Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 33. UNDANGAN ULANG TAHUN


__ADS_3

"Din, kamu jadi pulang bareng aku kan?"tanya Bima ketika mereka sudah berada di parkiran.


Memang sejak awal mereka mengetahui kalau hari ini Mariska akan merayakan hari ulang tahunnya malam hari nanti, saat di kantin mereka sudah janji untuk membeli kado barang-barang.


Setelah jam pelajaran terakhir selesai, semua mahasiswa langsung mengambil kendaraan mereka dan meninggalkan kampus.


"Din, aku sama Robert duluan ya mau nyari hadiah buat Mariska,"ucap Rian Seraya memakai helmnya.


"Eh, si Mariska nggak pulang bareng kamu?"tanya Andini sebelum Mariska menjalankan kuda besinya.


"Enggak! dia sudah pulang duluan, katanya mau nyiapin buat pesta malam nanti. aku duluan ya, bye! teriak Rian Seraya menjalankan motornya keluar dari kampus.


"Din, Ini helmnya!"Bima menyodorkan helm ke arah Andini.


Baru saja Gadis itu akan menerimanya, tetapi bunyi telepon menghentikan gerakan tangannya.


Andini langsung mengambil ponselnya dari saku celananya. Sebuah pesan masuk.


"Pulang bareng saya!!! pesan Whatsapp dari Dimas.


Pesan itu memakai tanda seru lebih dari satu, itu artinya seseorang yang menyampaikan pesan tersebut seolah tak mau dibantah.


Andini membuang nafas kasar sambil mengendarkan pandangannya ke sekeliling.


Namun, matanya langsung menangkap seorang pria yang sedang berjalan ke arah parkiran sambil menunduk bermain ponsel.


"Pak Dimas,"gumamnya dalam hati sembari menggigit ujung jarinya.


"Emmm....Bim, sorry ya kali ini aku nggak bisa pulang bareng kamu. Sekali lagi sorry ya, kamu balik duluan aja!"


"Loh, kenapa Din? Terus kamu pulang sama siapa?


"Aku.... Aku mau dijemput sama kakak Herlan. tadi dia mengirim pesan dan udah di jalan. kamu pulang sekarang ya! Andini setengah mendorong tubuh kekar Bima ke arah motornya, agar pria itu segera pergi dari parkiran sebelum Dimas tiba di tempat tersebut.


"Iya, aku pergi sekarang. Kamu hati-hati ya!" Bima memakai helmnya dengan segera naik ke atas motor CBR miliknya.


"Iya, Kamu juga hati-hati ya, Bim!"Andini melambaikan tangannya mengiringi motor Bima yang mulai melaju keluar dari gerbang.


"Kamu lagi ngapain?"tanya Dimas yang datang secara tiba-tiba dari arah samping dan cukup mengejutkan Andini yang sedang menatap motor Bima, yang kini sudah menghilang dari pandangannya.



Visual Andini

__ADS_1


"Enggak, Saya cuman lagi senang jari, iya senam jari begini. Karena tadi di kelas nulis lumayan banyak."jawab Andini Seraya menggerakkan jemarinya tentunya dia berbohong. Ia mengira kalau Dimas tidak mengetahui apa yang ia lakukan karena sebelumnya Dimas sudah melihat keberadaan Bima di sana.


"Masuk mobil!"titah Dimas dengan nada datar tapi terdengar menyeramkan di telinga istrinya.


Andini menghentakkan kaki dan masuk ke dalam mobil tanpa basa-basi. Andini sudah berpikir bagaimana ia esok harinya akan ikutan balapan sesuai dengan janjinya kepada Morris walaupun motor miliknya tidak ada tapi Morris berjanji meminjamkan motornya untuknya.


Apalagi hadiah yang dijanjikan kali ini cukup fantastis. Ia ingin memiliki hadiah itu agar sebahagian dari hadiah itu ia sumbangkan untuk anak-anak gelandangan.


Dimas langsung menyusul dan duduk di kursi kemudi.


Tanpa ada pembicaraan lagi, pria itu segera menjalankan roda empatnya meninggalkan kampus yang mulai sepi.



visual Dimas


"Kamu mau pergi ke mana dulu?"tanya Dimas setelah beberapa menit hening.


"Nggak kemana-mana,"balas Andini dengan nada yang terdengar kesal.


"Maksud saya, kamu mau beli sesuatu untuk hadiah ulang tahun temanmu itu?"


"Hadiah buat Mariska?"


"Bapak mau datang juga ke ulang tahun dia?"Andini melirik sekilas ke arah suaminya.


"Iya,"balas Dimas singkat.


"Bapak tuh kalau ditanya jawabannya iya iya aja, kayak nggak ada jawaban lain, basa-basi gitu kek."kesal Andini.


"Kan memang iya. Terus saya harus jawab apa? tidak mungkin tidak kalau iya jawabannya."ucap Dimas datar tanpa menulis sedikitpun ke arah sang istri.


"Kenapa? kamu nggak mau saya pergi ke ulang tahun teman kamu?"


"Ya sudah. Sekarang kita cari hadiah buat Mariska. Tidak enak juga kan, nggak ngasih hadiah padahal sudah diundang."ucap Dimas


"Kita?"Andini menatap ke arah suaminya dengan dahi mengerut.


"Iya Memangnya kenapa?"kok kamu seperti terkejut begitu?


"Bapak mau ngasih hadiah juga buat Mariska?"tanya Andini kembali dengan raut wajah yang terlihat semakin kesal karena ia mengetahui Mariska begitu mengidolakan sang suami. Entah mengapa, ada gurat kekesalan setiap kali Mariska selalu memuja-muja suaminya sendiri. Entah perasaan apa yang dimiliki Andini terhadap Dimas ia belum memahaminya sama sekali. tapi yang pasti Andini tidak suka kalau Dimas dekat dengan wanita lain.


"Kenapa sih? hari ulang tahun itu adalah hari yang sangat membahagiakan. Hari yang selalu ditunggu dari tahun ke tahun. Jadi wajar dong kita memberikan hadiah kepada orang yang sedang berbahagia karena bertambahnya usia."jelas Dimas panjang lebar yang membuat Andini meremas jemarinya sendiri dengan Gigi mengerat, menahan kekesalannya.

__ADS_1


"Terserah bapak!"ucap Andini dengan wajah merona dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kamu cemburu saya ngasih hadiah ke orang lain?"padahal itu hal yang wajar kalau orang lain mengundang kita ke ulang tahunnya, sudah sewajarnya kita memberikan hadiah ulang tahun untuknya. Agar dia semakin bersemangat menjalani hari-harinya."ujar Dimas.


"Enggak! Siapa yang cemburu? Lagian gak ada gunanya juga saya cemburu."


"Nggak cemburu, tapi cuman kesal, ya?"tanya Dimas dengan senyum menggoda, tapi pria itu senyum dengan Tatapan yang tertuju ke arah jalanan sehingga membuat Andini merasa senyuman itu bukan untuk dirinya.


"Bapak kalau senyum tuh lihat ke orang dong! jangan ke arah lain, kan jadi kayak senyum-senyum sendiri,"ucap Andini protes karena ia melihat Dimas mengalihkan pandangannya saat mengembangkan senyumnya seolah-olah dirinya tidak ingin senyumannya dilihat oleh Andini sang istri.


Seketika Dimas langsung menoleh ke arah istri dan tersenyum manis.


Sebuah senyuman pertama kali Andini lihat.


Bahkan Gadis itu terdiam sejenak Baru kali ini Ia melihat suaminya tersenyum hangat.


Wajah dinginnya seketika hilang, kadar ketampanannya itu semakin bertambah.


"Ehm... tuh kan kalau saya senyum kamu malah terpesona,"celetuk Dimas membuat Andini langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Enggak! Siapa yang terpesona? tingkat kepercayaan diri Bapak, terlalu tinggi."Andini masih memalingkan wajahnya.


"Masa sih? Coba lihat ke arah!"


"Nggak mau!"


Tampa diduga, Dimas memegang dagu Andini dan memalingkan wajah sang istri ke arahnya.


"Tuh kan, hidungnya kembang kempis. Kamu pasti terpesona sama ketampanan saya."Dimas tersenyum jahil.


"Ih apaan sih? tingkat kepercayaan diri Bapak tinggi banget. Awas kalau terlalu tinggi, nanti jatuh terlalu sakit."Andini menepis tangan suaminya dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Roda empat itu terus melaju, Dimas membelokkan mobilnya ke sebuah Mall.


Mata Andini langsung berbinar ketika suaminya mulai memarkirkan mobil di pusat perbelanjaan itu. Bagaimana tidak, semenjak dirinya menikah dengan Dimas, ia belum pernah pergi ke mana-mana. Bahkan untuk nongkrong dengan teman-teman geng motornya juga tidak pernah. Sehingga teman-temannya pun kecarian, bahkan di grup WhatsApp mereka selalu menanyakan Andini menghilang begitu saja.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2