Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 51. MAAF BELUM REZEKI


__ADS_3

"Mama, kaki Andini sakit."Andini memasang wajahnya memelas seolah akan menangis mengadu kepada Nyonya Laras


"Astagfirullah. Kaki kamu kenapa? Kok bisa sampai seperti itu? Nyonya Laras segera mendekat ke arah putrinya, yang masih berada di dalam gendongan suaminya.


"Kaki Andini...."


"Maaf Ma, tadi sedikit kecelakaan,"potong Dimas sebelum Andini mengatakan kalau dirinya terluka karena KDRT. Sebagaimana yang diucapkan Gadis itu ketika dalam mobil.


"Kecelakaan gimana sih? ini kamu nggak bisa jalan? Nyonya Laras memperhatikan perubahan luka pada telapak kaki putrinya.


"Ma,saya izin bawa Andini ke dalam kamar dulu, ya."pamit Dimas.


"Oh iya. Mama sampai lupa ternyata Andini sedang berada dalam gendongan kamu."wanita paruh baya itu menepuk jidatnya sambil terkekeh.


"Ya udah. Ayo bawa Andini masuk, biar Mama buatkan teh hangat ya."


Dimas segera membawa tubuh istrinya ke dalam kamar.


"Pak, saya turun aja."pinta Andini saat Dimas akan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


"Turun bagaimana? sebentar lagi nyampe kamar.


"Saya takut jatuh. Nanti bapak nggak tahan menggendong saya naik tangga.


"Kamu pikir tubuh kecil kamu ini berat?"


"Hiss... sombong banget!"


Dimas sama sekali tak membalas ucapan istrinya, karena bibir tipis itu tidak akan berhenti bicara, jika tidak ia yang diam terlebih dahulu.


"Sebenarnya Andini kenapa?"tanya Herlan.


Andini langsung menoleh ketika mendengar suara kakaknya


"Kakak nggak lihat kakiku terluka Kak."ucapnya mengadu


"Iya, kakak tahu kamu terluka. Tapi kenapa? Herlan mendekat dan melihat ke arah kaki adiknya yang terdapat perban luka.


"Andini sedikit kecelakaan Kak." saya pamit bawa Andini ke kamar dulu ya." timpal Dimas.


"Oh iya, silakan!


Setelah itu, Dimas langsung membawa Andini masuk ke dalam kamar, pria itu merebahkan tubuh istrinya ke atas kasur dengan hati-hati.


Kakinya diluruskan supaya peredaran darahnya lancar."Dimas meluruskan kedua kaki istrinya di atas kasur.


"Pak, saya mau ganti pakaian. Baju sama celana saya udah nggak layak pakai."Andini berubah posisi menjadi duduk.


"Ya udah, biar saya bantu."


"Apa? nanti bapak malah punya niat lain.


"Kamu ini kenapa sih? saya ini suami kamu, seharusnya kamu bersyukur mempunyai suami baik dan mau merawat kamu,"cerocos Dimas yang membuat istrinya mematung.


"Ya, udah. Tolong ambilkan baju tidur."


Dimas langsung berjalan ke arah lemari pakaian istrinya.


"Maaf Pak, sekalian sama underwear dan pengaman untuk buah kesukaan bapak."titah Andini


"Pengaman buah kesukaanku? buah apa? Dimas menatap karya istrinya dengan dahi.

__ADS_1


"Ck ... masak Bapak nggak tahu buah kesukaan bapak?


"Yang ini? Dimas mengambil sebuah pengaman buah kesukaan Dimas dan menunjukkan ke arah Andini.


"Iya, tapi nggak usah digituin juga. Udah sini."


Dimas mendekat sambil membawa pakaian istrinya, pria itu memilih sebuah gaun tidur dengan lengan yang hanya berbentuk tali.


Dimas sengaja memilih baju itu, agar istrinya terlihat seksi. Selama ini jika sedang tidur dengannya, Andini selalu memakai baju tidur setelan dengan celana panjang.


"Ini bajunya! biar saya bantu buka,"Dimas mengulurkan tangannya ke arah Andini, akan membantu membuka kancing kemeja yang dikenakan istrinya.


"Saya bisa sendiri. Bapak tutup mata, jangan lihatin."


"Kamu ini kenapa sih? kamu belum nyadar ya, kalau aku ini suami kamu, masa cuman karena kamu ganti baju saya harus tutup mata."oceh Dimas dengan wajah kesal


"Saya malu, Pak."


"Malu kenapa? saya aja nggak malu kalau kamu lihat saya, nggak pakai baju."


"Beda, lah. Coba bapak nggak pakai celana di depan saya, malu nggak?


"Ngak! kamu mau lihat? Dimas akan membuka ikat pinggangnya.


"Jangan! pokoknya bapak keluar dulu atau tutup mata! Saya mau ganti baju.


"Nggak mau! coba hargai Saya sedikit saja. seharusnya kamu membiasakan diri terbuka kepada saya, supaya tidak malu," omel Dimas kembali dengan wajah yang menahan kekesalan.


"Iya, iya maaf."Andini membuka kancing kemejanya satu persatu, setelah itu ia mengangkat selimut, menutupi tubuhnya. Andini membuka baju, pengaman segitiga, dan buah kesukaan Dimas.


Dimas memperhatikan gerakan istrinya dengan jeli, Ia tahu tidak nyaman dengan tatapannya. Tapi ia hanya ingin membiasakan sang istri agar tidak terlalu tertutup padanya.


"Aduh sakit banget. Gimana ini?"gumam Andini ketika akan membuka celananya. Ia cukup kesulitan karena luka pada kakinya, pastilah akan sakit jika tergesek oleh celana.


Gadis itu menutup selimut pada bagian paha sampai dadanya, agar Dimas tidak melihat seluruh bagian tubuhnya.


Andini akan mencegah Dimas. Tetapi ia sadar tidak akan bisa melepas celananya sendiri.


Dimas menarik dan melepas celana istrinya dengan hati-hati.


"Aw!"rinti Andini ketika celana itu terlepas dan sedikit menggesek pada lukanya


Namun, ia tak menyadari kalau kaki yang sakit terangkat dan paha mulusnya terlihat oleh Dimas


Dimas menelan Salivanya dengan susah payah. Betapa sulitnya Dimas saat ia mengendalikan diri agar tidak khilaf. Namun, hawa nafsu mengalahkan akal sehatnya.


Pria itu mendekat dan duduk di samping sang istri.


"Bapak mau ngapain? tanya Andini dengan wajah ketakutan.


Dimas menyentuh dagu istrinya dan mendekat wajahnya.


"Boleh ya,"ucapnya sedikit berbisik


"Boleh..."


Tanpa basa-basi lagi, Dimas langsung meraup bibir manis istri yang sudah dari tadi menggodanya.


Padahal Andini mau bertanya boleh apa? Tetapi Dimas langsung membungkam mulutnya.


Keduanya saling berpagutan cukup lama. Andini yang awalnya akan memberontak, malah terbuai ketika Dimas memberikan kecupan lembut di bibir manisnya.

__ADS_1


Melihat tidak ada penolakan dari istrinya, Dimas mengarahkan tangannya pada kedua gunung sang istri yang tertutup selimut tebal.


Pria itu memasukkan tangannya ke dalam selimut, agar bisa menyentuh kulit mulus istrinya secara langsung.


Suasana semakin memanas, Andini benar-benar merasakan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.


Terlebih lagi, ketika tangan Dimas menyentuh dan meremas kedua gunung kembar miliknya. Dimas sudah masuk ke mode on, sesuatu di bawah sana sudah bangkit dan meminta dipuaskan.


Terlebih lagi keadaan istri yang kini sedang telanjang, membuat jiwa ke laki-lakinya semakin meningkat. Dimas melepas pagutannya dan menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh istrinya.


Tanpa basa-basi,lagi pria itu langsung mendekat ke tubuh sang istri dan mencumbunya dengan lembut.


"Pak,"panggil Andini dengan suara serak. hatinya ingin menolak. Tapi raganya seolah menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya.


"Pleasesss... jangan menolak lagi."Dimas menatap wajah istrinya dengan sayu, matanya terhalang kabut gairah yang seakan membuncah.


"Saya takut,"cicit Andini.


"Saya tidak akan melukaimu Tenang saja percaya sama aku."Dimas kembali memberikan rangsangan agar istrinya tidak terlalu tegang.


Dimas memainkan kedua bulatan kenyal milik sang istri, sampai suara nakal keluar dari bibir istrinya.


Pria itu tersenyum, suara itu menandakan bahwa istrinya sudah benar-benar terangsang dan menikmati gerakan demi gerakan yang ia lakukan.


Dimas melepaskan ikat pinggangnya, dan sudah bersiap akan mengeluarkan senjatanya untuk berperang di dalam lembah sungai milik sang istri.


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga keduanya.


Tok....


Tok ....


Tok....


"Andini Dimas. Makan malam dulu, Opa sudah menunggu di ruang makan,"suara itu langsung menghancurkan semuanya.


Dimas dan Andini saling melempar tatapan.


Seketika Andini langsung mendorong dada suaminya, dan membuat Dimas turun dari atas tubuhnya.


"Iya Ma. Andini ke sana sekarang."teriak Andini sambil merubah posisi menjadi duduk kembali.


"Kenapa harus ada gangguan sih?"gumam Dimas sambil mengepalkan tangannya.


Raut kecewa terpampang nyata pada wajah pria dengan itu.


"Sabar belum rezeki."ucap Andini sambil terkekeh.


Setelah itu Andini langsung memakai pakaian lengkapnya, dan membuat Dimas menatapnya dengan wajah kacau.


Andini terkekeh ketika melihat wajah suaminya saat ini.


"Awas, saja. Saya masih mengincar mu."


"Mohon maaf, kesempatan tidak datang dua kali."Ha....ha...ha.."Andini tertawa sangat keras. Rasanya, ia puas ketika melihat wajah kacau suaminya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2