
"Mau ke mana?"tanya Dimas ketika melihat Andini berjalan dengan cepat sambil membawa tasnya.
"Ke kampus,"jawab Andini cepat tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Ini Masih pagi sekali, sementara kamu ada kelas jam sepuluh. Aku juga masuk ke kelas kalian jam pertama.
"Aku ingin bertemu dengan Mariska." ucap Andini sambil keluar dari rumah tetapi Dimas langsung menarik tangannya.
"Kamu marah gara-gara tadi?"
Dimas menatap Andini yang sedang memalingkan wajahnya.
"Saya hanya tidak suka!"Gadis itu melepaskan tangan suaminya dan segera berlari keluar.
"Kita berangkat bareng!"lagi-lagi Dimas menarik tangan Andini yang berjalan dengan cepat. Dimas menarik istrinya dan segera membuka pintu mobil.
"Masuk!"titahnya dengan tegas.
"Bisa nggak sih kita berangkat masing-masing?"
"Ngak bisa! kau itu tanggung jawabku. Kau istriku, sudah kewajibanku untuk menjagamu. Dimas sedikit mendorong tubuh Andini agar masuk ke dalam mobil.
Setelah itu ia ikut masuk, dan segera menjalankan roda empatnya.
Di sepanjang perjalanan Andini tak berbicara sedikitpun.
Wanita itu menutup mulutnya rapat-rapat bahkan matanya tak melirik sedikitpun ke arah Dimas.
Sekitar lima belas menit kemudian perjalanan, tetap hening. Tak ada yang mau berbicara duluan.
Andini kesel. Karena Dimas telah berani memegang tubuhnya tanpa izin.
Sedangkan Dimas kesal, karena Andini tak mau disentuh. Ataupun hanya sekedar dipegangnya.
Padahal betapa tersiksanya ia terus-terus menahan hawa nafsunya.
Terlebih lagi jika dekat dengan sang istri, jiwa ke laki-laki nya seakan bangkit.
"Stop! Dimas langsung menghentikan mobilnya ketika satu kata itu keluar dari mulut istrinya.
Tanpa basa-basi lagi, Andini langsung turun dari mobil dan setengah berlari masuk ke dalam gerbang kampus.
BUGH!!
Dimas memukul stir dengan tangannya, "Kenapa Dia malah seperti orang bodoh?"
Padahal dulu saat berhubungan dengan seseorang, ia sempat diajak tidur bersama, tetapi Dimas menolaknya karena mereka belum menikah.
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa Andini bukan wanita yang tepat dia jadikan istri?
Suasana kampus masih sepi, belum banyak mahasiswa yang datang karena waktu masih pagi.
Teman-teman Andini pun belum ada yang datang, biasanya kurcaci kurcaci itu akan datang secara bersamaan.
__ADS_1
Andini memutuskan pergi ke kantin terlebih dahulu, untuk sekedar ngeteh di sana sambil menunggu teman-temannya.
Andini mengendarkan pandangannya, bahkan suasana di kantin masih sepi. Hanya beberapa orang saja beserta pengelola kantin.
Andini langsung memesan makanan dan duduk di kursi bagian pojok belakang.
"Hai, Din! Aku duduk di sini ya!"suara itu langsung membuat Andini mendongakkan kepalanya.
Netranya hampir membulat ketika melihat seorang pria sedang tersenyum lembut padanya. Sebuah senyuman yang sudah lama tak ia lihat.
"Bagas!"ucapnya sedikit kaget.
"Iya, aku boleh kan duduk di sini?"pria berpenampilan cool itu menunjuk ke arah bangku di sebelah Andini.
"Iya boleh."balas Andini tergagap. Jujur Saja Andini sangat kehilangan sahabat dekatnya Bagas. Semenjak Bagas memilih menjalin hubungan dengan Almira. Padahal dulunya Andini dengan Bagas begitu dekat. Bahkan orang menganggap mereka pasangan kekasih. Padahal hubungan antara mereka hanya dengan sahabat dekat.
Terlalu banyak kenangan-kenangan Andini dengan Bagas. Dulu Bagas sering menemani Andini, jika ada adu balap bersama geng motornya. Bagas juga kerap sekali menemani Andini untuk menemui anak-anak jalanan yang kurang beruntung untuk sekedar memberikan makanan ataupun rezeki yang didapatkan Andini untuk berbagi sesama.
"Din, kamu kenapa kayak takut gitu? bukankah kita sering bareng duduk di kantin seperti ini."Bagas menatap ke arah Andini sambil tersenyum.
"Iya, itu dulu. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda."Andini memalingkan wajahnya ke arah lain, menyembunyikan wajah sendunya.
"Sorry ya, Din. Tapi kalau boleh jujur sebenarnya aku lebih nyaman dekat dengan kamu."ucap Bagas sambil meraih tangan Andini yang terletak di atas meja.
Andini cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh mantan sahabat dekatnya.
Kenapa Bagas tiba-tiba bersikap manis padanya?
"Din, Aku harap kita bisa seperti dulu lagi."ucapnya dengan wajah penuh harap
"Dasar pelakor!"
"Aduh....!
Almira yang baru tiba di kantin langsung menarik rambut Andini dengan kuat sampai membuat Andini mengadu kesakitan.
"Kamu masih berani deketin Bagas?"Almira semakin memperkuat tarikannya. Karena ia mengira dulunya Andini memiliki hubungan khusus dengan Bagas. Dan ia mengira kalau saat ini Andini berusaha kembali untuk mendekati Bagas.
"Aduh... Sialan! lepasin rambut aku!"bentak Andini sambil meringis menahan sakit.
"Almira lepasin!"Bagas membantu melepaskan tangan Almira dari rambut Andini.
Setelah itu, Andini bangkit dan mendekat ke arah Almira.
"Kurang ajar kamu, ya! Andini menjamak rambut Almira dengan keras.
"Aw! Lepaskan, dasar wanita murahan! Almira kembali menjambak rambut Andini.
"Almira, Andini, hentikan!"Bagas berusaha melerai kedua wanita itu.
"Astaga Andini! teriak Mariska dan Rian secara bersamaan. Lalu keduanya segera berlari ke arah sahabatnya.
"Gush itu Andini! Robert menunjuk ke arah Andini yang masih saling adu jambak dengan Almira.
__ADS_1
"Wah si Almira ngajak ribut lagi,"timpal Robert.
sementara Bima langsung mendekat dan membantu melepaskan tangan Almira dari rambut Andini.
"Dasar cewek gila!"cibir Almira setelah tangannya terlepas dari rambut Andini.
"Apa kamu bilang? aku gila? seharusnya yang orang gila itu kamu. Datang-datang sudah seperti kesetanan menjambak orang yang lagi santai, ngeteh.
"Berani-beraninya kamu deketin cowok aku!"Almira mendorong bahu Andini.
"Tuh tanya cowok kamu, Siapa yang dekatin siapa, cowok kamu yang datangin aku ke sini. tanya aja langsung sama orangnya. Nih! orangnya di sini."ucap Andini sambil mengarahkan netranya ke arah Bagas.
"Jamu yang kegatalan!"
"Almira cukup! aku yang datang ke sini menemui Andini! tukas Bagas yang membuat Almira langsung menatap ke arahnya.
"Sayang, kok kamu gitu? kok malah membela wanita murahan ini?"Almira memayumkan bibirnya.
"Memangnya kenapa? Aku capek sama sikap kamu yang manja dan kekanak-kanakan."setelah mengatakan itu Bagas langsung pergi meninggalkan kantin, membiarkan Almira di sana tanpa peduli sama sekali.
"Bagas tunggu! Almira berlari mengejar langkah kekasihnya.
"Huuuu...."teriak Mariska, Rian ,Robert dan Bima.
"Din, kamu nggak Apa apa kan?"Bima mengusap kepala Andini.
"Nggak, cuma rambut aku rasanya kayak mau copot semua. Memang sialan tuh si Almira!"Andini merapikan kembali rambutnya yang acak-acakan.
"Jangan copot dong, masa cantik-cantik botak?" kamu kan princess kita."Ciledug Robert sambil terkekeh.
"Ha-ha...ha... aku Nggak kebayang si Andini botak." timpal Mariska sambil memecahkan tawanya.
"Sialan kalian berdua. Aku doain jodoh! ucapk Andini dengan kesal saya duduk kembali.
"Ah? aku jodoh sama Robert? astagfirullah. Mariska menggerakkan kedua bahunya.
"Ngak boleh gitu, benci dan Cinta itu beda tipis timpal Robert yang membuat mereka semakin kesal.
"Heh, jangan asal ngomong, jodohku itu Pak Dimas my handsome sejagad universitas." seru Mariska mengibaskan rambutnya ke arah Robert.
Andini menatap tak suka ke arah Mariska, ketika menyebut nama suaminya.
Entah kenapa, Ia merasa tak nyaman ketika mendengar Mariska mengaku-ngaku Dimas sebagai jodohnya.
Padahal Ia sendiri selalu kesel sama sikap suaminya.
Entahlah, ia tak suka Dimas dekat dengan perempuan lain. Tapi ia sendiri tak mau
didekati.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN