Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 17. HARUS BISA MASAK


__ADS_3

Dimas keluar hanya mengenakan sehelai handuk yang melingkar pada pinggangnya, tubuh kekar serta bulu-bulu halus yang tumbuh di tengah dada dan perutnya terekspos sempurna.


"Ha...ha...ha...."suara tawa Andini menggema di seisi kamar memecahkan tawanya ketika melihat wajah suaminya yang masih menor oleh make up yang ia oleskan semalam.


"Kamu! berani-beraninya kamu buat wajah saya seperti ini!"ucap Dimas dengan geram sambil menunjukkan ke arah wajahnya.


"Saya tidak melakukannya." ucap Andini dengan segera bangkit ketika melihat suaminya sudah mengeluarkan tanduk dan taring.


"Siapa lagi kalau bukan kamu? tuduh Dimas dengan Gigi mengerat otot pada perutnya terlihat menegang, Hal itu membuat Andini langsung berwajah tegang sepertinya manusia es itu mulai tersulut api amarah.


"Saya benar tidak melakukannya. Mungkin Bapak mengigau dan merias wajah Bapak sendiri." Andini kembali beralasan sambil menahan tawanya


"Kamu pikir saya percaya? saya akan memberikanmu hukuman!"Dimas mendekat ke arah Andini yang kini tengah berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk segera melarikan diri.


Namun, sebelum istri tengilnya itu menggerakkan kaki dan melarikan diri, Dimas segera menarik baju tidur Andini bagian belakang.


Andini merasa nyawanya sedang terancam, berusaha melangkah dengan sekuat tenaga, agar bajunya terlepas dari cengkraman Dimas.


Namun, tenaga pria itu yang jauh lebih kuat darinya membuat Dimas tak tergoyahkan.


Andini terus berusaha melepaskan diri dari Dimas yang semakin memperkuat tarikannya pada baju tidur Andini


Prttttt!!!


semua kancing baju tidur Andini itu terlepas, Andini yang merasa tarikan Dimas mengendur segera melarikan diri.


Namun, sialnya Dimas menarik baju tidurnya hingga membuat baju tidur itu terlepas dari tubuhnya.


"Astaga...."teriak Andini sekencang mungkin saat tubuhnya yang tanpa baju itu terekspos sempurna.


Andini biasa melepaskan penutup tempurung kelapa yang ada di bagian tubuhnya sebelum tidur, sehingga saat ini dua tempurung kelapa miliknya itu tak terbalut pengaman.


Dimas mematung ketika melihat apa yang terjadi di hadapannya. Bahkan matanya tak berkedip beberapa detik.


Andini yang menyadari Ke mana arah pandangan mata suaminya segera menutup tempurung kelapa miliknya itu dengan tangannya.


"Ini namanya pelecehan." teriak Andini sambil berlari ke kamar mandi meninggalkan suaminya yang masih mematung.


Dimas terlihat bagaikan orang yang terkena hipnotis, Sampai bunyi pintu kamar mandi yang tertutup kasar oleh sang istri menyadarkannya


Pria itu mengacak rambutnya sesuatu di bawah sana sepertinya telah bangkit, jiwa laki-lakinya seolah meronta ketika melihat pemandangan barusan.


"Ini sangat tidak baik untuk kesehatan burung perkututnya, yang sedang hibernasi, Bagaimana tidak burung perkutut Dimas sedang hibernasi, karena penampilan Andini yang baru saja ia lihat membuat setiap kaum Adam yang melihatnya pasti akan merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Dimas mengusap wajahnya dengan kasar,


Matanya kembali membulat ketika melihat telapak tangannya dipenuhi oleh make up dari wajahnya.


Kekesalannya kembali meningkat. Ingin rasanya iya meremas istri kecilnya itu.


Baru hidup tiga hari saja dengan gadis itu sudah membuat kepalanya pusing dan tensi darahnya naik. Pernikahan macam apa ini?


Kenapa wanita yang menjadi istrinya berbeda jauh dengan wanita yang ada di dalam bayangannya.


Bahkan sikap dan sifat Andini sangat berbeda jauh dengan mantan kekasihnya.


Setelah mandi dan bersiap berangkat ke kampus, keduanya masih belum saling berbicara.


Dimas masih sebel dengan ulah istrinya yang mendandaninya saat tidur. sedangkan Andini masih marah kepada suaminya gara-gara Dimas menarik baju tidurnya sampai terlepas.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dimas ketika melihat Andini berjalan ke halaman rumahnya.


Akhirnya ia mengalah dan berbicara terlebih dahulu. Karena jika terus-terusan saling diam, dia masih yakin istri tengilnya itu tidak akan mau berbicara terlebih dahulu.


Andini menghentikan langkahnya. Gadis yang yang senang menggunakan kaos oblong warna putih dipadukan dengan celana jeans sobek-sobek di bagian lutut membalikkan badan menghadap suaminya.


"Saya mau berangkat ke kampus. jawab Andini sewot.


"Saya mau naik ojek aja." tolak Andini


"Masuk mobil, atau saya kasih nilai E!" ancam Dimas yang membuat Gadis itu membulatkan mata.


"Ini di luar kampus jangan disangkut pautkan sama nilai dong!"protes Andini sambil bersedekap dada.


"Terserah saya dong. Saya yang memberi kamu nilai E. Masuk atau nilai E!"ancam Dimas lagi yang membuat istrinya menghentakkan kaki dan masuk ke dalam mobil dengan kesal.


"Ngak etis banget sih, dasar manusia serigala berjalan dan membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang


"Biasakan Jangan memperlakukan saya sebagai sopir. Saya suami kamu bukan sopir kamu ingat itu."celetuk Dimas setelah dirinya duduk di kursi kemudi.


"Maksud bapak?"Andini mengerutkan keningnya menatap punggung suaminya yang tak menoleh sedikitpun.


"Hanya sopir yang duduk di kursi depan sendiri."bales Dimas tanpa menoleh sedikitpun karena Andini yang sudah mengerucutkan bibirnya.


"Ck.... ngomong aja pengen dekat sama saya gitu."Andini keluar dari mobil dan pindah ke kursi depan.


Setelah itu Dimas langsung menjalankan mobilnya meninggalkan rumah mereka.

__ADS_1


"Kamu mau sarapan apa? tanya pria itu setelah mobil mereka berjalan beberapa meter.


"Saya mau sarapan di kampus saja."balas Andini dengan Tatapan yang tertuju karena lain rasanya ia masih sebel, jika Harus melihat ke arah wajah suaminya.


Setelah pulang dari kampus, kita belanja bahan makanan celetuk Dimas yang membuat Andini langsung menoleh ke arahnya.


"Buat apa belanja?


"Ya buat persediaan makanan lah. Kalau ada bahan makanan di rumah, sebelum berangkat ke kampus Kamu bisa sarapan dulu. Kalau keseringan makan di kantin itu kurang sehat, kebanyakan mahasiswa suka makan makanan instan."cerocos Dimas sambil menoleh ke arah suaminya.


"Terus yang masak siapa?"


"Ya, kamulah masa saya!"


"Idih saya nggak bisa masak!"


"Belajar dong!"


"Ikh .. ngeselin banget sih di kampus baru belajar, di rumah juga masih harus belajar sial banget aku nikah sama dosen." gerutu Andini dengan wajah sebal.


"Wanita itu harus bisa masak, kalau nggak bisa masak nanti anak-anak kamu mau dikasih makan apa?"


"Ck... mikir jauh amat."


"Jauh bagaimana? itu sudah hukum alam. Sehebat apapun wanita, dia akan melahirkan dan mengurus anak. Makanya kamu harus belajar mulai sekarang." jelas Dimas yang membuat telinga Andini terasa panas.


"Pokoknya saya punya anak masih lama. dan sekarang saya nggak mau membebani dengan hal-hal seperti ini. Andini menyandarkan punggung pada jok mobil.


"Kata siapa masih lama? tanya Dimas dengan tatapan lurus, tetapi bibirnya tersenyum tipis. sangat manis Andini tidak menyadari senyuman itu.


"Ya pokoknya masih lama lah, Saya mau menikmati masa muda dulu."


"Yakin Apa, kamu tidak mau mencoba hal yang lebih nikmat dari masa muda." tanya Dimas ke Andini seraya mengangkat alis sebelah.


"Apaan?


"Malam pertama."jawab Dimas dengan senyum devil yang membuat Andini membulatkan mata dengan sempurna.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2