Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 200. PINDAH RUMAH


__ADS_3

"Ayo cerita sama aku, kamu mau minta tolong apa? tanya Ricky kepada Faranisa.


"Ricky, Aku mau minta tolong kamu untuk menjadi pacar aku dan berkenalan dengan Papa, supaya Papa tidak jadi menjodohkan aku sama mantan kekasihku."tutur Nisa dengan wajah memelas.


"Aku, jadi pacar kamu?"Ricky kembali memasang wajah bingung.


"Iya, ini cuman pacar pura-pura kok. Habisnya aku bingung mau minta tolong ke siapa. Bila perlu aku bayar selama kamu menjadi pacar aku."


"Waduh, berarti aku jadi cowok sewaan dong?"


"Sorry bukan gitu maksud aku, Ricky. Aku hanya ingin menghindari perjodohan ini saja. Please bantu!"Nisa memegang kedua tangan Ricky yang terasa dingin dan bergetar.


"Terus, kalau Papa kamu marah gimana? terus nanti aku diculik dan disekap," cerocos Ricky sedikit yang membuat Nisa tertawa kecil.


"Siapa yang menculik kamu? hahaha.... tenang saja. Papa aku bukan penjahat kok. Please.... kamu mau bantuin aku!" Pinta Nisa kembali dengan penuh harap.


"Iya, deh. Semoga aku tetap dalam lindungan Allah."


Terima kasih Ricky besok kita ketemu papa aku. Nisa tersenyum merekah, dengan tangan yang semakin mempererat genggamannya pada jemari Ricky


****


Dimas memutuskan untuk berterus terang kepada Andini tentang segalanya. Sebelumnya Dimas sudah memberitahu kepada Alvin, kalau mereka akan segera pindah ke rumah milik Dimas yang beberapa bulan belakangan ini ditempati oleh Alvin.


Dan Alvin sudah meminta kepada asisten rumah tangga untuk membereskan barang-barangnya, dan juga mempersiapkan segala sesuatu. Karena Dimas dan istrinya akan tinggal di rumah itu.


Dimas mengendarai mobil miliknya menuju sebuah rumah mewah berlantai tiga lebih besar dibandingkan rumah yang selama ini ditempati oleh Tuan Anggara dan keluarga.

__ADS_1


Rumah itu ditanami dengan pepohonan rindang buah-buahan, tanaman hijau dan juga beraneka ragam bunga-bunga yang bermekaran di sana.


Saat mobil yang dikendarai Dimas sudah berhenti di sebuah rumah mewah, yang sama sekali Andini belum pernah melihat rumah itu, lagi lagi Andini mengerutkan rekeningnya. "Ini rumah siapa lagi? tanya Andini dengan Ketus. Tapi matanya sudah di manjakan dengan pemandangan yang indah, karna rumah itu benar-benar indah dan mewah. Apalagi Andini menyukai suasana yang nyaman dan sejuk.


"Sayang, mulai hari ini kita akan tinggal di sini. ini rumah kita sayang."sahut Dimas sambil menggenggam jemari Andini. Andini berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dimas. Dia masih marah kepada suaminya. Karena merasa dibodohi oleh sang suami dan juga orang-orang terdekatnya.


Security yang bertugas menjaga keamanan di rumah itu sudah menyambut kedatangan sang Tuan yang beberapa bulan ini tidak tinggal di rumah itu. "Selamat datang kembali Tuan Dimas non Andini."ucap petugas keamanan itu sambil membungkukkan badannya.


Dimas turun lebih dulu. Kemudian memutari mobilnya untuk membukakan pintu kepada istrinya. Alvin yang sudah mendengar suara di mobil Dimas langsung keluar dari rumah itu membuka pintu dengan lebar. Pria itu berdiri Dan tersenyum.


"Selamat datang kakak ipar."sapa Alvin membuat Andini mengerutkan keningnya. lagi-lagi dia tidak menyahut.. Andini masih terdiam.


"Ayo sayang, kita masuk." ucap Dimas sambil menggandeng tangan Andini.


"lepaskan! tidak perlu pegang-pegang aku bisa sendiri!"ucap Andini sambil mengikuti langkah Dimas.


Tampak keluarga besar Anggara dan juga Pratama, Ingin melihat situasi rumah yang akan ditempati oleh Richard. "Wah ternyata rumah kamu mewah dan luas sekali Richard, lebih mewah daripada yang Mama bayangkan."Puji Nyonya Laras ketika Nyonya Laras turun dari mobil bersama Tuan Miko Pratama.


"Mama bisa saja memujinya. Kalau memang mewah dan luas, seharusnya wajah Andini tidak cemberut seperti ini. Dia akan lebih senang tinggal di rumah mewah ini. Tapi sepertinya Andini tidak merasakan kebahagiaan tinggal di rumah ini Ma."Dimas menyesalkan segalanya.


Nyonya Laras menghampiri Andini. "Kamu ini bagaimana sih Andini, seharusnya kamu bahagia dong. Itu artinya suami kamu tidak sombong, dia tidak menganggarkan harta kekayaan yang dimiliki selama ini. Bahkan semua mahasiswa-mahasiswa di kampus saja tidak ada yang mengetahuinya. Itu artinya nak Dimas rendah hati. lagi lagi Nyonya Laras memuji Dimas di hadapan Andini, membuat Andini semakin mencebik kesal.


Alvin yang sudah meminta kepada asisten rumah tangga di sana untuk menyiapkan menu makanan yang akan disantap oleh keluarga besar anggaran dan Pratama, makanan sudah terhidang di ruang makan.


Saat mereka semua sudah duduk dan terlibat obrolan, Andini masih belum merespon apa-apa. Dia hanya sesekali melirik seisi ruangan yang dipenuhi dengan foto-foto prewedding mereka dan juga foto-foto pernikahan mereka.


Tapi ada satu figura yang mencuri hati Andini. Terlihat di pigura itu sebuah foto yang diduga Andini itu merupakan foto keluarga Dimas saat ibunya di masih ada. Ada Tuan Anggara, seorang ibu paruh baya, Dimas dan diduga foto wanita yang usianya masih sekitar enam belas tahun itu foto Erin.

__ADS_1


Andini menatap foto itu dengan seksama. Di samping pigura itu terdapat figura foto pernikahan mereka.


"Nah Andini, sekarang kamu sudah mengetahui yang sebenarnya tentang suami kamu. Tidak akan ada lagi kebohongan mulai dari sekarang hingga di kemudian hari. Ingat! semua ini tidak rencana Dimas, tapi rencana Opa kamu dan juga Papa mertua kamu. Papa dan mama juga terlibat di dalamnya.


"Jangankan kamu, Herlan saja tidak mengetahui kalau Dimas lah pemilik perusahaan di mana tempatnya bekerja. Jika Herlan tahu, pasti dia juga tidak kalah terkejut seperti kamu. Mama dan papa lakukan itu, agar Kakak kamu juga bekerja dengan rajin tidak mengandalkan nama Dimas di belakangnya.


"Kamu juga selama magang di sana menjalankan tugasmu dengan baik, jika kamu mengetahui kalau Dimas adalah pemilik perusahaan atau CEO perusahaan, sudah pasti kamu tidak akan bekerja dan menjalankan tugasmu dengan maksimal." Nyonya Laras kembali menerangkan kepada Andini.


"Sudah?


"Sudah ngomongnya? kalau sudah perut aku sudah lapar aku mau makan."ucap Andini sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit, yang mampu membuat Dimas langsung terkekeh.


Tiba-tiba saja asisten rumah tangga datang menghampiri sang majikan.


"Tuan menu makanan sudah terhidang di meja makan, dan sudah siap disantap." ucap asisten rumah tangga itu sambil membungkukkan badannya.


"Ayo Sayang, Katanya kamu lapar Sekarang. Kita nikmati menu makanan yang terhidang di meja makan." ucap Dimas sambil langsung meraih tangan istrinya agar istrinya bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh Tuan Anggara dan kedua orang tua Andini.


Lagi-lagi Andini berdiri sendiri, Ia seolah tidak Sudi dipegang oleh sang suami. Dimas menggelengkan kepalanya. Entah bagaimana caranya lagi untuk membujuk istrinya. "Astaga!!! Bagaimana ini? bisa-bisa aku tidur sendiri, nggak mungkin aku bisa tidur sendiri. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak tanpa istriku."Dimas bermonolog sendiri.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2