Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 296. DI SEKOLAH


__ADS_3

Di rumah Dimas, setelah menidurkan ketiga buah hatinya terkhusus Dania di kamar Putri kecilnya itu. Dimas lalu masuk ke dalam kamar utama. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar mandi, setelah selesai menggosok gigi, Dimas lalu keluar dari dalam kamar mandi dan melangkah naik ke atas ranjang.


Saat ini Andini sedang melihat-lihat souvenir untuk anak-anak yang ada di layar ponselnya. rencananya Dimas dan Andini akan merayakan ulang tahun ke-3 buah hatinya di salah satu panti asuhan. Panti asuhan yang didirikan oleh Dimas sendiri.


"Kamu lagi lihat apa sayang?"tanya Dimas kepada Andini saat dia duduk di samping istrinya yang lagi bersandar pada sandaran ranjang.


"Mas, minggu depan Danes, Dasa dan Dania ulang tahun yang ke-5. rencananya aku mau mengadakan acara syukuran. Nah, ini sovenirnya."Andini menunjukkan ponselnya yang menampilkan gambar souvenir anak ulang tahun.


"Kamu mau ngadain acara di mana? di sekolah, di rumah atau di mana?"


"Di mana ya Mas, Biar agak berbeda aja gitu? Kalau di sekolah sudah biasa."ucap Andini sambil menengadahkan wajahnya kepada sang suami.


"Bagaimana kalau kita ngadain nya di panti asuhan saja sayang. Sekalian kita mengajari anak-anak kita untuk berbagi, menyantuni anak-anak yatim!"

__ADS_1


"Wah bagus itu mas. Aku juga sudah memikirkannya sebelumnya, tapi takut mas tidak setuju."ucap Andini kepada Dimas.


"Kenapa Mas tidak setuju? kan itu perbuatan mulia sayang." sambil mengelus rambut istrinya yang terurai panjang.


"Oh iya Mas, ada berapa orang di sana anak-anaknya? biar aku tahu menyiapkan suvenirnya."tanya Andini.


"Nanti mas tanya sama penjaga di sana ya Sayang. lebih baik kita tidur dulu ya."


Dimas lalu mengambil ponsel istrinya dan meletakkan di atas nakas. Andini lalu memberikan badannya di samping suaminya. kemudian mereka tidur saling berpelukan.


Rencananya acara ulang tahun Danes, Dasa, dan Dania, akan diadakan Hari ini tepat jam 11.00 siang di panti asuhan milik Dimas sendiri.


Nampak ketika buah hati Dimas dan Andini keluar dari dalam rumah. Danes dan Dasa mengenakan baju kemeja putih dilengkapi dengan blazer hitam. sedangkan Dania mengenakan gaun unicorn lengan panjang berwarna merah muda, dengan sebuah mahkota di kepalanya.

__ADS_1


Dimas berangkat bersama istri dan ketiga anaknya. Sedangkan Herlan dan Aulia beserta anaknya mengiringi dari belakang. untuk catering, Dimas sudah memesan menu prasmanan pada restoran yang dipimpin oleh Bima. Sedangkan untuk segala jenis minuman, Dimas mempercayakan cafe milik Robert dan Mariska.


Mobil itu juga sudah siap membawa makanan tersebut. Nyonya Sarah tidak ketinggalan dengan Tuan Miko Pratama. Begitu juga dengan Tuan Andalas yang usianya sudah senja. Tetapi dia masih bersemangat untuk ikut merayakan ulang tahun ketiga cucu-cucunya.


Sedangkan Ricky dan Nisa, mereka mengatakan sedikit datang terlambat. karena Putra mereka saat ini sedikit rewel. Jadi Nisa sedikit kewalahan untuk membujuknya.


Setelah semuanya sudah masuk ke dalam mobil. Dimas selaku pemilik panti asuhan, mobilnya berada di barisan paling depan. disusul dengan mobil Tuan Miko Pratama dan nyonya Laras. Berikutnya, mobil yang ditumpangi oleh Herlan dan juga Aulia beserta kedua buah hati mereka. Lalu mobil Bima dan Erin yang di dalamnya juga ikut bersama dengan Tuan Anggara dan buah hati mereka.


Robert juga tidak ketinggalan, dia melajukan mobilnya setelah mobil yang dikendarai oleh Bima dan Erin sudah meninggalkan rumah Dimas. Mariska menatap suaminya dengan penuh senyuman, tidak menyangka persahabatan mereka selama ini masih terjalin dengan baik.


"Pa, kamu masih ingat nggak saat kita masih kuliah dulu? Pak Dimas dengan wajah dinginnya selalu kita ejek dengan dosen killer, yang saat ini menjadi suami dari sahabat kita. bahkan hubungan kita dengan pak dosen killer itu sekarang cukup dekat."ucap Mariska sambil terkekeh membayangkan masa-masa mereka saat kuliah dulu.


Robert juga ikut tertawa. Tetapi pandangannya tetap tertuju ke depan, fokus menyetir.

__ADS_1


"Iya, apalagi dulu Andini sangat membenci Pak Dimas. Nyatanya sekarang jadi bucin."sahut Robert Sambil tertawa ngakak. mobil itu dipenuhi dengan canda tawa Robert dan Mariska, membuat Roberto sedikit kesal karena merasa dicuekin oleh kedua orang tuanya.


Bersambung....


__ADS_2