Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 178. OCEHAN MAMANYA MARISKA


__ADS_3

Ketika Andini memberitahu kalau Mariska saat ini berada di rumah sakit karena mengalami pendarahan, Dimas langsung mengarahkan mobilnya ke arah rumah sakit dimana Mariska berada saat ini.


"Kamu serius, Mas kita langsung ke sana sekarang?" tanya Andini.


"Iya, kita ke sana dulu, baru ke hotel."sahut Dimas singkat.


"CK.... bakalan lama dong!"gerutu Erin dengan nada suara kesal.


"Sudah, kamu diam saja!"titah Dimas yang membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit.


Tak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit.


Andini dan Dimas langsung masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ruangan dimana Mariska dirawat saat ini. Karna sebelumnya Robert sudah memberitahu kepada Andini melalui pesan WhatsApp, dimana ruangan istrinya berada.


Sementara Erin berjalan dengan santai di belakang keduanya. Namun, ketika wanita itu melihat sosok pemuda yang ia cintai dari kejauhan matanya langsung berbinar.


Erin semakin mempercepat langkahnya, bahkan wanita itu mendahului langkah Andini dan Dimas.


"Sayang, kamu ada di sini juga?"ucap Erin yang langsung merangkul lengan Bima.


Pemuda itu terkejut karena kedatangan Erin secara tiba-tiba yang langsung merangkulnya.


"Ye illeh, bau perbucinan ini ma sudah di dalam mata."celetuk Ricky yang baru akan membuka pintu ruangan tempat Mariska dirawat.


"Erin, kamu kok ada di sini? tanya Bima dengan mata yang menatap ke arah sang kekasih.


"Aku ke sini sama mereka." Erin menunjuk ke arah Dimas dan Andini yang berjalan ke arahnya. Tatapan Dimas sudah menajam ketika melihat Bima berdiri di depan ruang rawat inap Mariska. Dia seolah-olah ingin menelan Bima hidup-hidup. Dan membumihanguskan Bima dari muka bumi ini.


Padahal, Ia membawa Erin supaya adiknya itu tidak menyuruh Bima datang ke rumah untuk menemuinya. Tapi kenapa malah mereka bisa bertemu di rumah sakit?"


"Erin! teriak Dimas dengan suara meninggi dan penuh penekanan. Pria itu mengarah telunjuknya pada tangan Erin yang menggandeng lengan Bima. Namun ,wanita itu tidak langsung melepaskan gandengan tangannya, meskipun tatapan sang kakak terlihat bagai sebuah busur panah yang yang siap ingin menusuk pria yang sangat ia cintai.


"Erin, jangan seperti ini. Aku takut Pak Dimas marah." bisik Bima sambil melepaskan tangan Erin dari genggamannya.


"CK ... Kenapa sih Kak? Orang cuma gandengan tangan doang."protes Erin dengan wajah kesal. Dia tidak mengetahui bagaimana kekesalan Dimas kepada Bima. Dan Erin juga tidak mengetahui kalau Bima sebenarnya sangat mencintai istri kakaknya itu.


"Tetap tidak boleh!"balas Dimas dengan langkah yang semakin mendekat.


"Kenapa nggak boleh? nggak nyadar apa, dari tadi istrinya gandeng tangan Kakak terus, udah kayak magnet,"carocos Erin sambil menunjuk ke arah tangan Andini yang menggandeng lengan Dimas.

__ADS_1


"Apa kamu tidak tahu, kakak ipar kamu ini sudah halal menggenggam jemari kakak!" kalau kamu sama sekali belum. Itu haram hukumnya." balas Dimas


"Oh gitu ya. Ya udah, Sayang. Kamu segera halalin Aku, biar dia nggak marah lagi kalau kita gandengan." ucap Erin sambil menengadahkan kepala menatap ke arah Bima.


"Erin jangan sembarangan kalau bicara! kamu pikir nikah itu gampang? Lagian kakak tidak akan merestui pernikahan kalian."


"Bodo amat, kan yang jadi Wali Aku saat nikah itu Papa bukan kakak."balas Erin kembali yang membuat darah kakaknya semakin mendidih.


"Awas kamu ya!"Dimas menunjuk ke arah Erin dengan garam.


"Mas udah, kita ke sini mau jenguk Mariska, Kenapa kalian malah berantem sih?"Andini melerai pertengkaran suami dan adik iparnya itu.


"Astaga! Aku sampai lupa. Maaf ya Sayang aku jadi sensi lagi." Dimas menatap ke arah istri yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Ya sudah, kita masuk saja. Ricky, kamu sama dia tunggu di luar sampai kami keluar!"titah Dimas sambil menunjuk ke arah Ricky dan Bima.


"Baik Pak, silakan masuk!"Ricky membuka pintu itu dan mempersilahkan dosennya itu masuk terlebih dahulu.


"Erin, cepat masuk!"tidak Dimas dengan penuh penekanan.


"Sku menunggu di luar saja. Lagian aku nggak tahu siapa yang sakit."balas wanita itu sambil memutar bola matanya malas.


"Kalian jangan masuk, sebelum kami keluar!"ucap Dimas sekali lagi ke arah Ricky dan juga Bima


"Siap Pak, saya juga akan menjaga Bima." Ricky menyadarkan sikunya pada bahu Bima yang langsung ditepis oleh pemuda.


"Dimas, Erin dan Andini masuk secara bersamaan ke dalam ruang rawat inap Mariska.


Terlihat Mariska sedang berbaring lemah dengan cairan infus yang terus mengalir pada tubuhnya. Jarum infus itu tertancap langsung di punggung tangan Mariska.


"Astagfirullah Mariska. Mariska Kenapa bisa jadi seperti ini? tanya Andini setelah bersalaman dengan kedua orang tua Mariska.


Andini segera mendekat ke arah sahabatnya yang berbaring dengan tubuh lemas.


"Terima kasih, ya. sudah menjengukku." balas Mariska dengan senyum yang mengembang pada bibir pucatnya.


"Pasti dong. Aku pasti datang menjenguk kamu. Karna aku mengkhawatirkan keadaan kamu. Eh tapi Bagaimana keadaan janin kamu, baik-baik saja kan?" tanya Andini dan mata yang tertuju ke arah perut sahabatnya.


"Alhamdulillah kandungan aku masih baik-baik saja ." Jawab Mariska yang membuat Andini membuang nafas lega.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Oh iya suami kamu di mana? kok nggak kelihatan."Andini menelisik seisi ruangan, tapi ia tidak melihat sosok Robert di sana.


Namun, tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dan membuat semua mata tertuju ke arahnya.


"Robert habis lihat Mama ." jawab Mariska dengan mata yang masih tertuju ke arah suaminya.


"Mama? maksud kamu Mamanya Robert juga masuk rumah sakit? tanya Andini kembali dengan wajah terlihat kaget.


"Iya Din, Mama aku juga dirawat di rumah sakit, kondisi Mama aku tadi drop. Oh ya terima kasih banget ya kalian sudah menjenguk istri aku. Pak Dimas dan Erin juga terima kasih banyak sudah jenguk Mariska." tutur Robert sambil mendekat ke arah istrinya.


"Sama-sama Robert. Semoga istri kamu cepat sembuh ya." ucap Dimas yang langsung diiringi kata amin oleh mahasiswanya itu.


"Bagaimana keadaan Mama, Robert? tanya Mariska dengan suara yang masih terdengar lemah."


"Alhamdulillah Mama udah senyuman Sayang." balas Robert dengan tangan yang mengusap lembut kepala istrinya.


"Sudah Jangan pikirkan keadaan orang lain dulu. Kondisi kamu saja masih seperti ini!" celetuk Mamanya Mariska sedari tadi dia memperhatikan obrolan putrinya.


"Ma apaan sih? ucap Mariska dengan nada kesal


"Andini, kamu tuh enak ya punya suami seorang dosen. Pasti kamu nggak pernah disuruh kerja ini dan itu." celetuk Mamanya Mariska kembali dengan wajah judesnya.


"Mama! Robert nggak pernah nyuruh Mariska kerja!"sangkal Mariska yang mulai geram dengan ucapan mamanya.


"Coba aja kamu seberuntung Andini. Menikah dengan seorang dosen dan pengusaha besar. berpendidikan tinggi dan mempunyai perusahaan besar." cerocos Mamanya Mariska yang mampu membuat Andini mengerutkan keningnya.


Lagi-lagi perusahaan besar terdengar jelas di telinga Andini. Padahal Andini sama sekali tidak mengetahui kalau suaminya itu memang memiliki perusahaan besar. Yang ia tahu, Dimas hanya seorang dosen dan baru saja merintis bisnis memiliki hotel yang saat ini ia kelola. Bukan seperti perusahaan besar yang dikatakan oleh Mamanya Mariska.


"Maksud tante apa ya? Suami saya memiliki perusahaan besar?


"Tidak apa-apa sayang, namanya juga Tante sedang emosi. Tante hanya mengkhawatirkan Mariska."Dimas sengaja mengalihkan pembicaraan. Berharap Mamanya Mariska tidak ngoceh lagi, yang dapat membuka rahasia Dimas yang ditutupi oleh Dimas dan keluarga Andini.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2