lemari pakaiannya.


"Coba pakai baju ini!"Andini menyerahkan baju yang tadi dibawanya ke dalam kamar Erin.


"Baju apaan ini?"Erin mengambil baju itu dari tangan Andini dan memperhatikannya dengan dahi mengerut.


"Pakai aja, baju ini sangat sopan dan cocok dipakai saat akad nikah. Daripada kamu pakai baju kamu yang kurang bahan itu."cara cos Andini dengan wajah berbinar, sementara Erin menatap baju gamis itu dengan tatapan heran.


Tak lama kemudian, terdengar suara di rumah motor yang berhenti tepat di halaman rumah itu. Andini segera berjalan ke arah jendela dan melihat keluar rumah melalui kaca jendela di kamar tersebut.


"Tuh pak penghulu sudah datang sama calon suami kamu. cepat siap-siap!"Andini menyerahkan baju tadi kepada Erin.


"Tuh, kan cocok. Jadi kelihatan lebih anggun dan rapi."Puji Andini setelah Erin memakai gamis yang ia berikan tadi.


"lebih cantik lagi kalau kamu pakai jilbab juga."celetuk Andini yang membuat Erin langsung menoleh kembali ke arahnya.


"Nggak usah nggak ngadi ngadi!"timple wanita itu dengan Ketus yang malah membuat kakak iparnya tertawa kecil. Setelah itu, keduanya keluar kamar dan langsung menuju ruang yang akan menjadi tempat acara akad nikah.


Pernikahan itu benar-benar tertutup, bahkan Bima hanya datang bersama Ricky.


Bima hanya mengenakan baju kemeja berwarna biru dan dipadukan dengan celana bahan hitam.


Sementara Ricky terlihat rapi dengan balutan baju batik dan celana bahan berwarna hitam juga.


"Bagaimana kita sudah bisa memulai acaranya? tanya apa penghulu membuat Erin sedikit gugup.


"Baik Pak kita mulai saja!" ucap orang yang hadir di sana secara bersamaan.


"Bismillahirrahmanirrahim, saudara Bima Wijaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Erin binti Anggara dengan mas kawin uang sebesar satu juta rupiah dibayar tunai.


"Saya terima nikah dan kawinnya An...."Bima tak melanjutkan ucapannya ketika menyadari kata yang ia keluarkan itu salah.


Seketika semua tatapan tertuju ke arahnya, termasuk Dimas yang menatapnya dengan tajam

__ADS_1


"An, siapa maksud kamu?"sergah Dimas dengan rahang mengeras.


Bima tidak menjawab.


"Jangan bercanda, lanjutkan yang benar. sekali lagi salah, Aku tinggalkan acara akad ini."Ucap pak penghulu.


Setelah itu, Bima mengucapkan kalimat ijab kabul dengan benar, sehingga dirinya dan Erin kini telah menjadi sepasang suami istri.


"Kalian sudah sah menjadi suami istri. Bima, Awas kalau kamu melanggar perjanjian pranikah!"oncom Dimas kembali yang membuat pemuda itu hanya mengangguk saja.


"Erin, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, Papa minta agar kamu bisa bersikap lebih dewasa lagi. Dan untuk Bima, Saya minta agar kamu bertanggung jawab dan menyayangi Erin sebagaimana saya menyayanginya."ujar Tuan Anggara dengan raut wajah kecewa yang masih terlihat jelas pada wajah yang sudah mulai terlihat keriput.


"Baik, saya akan bertanggung jawab dan bersikap selayaknya seorang suami yang meragukan istrinya."balas Bima yang membuat hati Eren langsung berubah menjadi berbinar.


"Terima kasih, sayang."


"Cup! Erin memberikan sebuah kecupan pada Bima yang membuat mata anggaran dan Dimas langsung menatap tajam ke arahnya.


"Heheeee.... tenang Semua, Kita kan sudah halal. Iya kan, sayang!"Erin bergelutan manja pada lengan Bima.


"Halal sih halal, tapi nggak di depan jomblo juga kali."ucap Ricky yang masih duduk di dekat Bima.


"Mending kamu tutup mata dan jangan lihat-lihat."balas Erin.


***


"Robert, Si Bima beneran nikah?"tanya Mariska dengan wajah penasaran. mereka masih berada di rumah sakit, semenjak kejadian itu Mariska benar-benar istirahat total.


Terlebih lagi, ibunya Robert belum pulang dari rumah sakit, sehingga mereka semua memutuskan untuk tidak kembali ke rumah dulu dan mempercayakan Cafe kampung kecil kepada Bima dan Ricky.


"Iya, sayang."sahut Robert singkat.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2