Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 170. ADU JOTOS


__ADS_3

Andini ikut bersama Dimas mencari Erin. Mereka sudah mencari kemana-mana, tapi mereka tak kunjung menemukan wanita itu.


"Kita harus mencari kemana lagi coba? Erin, Kenapa kamu menyusahkan sekali."Dimas Mama Kalau setir mobil, menuntaskan kekesalan.


Mereka sudah mencari Erin, bahkan hampir memang mengelilingi ibukota, Tetapi wanita itu belum ditemukan juga.


"Mas, tadi aku share foto Eren juga di grup persahabatan Andini. Terus, ini ada balasan dari Mariska,"ucap Andini sambil membuka pesan itu.


"Apa Katanya sayang?"tanya Dimas dengan Tak sabar.


"Mas, ini beneran Erin, kan? dia ada di cafe Mariska dan Robert, tapi kok dia bareng sama si Bima, ya!"Andini menunjukkan foto yang dikirim oleh Mariska ke hadapan suaminya.


"Ngapain dia di sana? sama laki-laki itu pula. kita harus ke sana sekarang! tanpa menunggu lama lagi, Dimas langsung menjalankan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Mas, apa pacarnya Erin itu si Bima? soalnya motor yang menghantarkan Erin kemarin mirip sekali motor Bima.


"Mungkin. kurang ajar sekali dia membawa kabur adikku!"Dimas menggenggam setir mobil itu dengan erat, sepertinya emosi pria itu semakin meningkat.


Andini menatap suaminya dengan perasaan yang tak karuan, Ia takut Dimas marah besar.


pria itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ya sudah tidak sabar untuk segera sampai di tempat tersebut.


"Perut kamu aman kan, kalau aku ngebut!"Dimas bertanya kepada Andini karena dirinya mengkhawatirkan kandungan istrinya.


"Aman, Mas,"jawab Andini dengan segera. Tak lama kemudian, mereka tiba di tempat tujuan.


setelah memarkirkan mobilnya di depan Cafe kampung kecil.


Setelah memarkirkan mobilnya di depan Cafe kampung kecil yang mulai ramai, Dimas segera keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat, masuk ke dalam kafe tersebut.


Andini mengikuti langkah suaminya dengan tergesa-gesa.


"Erin! ternyata kamu di sini!"panggil Dimas dengan suara keras yang membuat Erin dan Bima langsung menoleh ke arahnya.


Mata gadis itu, ketika melihat sang Kakak sedang menatapnya dengan nyalang.


"Kakak ....,"Panggil Erin dengan nada ketakutan.


"Cepat pulang!"titah Dimas dengan Gigi mengerat.


"Pak Dimas! Erin, jadi kamu adiknya Pak Dimas?"tanya Bima dengan raut tak percaya.


"Iya, dia adik saya. berani-beraninya kamu membawa kabur adik saya!"Dimas menatap Bima dengan tajam, tangan pria itu mengepal dengan erat.


"Tidak, saya tidak membawa kabur Erin,"sangkal Bima.


"Bohong!"


"BUGH!!!


Dimas menarik kerah baju Bima dan melayangkan pukulan keras pada wajah pemuda itu. Seketika darah segar mengalir dari sudut bibir Bima.

__ADS_1


"Mas, tenang!"Andini memegang tangan suaminya yang masih mengepal sempurna. sementara Robert, Mariska, Ricky dan juga beberapa orang lainnya, mendekat ketika mendengar keributan itu.


"Saya tidak membawa kabur adik bapak. dia sendiri yang mengikuti saya!"ucap Bima sambil menyeka darah pada sudut bibirnya.


"Kurang ajar!"


"BUGH !!


Dimas kembali melayangkan tinju ke arah Bima, sampai membuat wajah pemuda itu babak belur.


"Bima! Kak Dimas, stop!"Erin mendekat ke arah Bima dan memegang lengan pria itu.


"Kamu, pulang sekarang!"Dimas menarik tangan Eren yang menggenggam lengan Bima.


"Nggak mau! Eren baru sama lepas tangannya dari genggaman sang kakak.


"Pulang! wanita macam apa kamu yang kabur dari rumah dan mengikuti laki-laki seperti dia!"Dimas menarik kembali tangan Erin, sampai genggaman Erin pada lengan Bima terlepas.


Pria itu menyeret adiknya keluar dari Cafe dan memasukkan tubuh Erin ke dalam mobil dengan paksa.


"Gush, sorry kalau Cafe kalian jadi kacau begini,"ucapkan dini kepada Mariska dan Robert


"Nggak apa-apa, Din. kita juga awalnya nggak tahu kalau si Erin itu adiknya Pak Dimas."balas Mariska


"Ya, sudah. aku pamit dulu ya! sekali lagi maaf ya woi."Andini keluar dari Cafe itu dan mengikuti suaminya masuk ke dalam mobil. sementara Bima menatap ke arah luar dengan tangan mengepal.


Sepanjangan perjalanan, Erin hanya diam dengan air mata yang terus menetes. Andini Belum berani berbicara, iya melihat suaminya masih dilanda amarah.


Terlihat dari cara Dimas membawa mobil dan urat-urat pada lengannya yang menyembul sempurna.


Sementara Andini dan Dimas duduk di kursi depan, namun keduanya masih bungkam.


Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di sebuah rumah. setelah memarkirkan mobilnya, Dimas pun segera turun dan menutup kembali pintu mobil dengan keras, seolah melampiaskan kekesalan.


Andini segera turun dan mengikuti suaminya yang kini telah membuka pintu belakang, di mana Erin berada.


"Turun! tita Dimas dengan suara keras. Erin mengusap air matanya dan keluar dari mobil itu dengan perlahan. Namun, kakinya belum melangkah kembali, wanita itu dia mematung di depan pintu mobil.


"Masuk!"Dimas menarik tangan adiknya sampai membuat wanita itu berjalan sempoyongan mengikuti langkah lebarnya.


Dimas langsung membawa Erin ke ruang keluarga, di mana sang ayah sedang menunggunya dengan cemas.


BUGH !


Dimas menjatuhkan tubuh Eren tepat di samping ayahnya.


"Erin, Kamu dari mana saja Nak? Kenapa kamu pergi dari rumah?"tanya Tuan Anggara dengan suara lemah. Pria itu menatap putrinya sedang menunduk dengan intens.


Wanita itu masih terdiam, hanya isakan yang kembali terdengar dari bibirnya yang bergetar.


"Erin, Jawab Papa!"tita Tuan Anggara dengan suara yang lebih tinggi.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar."Erin bangkit dan akan melangkah. Namun, Dimas langsung menahannya datang kembali mendudukkan sang adik di atas sofa tepat di samping Tuan Anggara.


"Erin, Kakak mau kamu bicara yang jelas. Kenapa kamu akhir-akhir ini berubah? kamu sangat lancang kepada papa dan kakak . selain itu juga, kamu mengeluarkan uang yang cukup banyak terlihat dari tagihan kartu kredit kamu. Bukan masalah uangnya, tetapi kami takut kalau kamu terjerumus ke jalan yang tidak benar. Sebenarnya apa yang kamu inginkan? apa Kakak harus mengirim kamu ke pesantren?"sergah Dimas dengan nada penuh penekanan.


Andini mengusap lengan suaminya dan menarik tangan Dimas, sampai membuat pria itu kembali duduk di sampingnya.


Erin masih terdiam dengan tangan yang sesekali bergerak, menyeka air matanya.


"Cepat bicara! Kakak mau kita selesaikan semua sekarang!"ti tadi Mas kembali membuat wanita itu mengangkat wajahnya dengan perlahan.


"Erin, bicaralah! benar apa yang dikatakan kakak kamu, kita harus menyelesaikan semuanya sekarang. apa yang kamu inginkan dan apa yang harus Papa lakukan agar kamu tidak bersikap seperti ini lagi?"tutur Tuan Anggara dengan suara yang terdengar lebih rendah.


"Pa, Erin kesepian di rumah, Erin butuh teman. Akhir-akhir ini, Erin merasa seperti hidup sendiri. Papa hanya keluar saat makan dan berjemur. Kak Dimas entah bagaimana kabarnya. Erin hanya butuh orang yang mau Erin ajak bicara, mendengarkan setiap isi hati Erin. Eren tidak butuh tanggapan atau saran, Erin hanya butuh didengarkan."tutur Erin dengan air mata yang semakin luruh.


"Kenapa kamu tidak bicara sama papa? papa akan mendengarkan semua yang kamu katakan.


"Tidak! Papa terlalu keras, jika yang Erin Katakan tidak sesuai dengan jalan pikiran papa, Erin akan kena marah."


Tuan Anggara terdiam dengan otak yang berpikir keras. putrinya belum terlalu dewasa. Erin belum bisa menempatkan dirinya menjadi seseorang yang tidak terlalu bergantung pada orang lain.


"Erin, kalau kamu butuh teman berbicara dan bercerita, Kakak siap menemani kamu,"ucapkan dini yang membuat wanita itu langsung menoleh ke arahnya.


"Apa yang dikatakan Andini benar. Erin, kamu tidak pernah mau mencoba dekat dengan Kak Andini. Kamu selalu melempar tatapan tak suka padanya. Apa salah Andini?"Dimas menatap adiknya dengan heran


"Aku mau istirahat!"Erin kembali bangkit.


"Awas kalau kamu kabur lagi, Kakak Akan mengirim kamu ke pesantren!"ancam Dimas yang membuat wanita itu melempar tatapan tak suka padanya.


"Satu lagi, kakak tidak suka kamu terlalu dekat dengan laki-laki itu!"ucap Dimas kembali, sebelum Erin melangkah ke arah kamarnya.


"Maksud kakak, Bima?"tanya Eren Soraya menoleh ke arah Dimas yang diam dengan tatapan serius.


"Iya, jangan terlalu dekat dengannya!"


"CK ... Kakak jangan banyak ngatur!"Erin menghentakkan kaki dan kembali berjalan, masuk ke dalam kamarnya.


Dimas membuang nafas kasar. Dengan tangan yang masih mengepal sempurna. Padahal, iya masih ingin meluapkan amarahnya kepada Erin.


Namun, tatapan sendu dari sang ayah, membuat Dimas berusaha mengontrol emosinya.


"Dimas, Papa serahkan Erin sama kamu. Papa sudah lelah, Papa mau istirahat dulu."Tuan antara bangkit dan berjalan dengan perlahan ke arah kamarnya.


"Papa jangan banyak pikiran ya!"ucap Dimas sebelum langkah sang ayah semakin menjauh.


"Iya, jaga kandungan istri kamu baik-baik."balas pria berusia senja itu sambil memutar knop pintu kamarnya.


Dimas mengacak rambutnya frustasi, wajah pria itu terlihat kacau.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS


__ADS_2