Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 238. MASIH MANJA


__ADS_3

"Sudah, ahk. Kita pulang sekarang, aku sudah nggak betah di sini."Andini berjalan terlebih dahulu ke arah pintu.


"Tunggu dulu! kita keluar barengan."Dimas membawa tas yang berisi keperluan mereka dan mengejar melangkah istrinya.


"Ya ampun, keluar aja harus barengan segala."Andini menghancurkan langkah dan menunggu suaminya.


"Kalau sendiri-sendiri, nanti aku ada yang menggandeng, kan kamu sendiri yang rugi.


"Idih, Pede amat, Pak."Andini menggandeng dengan suaminya dan keluar secara bersamaan dari ruangan itu.


"Mas, kata Kak Herlan, semalam si Ricky masuk rumah sakit ya?"apa kita jenguk aja dulu, sekalian ada di sini."ajak Andini saat mereka berjalan melewati deretan kamar pasien.


"Boleh, tapi ruangan mana?"


"Katanya semalam sudah dipindahin ke ruang rawat inap nomor berapa, ya? terakhir kan Bang Herlan jenguk lagi tuh sebelum pulang.


"Melati 17."jawab Dimas dengan cepat.


"Nah, bener ini. Berarti di sebelah sana."Andini menuju ke arah sebelah kanan dan langsung mengajak suaminya berbelok ke kanan.


Keduanya berjalan menuju ruang melati 17 yang menjadi ruangan Ricky dirawat.


"Ayo masuk, Mas!"ajak Andini sambil membuka pintu ruangan itu.


"Permisi.."Dimas tak melanjutkan ucapannya ketika melihat apa yang sedang terjadi.


Ricky sedang disuapi oleh seorang pria bertubuh kekar, tetapi Ricky terlihat sedang marah-marah.


"Kamu pikir saya ini lembu apa? masak menyuapi makanan sebanyak itu!"batu sriki saat seorang pria yang menjadi asisten Nisa yang akan menyuapkan satu sendok penuh bubur ke dalam mulutnya.


Bahkan, tak tanggung-tanggung pria bertubuh kekar itu menambahkan toping kerupuk di atas satu sendok bubur itu sampai terlihat muncung.


"Mulut Mas Ricky kan besar, masa segini aja nggak muat?"balas pria itu sambil kembali menyodorkan satu sendok bubur itu ke arah mulut Ricky.


"Jangan panggil Mas, geli banget aku. mana kamu yang nyuapin lagi, terus manggil Mas lagi. Kan kesannya kayak kamu itu istri aku!"bantah Ricky dengan kesal.


"Heh, enak aja. Saya ini masih normal. mana mungkin saya suka batangan Sementara saya juga punya batang."sangkal pria itu.


"Batang-batang, kamu kira pepohonan?"balas Ricky kembali.


"Hahaha... sabar Ricky, sabar!"ucapkan dini Serayu mendekat karena sahabatnya yang masih terbaring di atas branker pasien.


"Loh, kok Kalian ada di sini? tanya Ricky dengan wajah bingung saat Dimas dan Andini telah berdiri di dekatnya.


"Sudah dari tadi kali, masa kamu nggak lihat?"


"Mana bisa aku lihat kamu yang ada dua ujung sana! leher aku aja nggak bisa digerakkan."jelas Ricky.


"Ya ampun, ngenes banget nasib kamu."timpal Andini.

__ADS_1


"Kronologinya gimana Ricky, Sampai kamu bisa kayak gini?"tanya Dimas.


"Ceritanya panjang Pak. Tak cukup satu episode."


"Ya sudah, sekarang kamu lanjutkan makan saja dulu. Biar cepat sehat,"balas Dimas kembali.


"Males Pak. Masa saya disuapi sama modelan begini. Entar saya kena bisa tangannya, Kan bahaya."Ricky menunjuk ke arah pria bertubuh kekar dengan ekor matanya.


"Dikira tangan saya ini ular kobra apa?"protes pria bertubuh kekar itu.


"Diam! kamu punya wewenang untuk bicara di sini!"timpal Ricky dengan kesal.


"Sombong, mentang-mentang punya istri bos,"balas pria bertemu kakak itu kembali dengan senyum mengejek.


"Heh, bisa diam nggak!"


"Selamat siang!"ucap seorang wanita cantik Seraya masuk ke dalam ruangan itu.


"Siang."balas Andini dan Dimas serentak.


"Suang Non Nisa."pria bertemu kekar itu segera bangkit dari duduknya saat Nisa berjalan mendekat.


"Ada yang jenguk ternyata."ucap Nisa kepada Andini dan Dimas dengan tersenyum ramah.


"Iya, Mbak. kebetulan kita juga baru mau pulang."jawab Andini.


"Istri saya, kemarin sempat mengalami kontraksi."kini giliran Dimas yang menjawab.


"Terus, sekarang sudah sembuh?"tanya Nisa kembali dengan raut wajah khawatir.


"Alhamdulillah sudah, Mbak."


"Dari tadi ditungguin, sekalinya datang malah nanyain kabar orang lain. Suaminya sendiri yang jelas-jelas lagi sakit dicuekin."Ciletuh Ricky yang membuat Nisa langsung menoleh ke arahnya.


"Maaf, sayang. Aku lupa kalau kamu lagi sakit."Nisa mendekat ke arah suaminya sambil terkekeh.


"Terlalu banget, baru saja sakit aku sudah dilupain, Apalagi sudah wafat pasti langsung pasang poster dan buat pengumuman kalau kamu adalah janda."kesal Ricky yang malah membuat Andini dan Dimas hampir tertawa.


"Hahaha...., yang lagi sakit sensi banget."ini Saya tertawa Seraya memeluk dan menjemputnya suaminya dengan lembut.


****


Setelah dari rumah sakit, Andini mengajak Dimas untuk pulang ke rumah orang tuanya. dia merasa tidak nyaman dan kesepian jika berada di rumah sendirian, Walaupun ada beberapa asisten rumah tangga Tetapi dia merasa tidak nyaman. apalagi ketika suaminya sedang pergi ke kantor.


Setelah mengantarkan Andini ke rumah orang tuanya, Dimas memilih untuk berangkat ke kantor. Walaupun hari ini tidak masuk ke kampus, tetapi pria itu harus melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan.


Seharian ini, Andini menghabiskan waktunya bersama Rian. Kedua wanita yang tengah berbadan dua itu nonton di ruang televisi.


Namun, di saat keduanya telah serius Menatap layar televisi di hadapannya, terdengar suara isakan dari belakang.

__ADS_1


"Rian, itu suara apaan?"tanya Andini Seraya menyenggol lengan Rian.


"Kayak suara orang nangis nggak sih? Ryan kembali bertanya.


Kedua wanita itu tak berani menoleh sedikitpun, sorot mata kedua sahabat itu masih tertuju ke arah layar televisi.


"Kamu sih, Rian. ngapain pakai matiin lampu segala!"


"Kan, kesannya biar kita kayak lagi nonton bioskop."


Mereka sedang menonton dengan keadaan gelap, Rian sengaja mematikan lampu di ruangan itu. Walaupun hari menjelang sore, Tetapi keadaan di dalam rumah tetap terlihat gelap.


"Tapi, ini kesannya malah horor. Padahal, menonton drama romantis kayak gini.


"Hiks...Hiks....Hiks ..."suara isakan itu kembali terdengar semakin jelas.


"Rian, bulu ketek aku berdiri, merinding banget."Andini merapatkan tubuhnya pada Rian yang duduk di sampingnya.


"Aku juga, bulu hidung aku juga malah ikut berdiri."balas Rian.


"crazy, anjir!!"Andini tertawa cukup keras. Namun, suara isakan itu kembali terdengar dan membuat bibirnya kembali mengatup.


"Rian, sumpah ini horor banget. Kita cuman berdua kan di rumah ini?"


"Kayaknya sih gitu."


"Kok kayaknya sih?"Andini kembali menyenggol dengan Rian.


"Papa, Bang Herlan, Pak Dimas kan belum pulang. Mama juga katanya mau ke rumah tetangga yang lagi selamatan."jelas Rian.


"Kan, terus itu yang nangis siapa?"Coba deh kamu nyalain lampunya!"Dika Andini dengan suara ketakutan.


"Enggak ah, kamu aja!"cerita Rian kembali


"Ikh, kan kamu yang matiin lampunya.'


"Justru itu, karena aku yang matiin lampu, sekarang giliran kamu yang nyalain lampu."cerocos Rian


"Hiks hiks hiks...."suara tangis itu terdengar jelas dan panjang


"Astaga!!!!"teriak Andini dan Rian serentak.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2