Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 139. KABAR DUKA


__ADS_3

"Wow, luar biasa Cafe kamu ya Robert, baru opening aja sudah ramai begini. Apalagi terlihat di sebelah sana ada beberapa orang bule menikmati menu yang kamu hidangkan di sini. Bagaimana nanti? ucap Herlan bangga.


"Kalau nanti, penghuni planet Pluto pun datang,"sahut Ricky.


"Sudah, mending kamu belajar bahasa Inggris saja, biar bisa ngejar tuh cewek bule Sepertinya dia hanya paham bahasa Inggris dan juga bahasa negaranya."titah Robert.


Herlan keluar dari Cafe saat menerima telepon. Karena di dalam cukup ramai dan berisik.


Rian menyusul suaminya setelah beberapa menit pria itu tak kembali ke dalam. Wanita itu langsung mendekat karena suaminya yang sedang berdiri di samping mobil, seolah mencari tempat sepi untuk menerima telepon.


"Bang siapa yang nelpon?" tanya Rian setelah berdiri di samping Herlan.


"Mama, kita harus pulang sekarang!"ajak Herlan dengan raut wajah tegang. Matanya merah dengan buliran bening yang akan menggenang.


"Loh kok pulang? ada apa sih Bang? kan acaranya belum selesai." tanya Rian kembali. Wanita itu menatap wajah suaminya dengan penuh rasa penasaran.


Herlan mencondongkan kepalanya ke arah Rian, dan membisikkan sesuatu kepada telinga wanita itu, yang langsung membuat mata Rian membulat sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Be....Beneran Bang? Abang tidak bohong kan? Abang ngak lagi ngerjain Rian, kan? tanya Rian dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Ia, kita pulang sekarang dan ajak Andini juga! Herlan merangkul bahu Rian dan mengusap lembut lengan sang istri.


Rian menahan tangisnya dan berusaha tetap tegar, ketika langkah keduanya kembali masuk ke dalam Cafe.


Herlan melepaskan tangannya dari bahu sang istri dan menghampiri Dimas, sementara Rian menghampiri Andini yang sedang ngobrol dan bertukar canda bersama Mariska.


"Din, Kita pulang yuk!" ajak Rian Setelah tiba di samping Andini


"Loh kok pulang sih? Kalian kan belum mencoba menu di cafe ini?" timpal Mariska dengan wajah kecewa.


"Sorry Mariska, kita harus pulang sekarang. Next time kita ke sini lagi." Rian berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Ini maksudnya kita pulang bareng gitu?" tanya Andini dengan wajah bingung.


"Iya Din, kita pulang ke rumah Mama.


Kok gitu? kamu sama Kak Herlan pulang duluan deh, aku sama Mas Dimas mau pulang ke rumah."


"Nggak bisa Din, kita harus pulang ke rumah Mama sekarang!" Rianti sedikit menarik tangan Andini.


"Kamu apaan sih? tanya Andini dengan wajah heran.


"Kita pulang aja dulu. Pak Dimas sama Bang Herlan sudah nunggu di luar. Mariska kita pulang dulu ya!" Rian melambaikan tangannya ke arah Mariska. Lalu ia menarik kembali tangan Andini agar mengikuti langkahnya.


"Ini ada apa sih? Kok kamu maksa banget? Andini berusaha melepaskan tangan Rian yang menarik lengannya.


Sayang kita pulang sekarang!" ajak Dimas kembali mendekat dan menggandeng tangan istrinya yang sudah terlepas dari genggaman Rian.


"Pulang ke rumah kita, kan Mas?" tanya Andini sebelum Dimas membuka pintu mobil untuknya.


"Kita pulang ke rumah Mama ya, ajak Dimas seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Ini ada apa sih sebenarnya? kok pada begini?" gerutu Andini sambil masuk ke dalam mobil yang langsung disusul oleh Dimas.


Tanpa menunggu lama lagi, pria itu langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengejar mobil Herlan yang telah melaju terlebih dahulu.


Beberapa saat di dalam mobil, hanya hening. Wajah Dimas terlihat gelisah. Bahkan pria itu sesekali meremas jemarinya yang mengeluarkan keringat dingin.


"Mas, Kamu kenapa kok tadi kayak gelisah gitu?" tanya Andini yang diam-diam memperhatikan wajah suaminya


"Eemmm..... tidak apa-apa sayang." Dimas merangkul bahu Andini dan mengusap bahu sang istri dengan lembut. Andini semakin bertambah heran dengan sikap suaminya.


Namun, tak lama kemudian mobil mereka telah tiba di halaman sebuah rumah yang lumayan luas.

__ADS_1


Herlan dan Dimas membawa mobil dengan kecepatan tinggi, sehingga Herlan dan Rian langsung turun dari dalam mobil dengan dan setengah berlari masuk ke dalam rumah.


Hal itu membuat rasa heran Andini semakin bertambah. Dimas mengajak wanita itu keluar dari mobil dan berjalan bersama masuk ke dalam rumah yang pintunya telah terbuka lebar.


Sayup-sayup terdengar suara tangis yang membuat Andini mengerutkan dahi, dan semakin mempercepat langkahnya. Setelah ia tiba di dalam, perasaannya semakin bertambah heran. Ketika melihat beberapa orang yang mengenakan kopiah telah berada di dalam rumahnya.


Mas ini kok banyak orang di rumah Ada apa sih tanya Andini kembali.


Dimas hanya mengusap bahu Andini dan menggandeng tangan istrinya untuk berjalan ke sebuah kamar.


Suara tangis itu semakin jelas. Perasaan Andini mulai tak enak, lututnya terasa bergetar ketika kakinya telah tiba di ambang pintu kamar sang kakek.


"Opa kenapa? tanyanya dengan tubuh yang seakan membeku ketika melihat Nyonya Laras dan juga tuan Miko Pratama saling berpelukan.


Tak lupa pula Rian ikut menitikkan air mata. Andini menatap nanar ke arah ranjang sang kakek. Dimana tubuh renta itu terbaring dengan selimut yang menutupi sampai batas dadanya.


"Opa Kenapa?" tanya Andini kembali dengan suara yang lebih keras dan membuat semua orang yang ada di dalam sana langsung mengalihkan pandangannya.


"Andini, opa sudah tidak ada." jawab Tuan Miko Pratama sambil menyeka air matanya.


Seketika tubuh Andini melemas, kakinya akan tak mampu Lagi membopong bobot tubuhnya.


Dimas langsung membantu Andini menguatkan istrinya, untuk tetap berdiri tegak.


"Papa jangan bohong! bukannya Opa, sehat? tidak mungkin Opa pergi. Opa!!!!Andini berjalan dengan gontai ke arah ranjang Tuan Pratama.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2