
"Ciwi, kamu temani Kak Mariska di belakang ya!"titah Robert kepada sang adik.
"Iya Kak."Robert segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Mariska yang terus meringis kesakitan. Sementara Robert duduk di kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Huaaaa.... sakit!"teriak Mariska, seketika tangan Robert yang memegang setir mobil bergetar hebat, pria itu mengeluarkan keringat dingin dari pelipis dan juga telapak tangannya.
Robert melihat bayangan istrinya dari pantulan kaca spion yang membuatnya semakin bertambah panik saat melihat wajah Mariska yang memerah saat meringis kesakitan.
"Sayang, kamu tenang dulu ya!"kita lagi di jalan.
"Tenang-tenang! kamu pikir nggak sakit. Huaaaa..."teriak Mariska kembali dengan suara yang semakin kencang.
"Kamu tahan dulu, bentar lagi nyampe. dedek jangan dulu keluar ya, berabe kalau brojol di dalam mobil."celotehan Robert yang membuat Mariska ingin sekali menjabat rambut suaminya.
"Jangan keluar, jangan keluar dulu! biarin cepat keluar, perut aku sakit banget. Coba aja kalau kamu yang merasa sakit kayak gini, pasti nggak akan kuat. Huh...huh..huh.."Mariska ngos-ngosan setelah berbicara panjang lebar.
"Iya, sayang. makanya tenang dulu, tarik nafas!" titah Robert.
"Hua. ... sakit! cepetan bawa mobilnya!"dari aku Mariska dengan Rizal sakit dan membuat Robert semakin bertambah panik, pria itu menjalankan mobilnya dengan keadaan tak karuan.
"Ka Mariska tenang ya!" Ciwi memegang tangan kakak itu orangnya, berusaha menguatkan wanita itu.
"Robert cepetan! ini sudah ada di ujung tanduk!"teriak Mariska, refresh Robert menambah kecepatan laju roda empatnya.
Tiiiit!
bunyi klakson yang cukup panjang membuat Robert langsung menginjak rem, hampir mobilnya tertabrak sebuah truk yang melaju kencang dari arah kanan.
"Aw! Robert bisa bawa mobil nggak sih!"bentar Mariska saat tubuhnya hampir terjatuh dari atas jok karena Robert menghentikan mobil itu secara mendadak.
"Maaf sayang. tadi hampir saja mobil kita ketabrak,"jawab Robert Seraya menjalankan kembali roda empatnya.
__ADS_1
"Makanya hati-hati, sudah nyawa aku lagi di ujung tanduk huhuhuuuu....sakiiiit!"
Brum!
Robert kembali tancap gas dan menjalankan roda empat itu dengan kecepatan tinggi, sepanjang perjalanan Mariska terus-terusan berteriak hingga mereka tiba di sebuah rumah sakit.
Robert langsung memanggil perawat dan membawakan branker ke arah mobilnya.
Setelah itu, Mariska ditidurkan di atas pramuka dan langsung dibawa ke ruang bersalin.
Robert terdiam di ambang pintu ruangan itu, iya tak langsung ikut masuk ke dalam. wajahnya terlihat pias, bahkan lututnya bergetar hebat.
"Bapak, mohon temani istrinya saat bersalin!"kita seorang suster yang membuat jantung Robert berdebar hebat.
"Sus, saya tidak bisa menunggu di sini saja?"tanya Robert dengan wajah ketakutan.
"Sebaiknya Bapak ikut masuk ke dalam dan temani istri bapak. berikan semangat dan kekuatan untuk istri bapak yang sedang berjuang." tutur suster itu membuat kaki robot melangkah dengan cepat, masuk ke dalam ruangan itu.
Entah kenapa, Mariska yang akan melahirkan tetapi ia yang ketar-ketir tidak jelas, bahkan Robert terlihat ketakutan, pria itu takut ketika mendengar teriakan istrinya.
Robert mendekat ke arah branker yang kini sedang ditiduri istrinya. "Bu pahanya sedikit dibuka biar saya chat pembukaannya dulu."titah seorang dokter.
Namun, bukannya mendengar mereka malas semakin mengapitkan kedua pahanya sehingga membuat dokter itu sulit untuk menjangkau aset miliknya.
"Bu, pahanya direnggangkan sedikit!"tidak dokter itu kembali cara yang memisahkan kedua Pak Mariska yang menempel.
"Malu Dok!"teriak Mariska di Sela rintihannya.
"Bu, kami tenaga medis yang akan membantu ibu dalam proses melahirkan. mohon ikut arahan saya dengan benar!"tegas dokter itu yang mulai merasa kesal karena sudah dari tadi wanita itu menutup rapat-rapat area sensitifnya.
"Sayang, kamu ikuti arah dokter aja ya!"bisik Robert.
__ADS_1
Mariska membuka kedua pahanya dengan perlahan, dokter itu mulai mengecek pembukaan pada jalan lahir pasiennya.
Sementara seorang suster memasang jarum infus pada tangan Mariska.
"Huaaa....sakit!"teriak Mariska dengan suara yang seakan memenuhi ruangan itu.
"Baru pembukaan enam. Ibu harap tenang dan atur nafas,"Dita dokter itu setelah memeriksa bukaan pasiennya.
"Hah? baru bukaan enam? Memangnya sampai pembukaan berapa dokter? saya sudah nggak kuat ini,"tanya Mariska dengan wajah putus asa.
"Sampai pembukaan sepuluh."
"Oh my God!"teriak Mariska, Tetapi malah tubuh Robert yang melemas ketika mendengar jawaban dokter itu.
"Biasanya, setelah pembukaan enam, pembukaan selanjutnya akan menyusul dengan cepat. Ibu tenang dulu dan atur nafas, jangan mengejan sampai pembukaannya lengkap."tutur Dokter wanita itu yang membuat nafas Mariska terasa sesak.
"Huaaa.... tapi ini sakit banget dokter. tolong saya, Tolong saya sekarang! pinggang saya sekarang terasa putus! sakit banget!"teriak Mariska kembali.
"Sayang, tenang Sayang!"Aku ada di sini!"Robert menggenggam tangan istrinya, berusaha menguatkan wanita itu.
"Kamu ada di sini juga nggak ngurangin rasa sakit aku.Huaaa.......!!"Mariska menggenggam erat cuma ada suaminya dan memilih tangan robek sampai terdengar bunyi krek.
"Astagfirullah sayang. tangan aku hampir patah!"rintik Robert.
"Kamu cuman tangan, ini pinggang aku yang patah!"balas Mariska dengan tangan yang menarik kera baju Robert sekuat tenaga.
"Sayang, tahan dulu. tarik nafas dan burung perlahan!"titah Robert berusaha melepaskan kerah bajunya dari cengkraman sang istri.
"Tahan Bu, sedikit lagi. pembukaannya sudah bertambah,"ucap seorang dokter.
"Dokter Saya mau pup, gimana ini? teriak Mariska dengan keringat yang mengucur di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Bukan pup Bu, tapi ini sedang kontraksi, sebentar lagi mengejan."balas dokter itu.
Bersambung....