
Keesokan harinya, setelah pulang dari kampus, Rian yang masih merasa khawatir dengan keadaan ayahnya, memutuskan untuk kembali menginap di sana.
Begitu juga dengan Herlan yang baru pulang dari kantor dan langsung menuju rumah mertuanya. Pria itu menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah yang tidak terlalu luas itu.
Netranya langsung disambut dengan sang istri yang sedang duduk santai di kursi yang terletak di teras rumah.
Namun, dahinya mengerut ketika melihat Ke mana arah tatapan sang istri. Rian menatap lurus ke arah rumah di depannya. Ya itu rumah Antonio.
Herlan segera turun dari mobil dan melihat ke arah rumah yang terletak tepat di depan rumah mertuanya itu.
Netranya langsung disuguhkan dengan pemandangan yang membuat netranya terasa sakit.
Antonio sedang berdiri di balkon kamarnya yang terlihat jelas dari teras rumah Rian. Herlan segera mendekat ke arah istrinya yang masih duduk di atas kursi.
Tumben sekali Rian tidak berjalan dan menyambutnya.
"Ehemmmm.... fokus banget lihatin orang lain, sampai nggak sadar suami sendiri sudah datang."Celetuk Herlan yang membuat Rian langsung menoleh ke arahnya.
"Eh, sudah pulang, Bang?"tanya Rian yang masih duduk tak beranjak sedikitpun.
"Sudah dari tadi. Tahunya begini, Aku nggak jadi pulang ke sini."ucap Herlan yang membuat Rian langsung bangkit dan berdiri di sampingnya.
"Begini gimana, Bang?"wajah Rian tampak heran.
"Ha begini, suami datang bukannya menyambut, malah duduk santai sambil bertatapan sama laki-laki lain."cerocos Herlan dengan wajah kesal.
"Siapa yang tatap-tatapan? Orang aku lagi diam aja nggak menatap siapapun,"sangkal Rian.
"Itu tadi buktinya kamu pas aku datang cuman diam aja. Biasanya juga nyambut aku sampai ke mobil."
"Aku duduk Karena perut aku keram. Coba aja kamu rasain gimana rasanya keram perut. kalau aku paksain berdiri dan jalan, takutnya malah kenapa-napa. Kamu nggak ngerti banget deh. Begini nih kalau laki-laki belum pernah hamil, biasanya cuma nyalahin orang aja ."carocos Rian lalu menghentakkan kaki dan masuk ke rumah meninggalkan Herlan yang menatapnya dengan heran.
"Ini gimana sih? harusnya kan aku yang ngambek, kenapa malah dia duluan yang marah-marah nggak jelas?"gumam Herlan sambil mengacak rambutnya dan mengikuti Rian masuk ke dalam rumah dengan langkah berat.
"Loh Rian, suami baru datang bukannya disambut kok malah ditinggalin?" ucap Mamanya Rian saat melihat putrinya berjalan terlebih dahulu. Sementara Herlan baru masuk ke dalam rumah.
"Bodo amat! Aku lagi kesal sama Bang!"jawab Rian dengan sewot. Lalu ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Eh nggak boleh gitu, suami kamu capek baru pulang kerja, harus disambut dengan baik." Mamanya Rian menasehati putrinya.
"Aku lagi kesel Ma!"
"Kesel kenapa ?nggak boleh kesal sama suami. Apalagi sampai cuekin kayak gitu. ingat kamu lagi hamil, harus baik-baik sama suami ." nasehat Mamanya Rian kembali yang membuat putrinya membuang nafas kasar.
"Mama kenapa membela Bang Herlan kayak gitu? aturan Rian yang Mama Bella." Rian menunjuk ke arah Herlan yang berjalan menghampirinya dengan langkah gontai.
"Mama bukan belain Herlan, Mama cuman nggak mau kamu bersikap kayak gitu. Sekesal apapun sama suami, tidak baik bersikap begitu. Apalagi suami kamu baru pulang kerja. Coba bicarakan baik-baik." oceh Mamanya Rian kembali yang membuat telinga Rian semakin memanas.
"Iya, iya udah Mama samperin Papa aja. Rian mau ngomong sama Bang Herlan."
"Ingat, harus baik-baik sama suami. Untung Ada yang mau sama kamu."
"Mama ih!" Rian mencebik kesal.
__ADS_1
"Iya ,lah harusnya kamu bersyukur setelah ditolak mentah-mentah sama putranya Bos papa kamu, ada Herlan yang mau menikahi kamu dengan seperempat kelebihan dan seribu kekurangan kamu.
"Mama, ih! jahat banget sih."
"Hahaha....." bercanda, udah minta maaf sama suami kamu. Mama mau ngasih Papa makan dulu." wanita paruh baya itu meninggalkan putrinya yang sedang menggerutu di dalam hati.
"Bang, aku minta maaf."ucap Rian dengan nada sewot.
"Kalau terpaksa, lebih baik nggak usah minta maaf." balas Herlan saya duduk di samping Rian.
"Kata siapa terpaksa?" Rian masih memasang wajah sewotnya.
Kelihatan dari wajahnya, tuh sorot matanya beda bibirnya, semakin dower." Herlan menyentuh bibir istrinya yang mengerucut.
"Bang Herlan!" kebiasaan deh Rian mencebik kesal.
"Siapa suruh tuh mata jelalatan lihat-lihat laki laki-laki lain."
"Memangnya siapa yang jelalatan?
"Tuh, kamu tadi asik lihatin ke balkon depan rumah. Abang tau disana ada Antonio."
"Cemburu ya!"
"Ngak!"
"Bilang aja kalau cemburu."
"Terus harusnya kayak gimana?"Rian menoleh ke arah.
"Harus senyum dong." Herlan tersenyum lebar sama memperlihatkan deretan giginya.
"Bang ih! jelek tahu." Rian memukul pelan pipi suaminya.
"Kalau jelek, kenapa kamu mau sama aku? Kenapa? tanya Herlan dengan penuh penekanan. Tetapi bibirnya menyunggingkan senyuman dengan wajah yang semakin mendekat.
"Karena takdir Bang." jawab Rian sambil terkekeh.
"Enak aja, ya kamu ngomong kayak gitu." Herlan mendekap tubuh Rian dan menelusup kan wajah wanita itu pada ketiaknya.
"Wangi Bang."ucap Rian sambil memeluk tubuh suaminya dengan erat dan mencium dalam-dalam aroma tubuh lelaki itu.
"Masa? orang udah keringatan kayak gini bilang wangi, ada-ada saja kamu."
"Cinta Bang, kalau sudah cinta, kentut saja terasa wangi." Rian kembali terkekeh.
"Jorok banget kamu."
"Aku buta, Karena Cinta." Rian menggelitik perut suaminya sampai membuat pria itu tertawa kencang.
Sementara hari ini Andini berniat ingin pergi ke cafe kampung kecil di mana kafe milik Robert dan Mariska berada.
Hari ini pengunjung di cafe kampung kecil dua kali lebih ramai dari biasanya. Terlebih lagi saat waktu semakin sore dan menjelang malam.
__ADS_1
Andini memilih menghabiskan waktunya di sini, sambil menunggu suaminya pulang dan menjemput dirinya. Karena Andini merasa bosan di rumah.
Mungkin karena ini adalah malam minggu, jadi banyak anak muda yang mencari tongkrongan sehingga cafe kampung kecil sangat ramai dikunjungi para anak-anak muda.
Selain itu, karena Cafe tersebut didesain dengan konsep tongkrongan yang membuat banyak anak muda nyaman berada di tempat itu di fasilitasi dengan wi-fi yang mbps-nya cukup tinggi, membuat orang-orang di sana semakin betah.
Mariska dan Robert cukup kewalahan menyiapkan dan mengantarkan pesan pelanggan yang seolah membludak itu.
Mariska menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tepat di samping Andini. Wanita itu membuang nafas berat dengan sebuah nampan berada dalam dekapannya.
Terlalu banyak bergerak membuat perutnya keram dan kakinya mulai terasa pegal.
"Jangan terlalu kecapean, ingat kamu saat ini sedang hamil."Andini mengingatkan. Robert yang melihat istrinya tampak duduk di samping Andini langsung menghampirinya.
"Kenapa sayang?" tanya Robert yang kini telah berdiri di samping istrinya.
"Perutku terasa keram Robert, kaki aku juga lumayan pegal, pengunjung malam ini banyak banget. Beda dari hari-hari biasanya." balas Mariska dengan wajah lelah.
"Iya sayang, Alhamdulillah lebih rame. Kalau kamu lelah, istirahat saja. Jangan banyak bergerak dulu. Aku juga sudah bilang sama kamu tidak perlu membantu.Kan, masih ada kami yang bisa mengerjai semuanya."
"Tapi nanti kamu kewalahan nganterin pesanan sama ngambil bekas makanan." ucap Mariska sambil memegang tangan Robert yang berdiri di sampingnya.
"Nggak apa-apa sayang, aku kuat kok semalam sepuluh ronde aja aku kuat." balas Robert yang membuat Andini langsung tertawa ngakak sedangkan Mariska langsung memukul tangan suaminya.
"Ah...." bukannya kesakitan." Robert malah mengeluarkan suara de$@han.
"Ricky....! ada cabe nggak sih?" teriak Mariska kepada Ricky yang sedang sibuk membuat pesanan.
"Ada Mariska, buat apa? tanya Ricky kembali dengan tangan yang bergerak lincah menyajikan setiap makanan yang dipesan pengunjung.
"Buat backup mulut si Robert." balas Mariska yang membuat Ricky dan Andini memecahkan tawanya.
Sementara Dimas yang baru tiba di sana langsung memarkirkan mobil miliknya. Dia menghampiri Andini yang saat ini tertawa terpenggal-penggal melihat tingkah Robert dan Mariska.
Sementara Bima sedang sibuk dengan aneka kopi dan minuman.
"Ada apa sih Sayang? kok kamu tawanya lepas seperti itu." Tiba-tiba saja Dimas langsung meraih tubuh istrinya lalu kemudian ia memberikan kecupan hangat di kening Andini.
"Nggak Mas, lihat tuh tingkah si Mariska sama si Robert. Membuat Andini tak berhenti tertawa." sahut Andini sambil menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta.
"Wow, rame banget cafenya hari ini." ucap Dimas memperhatikan seluruh isi cafe yang dipenuhi oleh anak-anak muda.
"Mas sudah makan, Mau pesan apa?
"Nggak usah sayang, Ini sudah hampir malam. Mas tadi sudah makan kok." sahut Dimas. Pasangan suami istri itu pun akhirnya berpamitan kepada Mariska dan Robert, untuk pulang terlebih dahulu. Dimas mengetahui kalau Andini sudah lama menunggunya di sana. Sehingga Ia memutuskan untuk segera membawa istrinya pulang dan istirahat.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1