
Sementara pasangan suami istri absurd itu, setelah memperbaiki motor mereka oleh montir di bengkel itu, keduanya langsung meninggalkan bengkel menuju rumah sederhana yang selama ini ditempati keluarga Robert.
Keduanya masuk setelah memberi salam kepada Ibu Halimah. Mariska masuk ke kamar mandi untuk segera melakukan ritual mandinya. Tubuhnya sudah sangat gerah apalagi sebelumnya Mariska berjalan mengikuti sang suami mendorong motor yang mogok sampai ke bengkel.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Mariska menggunakan pakaian tidurnya lalu entah karena faktor kecapean, Mariska memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kamu capek? tanya Robert saat Robert masuk ke dalam kamar setelah ngobrol sedikit dengan ibu Halimah.
"Iya kaki aku sedikit pegel, makanya aku ingin istirahat.
"Ya sudah sebentar ya, habis mandi aku akan pijitin kaki kamu,"ujar Robert. Pasti kamu pegel kan, habis jalan cukup jauh."
"Ide bagus juga, aku tunggu ya." sahut Mariska sambil tersenyum menatap sang suami.
Robert langsung masuk ke kamar mandi dan segera melakukan ritual mandinya. Ia sengaja mempercepat ritual mandinya karena ia mengetahui kaki sang istri pastilah cukup pegal karena telah berjalan menemaninya mendorong motor.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Robert langsung menggunakan baju tidurnya.
Robert ikut naik ke atas kasur dan bersiap memijat kaki sang istri.
Namun, Ia Malah gagal fokus ketika melihat kaki mulus sang istri.
"Kok Kamu diam saja? tadi katanya mau pijitin kaki aku,"ucap Mariska yang langsung menyadarkan Robert dari haluannya.
"I.....Iya aku pijit."Robert menyentuh kaki Mariska dengan tangan sedikit bergetar.
Pria itu menelan salivanya susah payah, ketika tangannya menyentuh kaki mulus sang istri.
"Ris, kaki kamu putih banget,"seru Robert dengan mata yang seolah tak berkedip.
tangan pria itu terus naik ke atas, sampai mengenai paha sang istri.
Kali ini bukan pijatan lagi, melainkan sentuhan lembut dari.
Tubuh Mariska terasa menegang, ketika tangan Robert menelusup ke dalam dress yang dikenakannya dan mengusap pahanya dengan lembut.
"Robert...,"
" Ris, boleh ya? Robert mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri dengan tatapan sayu.
Sisi kelaki-lakiannya seolah bangkit. Melihat tubuhmu mulus sang istri.
"Kamu pengen ya? tanya Mariska dengan pelan.
"Ris, aku juga laki-laki normal. Aku pengen ngerasain apa yang dilakukan suami istri."
Robert menggenggam tangan Mariska dan menautkan jemari mereka.
"Kalau aku hamil gimana?
"Ris, aku suami kamu. Kita sudah nikah, mau kamu hamil pun bukan masalah besar. Percayalah, Aku siap bertanggung jawab."Robert semakin mempererat tautan jemari mereka.
"Tapi, kamu sayang kan, sama aku? kamu melakukan ini Bukan semata karena nafsu?"
"Ris, aku sudah nyaman sama kamu. Aku nggak mau pisah lagi dengan kamu, Aku ingin pernikahan kita tetap dilanjutkan. Apa coba alasan aku untuk melakukan itu? kalau bukan sayang."Robert menatap manik mata sang istri dengan intens.
"Kamu cinta sama aku? tanya Mariska kembali.
"Aku sangat mencintaimu Sayang,"ucap Robert yang membuat hati Mariska seakan meledak.
"Aku juga mencintaimu."Mariska terkekeh.
Namun, tak lama kemudian Ia mendapat serangan dari sang suami.
Robert menyambar bibir seksi itu dan melahapnya dengan rakus. Mariska mengikuti permainan sang suami dengan lihai.
Tangan Robert mulai bergerak liar, meraba dan meremas aset sang istri.
Pria itu menurunkan bibirnya pada leher jenjang Mariska dan memberikan jejak kepemilikannya yang sangat terlihat kontras pada kulit putih istrinya.
Robert membuka kancing baju Mariska satu persatu, sampai membuat dua gunung kembar milik sang istri menyembul sempurna.
Robert merasa gugup untuk melakukan hal lebih, Ini baru pertama kalinya ia bersentuhan langsung dengan wanita secara intens.
"Ris, setelah ini kita ngapain? tanya Robert dengan wajah bingung.
Seketika otakku jadi nge blank padahal sesuatu di bawah sana sudah berdiri tegak.
__ADS_1
"Kamu nanya, ke aku? Mariska ikut bingung.
"Ris, aku lupa caranya."Robert menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lupa? Memangnya kamu sudah pernah?
"Iya pernah nonton, tapi lupa lagi caranya gimana.
"Hahaha...." seketika tawa Mariska memecah ketika melihat wajah bingung suaminya.
"Kita punya insting yang bisa menuntun kita."
"Oke, kita coba lagi semoga nggak salah lubang."
"Robert!"Mariska kembali tertawa.
setelah itu, Robert kembali memberikan serangan pada sang istri dan membuka pakaian keduanya.
Tubuh mereka sudah polos di bawah selimut yang menjadi penutup tubuh keduanya.
"Ris, aku mulai ya! ini katanya sakit, tapi mudah-mudahan enggak."Robert menggenggam tangan Mariska dan kembali menakutkan jemari mereka.
"Hati-hati ya."ucap Mariska sebelum sang suami memasukkan juniornya.
Robert mulai memberikan serangan, memasukkan sang Junior ke dalam goa milik sang istri.
Sebuah suara merdu nakal keluar dari mulut Mariska, tatkala sesuatu di bawah sana terasa ditusuk.
"Akh...Ris, Kenapa keras banget. Apa senjataku kurang tajam? Robert berusaha menerobos Sekarang yang menjadi benteng pertahanan mahkota sang istri.
"Pelan-pelan,"lirih Mariska ketika area sensitifnya mulai terasa perih.
"Ris, aku takut kamu terluka."ucap Robert yang hanya dibalas suara merdu nakal dari sang istri.
"Sakit,"lirih Mariska dengan sudut mata yang terlihat basah.
"Sorry Ris.Apa kita udahan saja?"
"Nanggung,"
Pria itu memberikan rangsangan kepada sang istri agar tidak terlalu tegang.
"Ahk... berhasil," bisik Robert dengan mata berbinar, ketika ia telah berhasil meruntuhkan karang benteng pertahanan sang istri.
"Terimakasih ya! Robert mengusap sudut mata sang istri yang basah dan melabuhkan kecupan bertubi-tubi pada wajah Mariska.
"Aku sayang kamu, Ris,"ucap Robert dengan lembut.
Mariska tersenyum dengan air matanya yang seolah akan kembali menetes. Ia tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan sahabatnya sendiri.
"Sayang, kita lanjutkan ya!
Mariska mengangguk.
Setelah itu Robert mulai meneruskan kembali permainan mereka dengan hati-hati.
Mariska menggigit Bibir bawahnya menahan suara merdu nakalnya, yang seolah akan lolos dari bibir nakalnya.
Robert yang melihat itu kembali meraup bibir ranum sang istri.
Permainan mereka semakin memanas, ketika rasa sakit berubah menjadi kenikmatan.
Hingga keduanya mencapai puncak dan Robert menyemburkan benih pada rahim sang istri.
****
Saat adzan subuh berkumandang, kedua mata Robert terbuka dengan perlahan.
Pandangannya langsung tertuju ke arah wajah sang istri yang tertidur lelap sambil menelusukan wajah pada dadanya, yang tak berbalut sehelai benang pun.
Pria itu menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah sang istri.
Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Ia tidak menyangka akan lengser dari gelar jomblo abadinya secepat ini.
Padahal dirinya mengira ia akan dipertemukan dengan judulnya setelah usianya diatas kepala empat.
Namun, skenario Tuhan sudah tak pernah terduga.
__ADS_1
Ia yang awalnya menganggap Mariska sebagai sahabat yang selalu bertukar ejekan, kini telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Bibir pria itu tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman, saat adegan semalam kembali berputar di otaknya.
Sungguh pengalaman pertama Yang Tak terlupakan olehnya. Robert mengusap wajah istri dan melakukan sebuah kecupan pada dahi sang istri.
Perlahan kelopak mata itu bergerak dan terbuka sempurna. Mata Mariska langsung membulat ketika melihat wajah Robert dekat dengannya.
"Kamu cium aku? tanya Mariska dengan wajah kaget.
"Ssst... Jangan panggil nama lagi. Nggak enak dengarnya, sayang."Robert menempelkan telunjuknya pada bibir sang istri.
"Apaan sih?"Mariska menepis telunjuk Robert yang menempel pada bibirnya.
"Buang aja panggilan kamu itu, kita kan sudah suami istri.
"Tau, ah! ngapain juga kamu nyium aku kayak tadi? Mariska mengusap dahinya.
"Memangnya kenapa? kita kan udah..... Robert menyatukan kedua jari telunjuknya.
"Udah apaan? Mariska menatap curiga pada wajah pria itu.
lalu ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan melihat apa yang terjadi di bawah sana.
"Astaga....!!! teriak Mariska saat melihat tubuhnya dan juga tubuh Robert tak terbalut sehelai benang pun.
Bahkan kaki pria itu menjadi pahanya yang tak berbalut sehelai benang pun.
Robert langsung membekap mulut istrinya yang terbuka lebar.
"Jangan teriak-teriak, nanti mama dengar.
"Jadi kita beneran udah.....? wajah Mariska berubah menjadi merona.
"Iya, kita sudah mempersatukan dua benda keramat."
"Bentar dulu! aku belum ingat semuanya."Mariska memegang dahinya berusaha mengumpulkan kesadaran.
"Masa kamu lupa sama kenikmatan semalam."Robert terkekeh.
"Pasti setelah ini aku hamil, gimana ini? kamu harus tanggung jawab."wajah Mariska berubah menjadi panik.
"Ris, aku pasti tanggung jawab lah. Kamu kan istriku."Robert merapatkan tubuh keduanya.
"Kok semalam aku bisa khilaf gitu ya?"
"Khilaf apaan? kita melakukannya dengan kesadaran penuh.
"Robert, aku sudah nggak perawan lagi. Kamu sudah mengambil mahkotaku."Mariska memukul dada suaminya dengan kesal.
"Aw! kebiasaan suka mukul. Seharusnya kamu bersyukur Ris. Kamu nggak jadi perawan tua. Memangnya kamu mau tetap perawan sampai tertimbun tanah dan diperawani sama cacing tanah?"
"Ihk! serem banget."
"Makanya jangan menyesal kayak gitu. Kita ini suami istri dan harus menyatu, menyatu raga dan pusaka."
"Ya Allah, mimpi apa aku memiliki suami seperti kamu."Mariska mencubit pipi Robert.
"Akh...."Desah Robert dengan suara sensual.
"Heh, kenapa malah mendesah sih. Kampret benar suamiku! Mariska menarik hidung mancung sang suami.
"De$@han kamu merdu Mariska."Robert terkekeh.
"Sudah ah, Jangan bahas itu mulu. Mending sekarang kita mandi biar nggak kesiangan."
"Mandi bareng ya, sayang? Robert tersenyum getir.
"Ogah, entar kamu malah modus lagi."Mariska Turun Dari ranjang dan menarik selimut yang menutupi tubuh keduanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"
__ADS_1