
Andini dan Dimas keluar dari kamar berbarengan dengan Bima dan Erin yang juga baru keluar dari kamar.
"Kok almamaternya sama?"celetuk Erin saat melihat almamater yang dikenakan Andini, sama dengan yang dikenakan oleh Bima saat ini.
"Kita kan satu kampus."jawab Bima
"Iya aku lupa. Ya sudah kamu lepas aja!"Erin berusaha melepaskan almamater yang dikenakan Bima.
"Kok dilepas? ya nggak bisa dong. Aku kan mau ke kampus!"tolak Bima sambil membenarkan kembali almamaternya Yang sudah melorot sebelah karena ditarik oleh Erin.
"Aku nggak suka lihat kamu sama Kak Andini pakai almamater yang sama, kesannya tuh kayak coupel begitu."protes Erin dengan bibir mengerucut.
"Sudah! biar aku aja yang buka almamater ini!"tukas Andini sambil membuka jas almamater yang dikenakannya.
Dimas tersenyum ketika melihat sikap istrinya. Sementara Bima menatap itu dengan penuh kecewa.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang! Erin kalau kamu mau ikut ke kampus sebaiknya ikut sama kakak aja naik mobil!"ajak Dimas sebelum keluar dari rumah.
"Nggak mau, Aku mau naik motor aja sama."tolak Erin dengan cepat.
"Hati-hati Jangan ngebut! Bima, ingat istri kamu sedang hamil, bawa motornya pelan-pelan saja!"titah Dimas sambil menggandeng dengan istrinya dan berjalan terlebih dahulu keluar dari rumah
***
Sementara itu, Rian sedang heboh sendiri karena ia bangun kesiangan.
Wanita itu baru keluar dari kamar mandi dan langsung merias wajahnya di depan cermin meja rias.
Sementara rambutnya masih basah karena belum sempat ia keringkan.
"Biar aku bantu keringkan." Herlan mendekat sambil membawa hair dryer ke arah istrinya.
"Beneran Bang? tanya Rian dengan mata berbinar.
"Iya, Kamu lanjut aja make make up nya.Taoi jangan menor menor. Jangan pakai lipstik berwarna merah."Cerocos Herlan yang mulai menyalakan hairdryer dan mengarahkan pada rambut istrinya yang masih basah.
"Terus pakai lipstik warna apa dong?" tanya Rian kembali sambil memperhatikan beberapa lipstik miliknya.
"Pakai warna hitam aja."
"Bang Herlan, ih! dikira aku ini Setan apa!
"Nggak apa-apa, biar nggak ada yang lirik kamu."
"Bang Herlan cemburu, ya?" Ryan tersenyum lebar.
"Nggak juga, cuman kalau ada laki-laki yang menetap kamu dengan syahwat, dosa lagi buat kamu. Karena kamu mau pakai make up yang menggoda.
"Iya Pak, kyai. Pakai yang ini aja, ya?"Rian mengambil sebuah lipstik berwarna pink bibir.
"Ya udah, tapi nanti setelah itu dicoba dulu.
"Apanya yang dicoba?" tanya Rian sambil menengadahkan kepala menatap ke arah wajah suaminya.
"Bibirnya dicoba dulu." jawab Herlan spontan
__ADS_1
"Bang Herlan ih mauuuu..... "balas Rian sambil membalikkan badan lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat.
"Astaga, Bang. Bulu hidung aku kena hair dryer." teriak Rian karena saat ini ia menghadap ke arah Herlan, wajahnya tepat berhadapan dengan hair dryer yang masih menyala.
***
Sementara sepasang suami istri yang sedang sibuk mempersiapkan sidang skripsi , Robert dan Mariska memakai almamater yang sama dan bersiap untuk menghadapi sidang skripsi hari ini.
"Sayang, aku minta parfum ya!"Robert mengambil parfum Mariska yang dan menyemprotkan ke beberapa bagian tubuhnya.
"Jangan banyak-banyak Robert. Nanti habis!"Mariska kembali merebut parfum itu dari tangan suaminya.
"Pelit banget nanti aku beliin, lagi."
"Jangan, kita harus hemat, nabung buat lahiran. Kamu lihat perut aku sudah gede kayak gini. Kita harus punya simpanan buat lahiran." cerocos Mariska sambil menunjuk perut buncitnya ke arah Robert.
"Iya iya, hari ini setelah pulang dari kampus aku akan ke Cafe lagi membantu Bima dan Ricky. Mudah-mudahan rame ya." ucap Robert sambil mengelus perut buncit istrinya.
"Amin! Ya sudah, Sekarang kita berangkat dulu, yuk." Mariska menggandeng tangan Robert untuk keluar dari kamar.
"Kita naik taksi aja sayang. Kalau naik motor, aku masih khawatir sama kandungan kamu
"Naik motor aja nggak apa-apa Robert. Kandungan Aku juga udah baik-baik aja kok, kalau naik taksi Sayang uangnya." tolak Mariska.
"Ya ampun sayang, cuman buat bayar taksi doang mah aku juga punya uang kali."
"Simpan aja uangnya Robert, kita harus hemat."
"Kamu tuh kenapa sih? hemat hemat, hemat terus! aku bisa kok bayar biaya lahiran kamu tanpa kita harus terlalu berhemat seperti ini." cerocos Robert dengan nada kesal.
"Kenapa? kamu malu tinggal di rumah seperti ini? kamu malu naik motor terus? kamu malu punya suami miskin kayak aku?"
"Bukan begitu Robert! maksud aku tuh kita harus berhemat sekarang. Supaya kita tidak menyesal di kemudian hari. Karena hidup boros. Robert Sebenarnya aku nggak nyaman saat Mama bilang yang aneh-aneh sama kamu. Saat Mama merendahkan kamu, Aku pengen buktikan kalau suami aku ini bisa jadi orang sukses. Aku pengen buktikan kalau kita bisa mempunyai semua semuanya, dengan usaha sekitar sendiri." Mariska menepuk dada suaminya dengan nada bicara yang terdengar Sendu.
"Terima kasih sayang, makasih karena kamu mau menemani aku dari nol. Terima kasih mau menjadi pendampingku yang hanya seorang prajurit bukan putra mahkota.
"Apaan sih? kayak zaman peperangan aja." Mariska terkekeh
"Aku terharu sayang." Robert memberikan sebuah kecupan pada kening istrinya. Lalu pria itu menurunkan bibirnya pada pipi dan bibir sang istri
"Robert, ih, kebiasaan!" Mariska mendorong wajah suaminya agar menjauh.
"Hahaha.... maaf Sayang kalau sama kamu bawaannya aku nafsu terus."
"Dasar otak mesum! udah cepetan berangkat!"
***
Hari ini adalah sidang skripsi. Para mahasiswa berkumpul di kampus untuk mengikuti sidang yang selama ini mereka tunggu.
Andini merasa tegang dan tak karuan. Entah kenapa ia sangat merasa gugup ketika menunggu gilirannya.
"Sayang, minum dulu!"titah Dimas seraya menyodorkan sebuah botol minum ke hadapan istrinya.
"Terima kasih Mas, aku guguk banget." Andini mengambil botol minum yang tutupnya sudah dibuka oleh Dimas dan langsung meneguknya.
__ADS_1
"Tenang jangan terlalu tegang." Dimas mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Doakan aku ya, Mas Biar lancar." Andini mencium punggung tangan suaminya. Tak lama kemudian namanya dipanggil untuk segera masuk ke dalam ruangan dan melakukan sidang.
"Semangat sayang." Dimas mengangkat tangan memberi semangat kepada Andini yang mulai masuk ke dalam ruangan. Wanita itu tersenyum sambil menarik nafas panjang membuangnya dengan perlahan.
Begitupun dengan Mariska dan Robert yang sedang menunggu giliran. Sepasang suami istri itu memasang wajah serius dan tegang.
"Sayang, aku tegang nih." ucap Robert membuat mata istrinya langsung membulat.
"Waduh gawat nih. Ngapain kamu tegang di sini!" Mariska mengarahkan pandangannya pada area sensitif sang suami.
"Astaga sayang, bukan peliharaan kamu yang tegang. Tapi aku, aku tegang karena mau sidang skripsi. Kamu pikirannya ngerasa aja." cerocos Robert sambil menyentil kening sang istri.
"Hahaha.... aku kira apa yang tegang. Minum dulu nih." Mariska menyerahkan sebotol air minum ke arah suaminya.
"Ini bekas kamu ya, sayang?"
"Iya, kenapa? kamu nggak mau ya? Kalau nggak mau, ya udah."
"Maulah, bibir kita kan pernah menyatu dan akan tetap menyatu." Robert menerima botol minuman itu dari tangan istrinya.
"Astagfirullah, baru juga aku datang langsung disambut obrolan haram suami istri." ucap Ricky yang baru tiba di tempat itu.
"Haram buat kamu yang jomblo, halal buat kita." timpal Robert dengan angkuh.
"Eh iya, kita sudah nikah. Si Andini udah, si Rian, dan si Bima juga udah. si Ricky... " Mariska menatap ke arah Ricky dengan senyum mengejek.
"Panas telingaku, panas di sini. Awas aja ya, balik dari sini aku mau kawin!
"Nikah woi, nikah baru kawin." timpal Robert
"Awas kamu, ya. Kalau aku udah nikah, kalian nggak punya bahan ejekan lagi." Ricky menghempaskan tubuhnya ke atas kursi.
Bima yang melihat teman-temannya berkerumunan datang mendekat bersama dengan Erin, yang selalu menempel padanya.
"Ricky, ntar anterin celana aku ya yang ketinggalan di kos kita ya " ucap Bima secara tiba-tiba.
"Ini lagi!" datang-datang menyuruh aja. Nggak bisa pulang dari sini aku mau nyari jodoh dulu, biar nih dua ondel-ondel nggak bisa ledek aku lagi!" tolak Ricky sambil nunjuk ke Robert dan Mariska.
"Ya, elah sensi banget sih kamu." Bima menepuk bahu sahabat sekaligus sepupunya itu.
"Nggak apa-apa sayang, biar kita aja yang ambil langsung ke kosan kamu." usul Erin yang sedari tadi bergelayutan manja pada lengan Bima.
"Cie, yang makin panas aja nih si jomblo satu "celetup Robert dengan arah pandangan tertuju kepada Ricky.
"Panggilan kayak gitu udah basi, lihat aja kalau aku sudah married. Bakalan ngasih panggilan yang berbeda." sangkal Ricky.
"Manggil Eneng, sama Akang ya?" timpal Bima sambal terkekeh.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN