
"Sayang, ini gimana nasibnya? Kamu jahat banget!"wajah reggae terlihat memelas dengan gairah yang kembali membuncah.
"Uluhhh, kasihannya suamiku."Nisa kembali mendekatkan tubuhnya ke arah Ricky.
"Sini, jangan jauh-jauh!"Ricky menarik tubuh wanita itu sampai merapat pada tubuhnya yang tanpa busana.
"Mau bermain lagi?"tanya Nisa dengan suara terdengar menggoda. Wanita itu menarik selimut tebal sampai menutupi tubuh keduanya sebatas dada.
"Nggak, ah. Kasihan kamu pasti capek."Ricky menyikat rambut yang menghalangi sebagian wajah cantik istrinya.
"Kalau kamu mau, nggak apa-apa kok."Nisa menatap wajah pria itu dengan lembut.
"Tidak, Aku tidak mau berlebihan. Sudah dipersatukan dengan kamu saja, membuatku merasa seperti memiliki seisi dunia ini."ungkap Ricky dengan tangan yang membelai lembut wajah sang istri.
"Jangan terlalu berlebihan, aku ini hanya wanita biasa."
"Tapi begitu, kamu itu istimewa."Ricky memberanikan diri, melakukan sebuah kecupan lembut pada kening istrinya.
"Tumben serius?"Nisa tersenyum manis dengan mata menyempit.
"Karena aku mencintaimu tidak main-main dan aku serius."balas Ricky yang membuat wajah wanita itu terlihat merona.
"Terima kasih. semoga kita tetap dipersatukan sampai maut memisahkan."Nisa menautkan jemari keduanya. Seakan tak mau berpisah walau sejengkal pun.
"Amin.Aduh... Kenapa saat dekat denganmu, jantungku selalu berdebar kencang."Ricky membuang nafas perlahan.
"Kalau tidak berdebar, mati dong."balas Nisa.
"Aduh jangan dulu dong. Masa baru nerobos gawang udah meninggal."
"Tidak! kita kan mau menua bersama."
Ricky tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Oh iya ini jam berapa ya?"Nisa mengendarkan pandangannya, mencari keberadaan jam dinding di kamar itu.
"Astaga, sudah jam kita harus mandi sekarang!"ajak Nisa sambil melepaskan pelukannya dari Ricky.
"Kok buru-buru banget? Memangnya mau ke mana?"tanya Ricky yang merubah posisi duduknya menjadi tegak.
"Masuk kantor. Aku nggak bisa libur panjang. lagi banyak kerjaan."Nisa buru-buru memungut pakaiannya yang tergeletak di bawah ranjang.
Nisa segera memakai kain tipis tersebut dengan cepat. Sementara Ricky hanya terdiam ketika mendengar ucapan istrinya. dia merasa malu dan minder kepada wanita itu.
"Kamu mau tetap di sini atau ke mana? kalau mau tetap di sini tidak apa-apa. nanti setelah pulang dari kantor, baru aku jemput. kita pulang ke rumah Papa dulu."tutur Nisa yang membuat Ricky tambah merasa malu.
"Apa di kantormu tidak ada pekerjaan, yang menerima mahasiswa yang baru lulus seperti aku?"tanya Ricky dengan wajah serius.
"Pekerjaan? kamu mau bekerja di kantor?"tanya Nisa sebelum melangkah ke kamar mandi.
"Iya, Aku seorang suami dan aku harus menafkahi kamu, walaupun kau mungkin uang dariku hanya cukup untuk kerupuk saja."tutur Ricky kembali dengan nada putus asa.
"Hussst... tidak boleh seperti itu. Apapun yang kamu beri, akan tetap aku syukuri. Memangnya kamu tidak akan bekerja di KPU itu lagi?"
"Hahaha... jangan terlalu merendah seperti itu. Aku pun tidak terlalu mahir dalam bidang perkantoran. Tentunya, Aku membutuhkan bantuan dari. Apalagi kamu baru lulus dan pasti ilmu yang masih anget belum banyak yang lupa. mari kita bekerja sama." tutur Nisa dengan senyum mengembang.
"Bekerjasama di kantor? tanya Ricky memastikan.
"Di kantor dan di ranjang."Nisa tersenyum genit.
"Terima kasih. Kalau begitu, Aku siap bekerja dengan full power."Ricky bangkit dan turun dari ranjang dengan penuh semangat, sampai dia lupa tidak memakai apa-apa untuk menutupi tubuhnya. Seketika bisa tertawa ngakak saat melihat tubuh bugil suaminya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah pribadi Dimas yang dulu sempat ditempati Alvin karena drama kucing-kucingan untuk menyembunyikan identitas Dimas dari sang istri.
Saat ini Andini sibuk menyiapkan segala keperluan suaminya, mulai dari pakaian dan sarapan pagi untuk Dimas. Walaupun di sana ada beberapa asisten rumah tangga untuk menyiapkan sarapan pagi, tapi Andini ingin langsung turun tangan membuat sarapan pagi untuk sang suami tercinta.
Keduanya sarapan bersama sambil sesekali bercengkrama." Hari ini mungkin aku pulang agak malam sayang."tutur Dimas setelah keduanya menyelesaikan sarapan.
__ADS_1
"Loh kenapa Mas? Memangnya Mas masih mengajar di kampus atau ada kegiatan di kampus?"tanya Andi ini dengan mata yang menatap serius wajah suaminya.
"Tidak sayang, hanya saja setelah pulang dari kampus Mas berencana untuk ke kantor. sepertinya Alvin sangat membutuhkan emas di sana. Apalagi kantor belakangan ini jarang Mas kunjungi.
"Maaf, Mas. Andini lupa Kalau mas tidak mengajar di kampus lagi. Andini lupa juga Kalau suamiku yang tampan ini ternyata seorang Sultan. Pemilik perusahaan besar di negara ini.
"Terima kasih Mas, mungkin kalau mas tidak menyembunyikan identitas Mas sebelumnya, Andini akan sombong dan tidak akan mau berteman lagi dengan teman-teman Andini. Tapi sekarang, Andini sangat beruntung Allah memberikan jodoh untuk Andini lelaki seperti Mas. lelaki yang bijaksana, baik, perhatian kepada istri. Dan mampu menafkahi istrinya lahir dan batin. Semoga anak kita kelak seperti kamu ya, Mas."ucap Andini sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Oh iya sayang. Nanti kalau kamu merasa bosan di rumah, kamu boleh pergi ke mana saja yang kamu suka. Diantarkan oleh sopir."ucap Dimas sembari langsung memberikan fasilitas black card untuk sang istri.
"Mas, Andini tidak butuh ini."sahut Andini sambil mengembalikan black card milik sang suami.
"Nggak sayang, itu milik kamu." ucap Dimas sambil kembali memberikan black card itu kepada sang istri.
"Tapi Mas...
"Tidak ada tapi-tapian, terserah kamu sayang mau beli apa saja yang kamu suka. atau kalau kamu merasa bosan ajak Mariska, Rian nongkrong bareng. Tapi tetap jaga kesehatan dan jaga anak kita yang ada di dalam sini."ucap Dimas sembari mengelus dan memberikan kecupan di perut Andini yang membuncit.
"Uluhhh... so sweet banget suamiku, pengertian banget kalau istrinya lagi bosan di rumah. "Aku boleh nggak minta Rian dan Mariska datang ke rumah ini Mas?"tanya Andini kepada sang suami.
"Boleh, tapi tidak dengan Bima. Aku tidak ingin Bima mencuri-curi pandang kepadamu."ucap Dimas sambil menatap sang istri dengan tatapan penuh arti.
"Astagfirullah Mas, Bima itu sudah menjadi adik ipar kita. Tidak mungkin lah dia berbuat macam-macam, Lagian Siapa yang ingin meminta Bima datang ke rumah ini. aku kan hanya ingin ada Mariska dan Rian saja di sini Pasti Kami sudah seru-seruan sama-sama ibu hamil."ucap Andini sambil terkekeh.
"Ya, sudah. Tidak apa-apa. nanti kalau kalian butuh sesuatu minta aja Bibi yang buatkan."ujar Dimas sambil berpamitan kepada Andini. Andini mencium punggung tangan Dimas takzim. Dimas mengecup kening Andini lalu dia masuk ke dalam mobil miliknya.
Andini menatap mobil Dimas berlalu dari rumah yang baru beberapa minggu mereka tempati. Sampai mobil Dimas menghilang dari pandangannya baru Andini kembali masuk ke dalam rumah.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN