Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 240. SERBA SALAH


__ADS_3

Sudah cukup Dua hari ini Robert selalu disalahkan oleh mamanya Mariska. Apapun yang dilakukan oleh pria itu selalu salah di mata mertuanya.


Hal itu pula yang membuat Robert merasa tidak nyaman berada di rumah orang tua istrinya.


"Ada apa, Ma? kenapa Mama teriak-teriak?"tanya Mariska setelah berada di dalam kamar sang mama.


"Mariska, Coba kamu hubungi papa kamu!"Dita mamanya Mariska dengan wajah kesal.


"Papa? Kenapa nggak Mama telepon aja? Mariska melihat ke arah tangan ibunya yang sedang menggenggam ponsel.


"Sudah, tapi nomornya nggak aktif. apa nomor Mama diblokir kali ya? mana papa kamu nggak pulang-pulang lagi, sudah tahu istri lagi sakit, masih nyaman di kota lain."cerocos Namanya Mariska kembali dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau Mama telepon nggak aktif, berarti memang nomornya Papa lagi nggak aktif Ma, kalau Mariska telepon juga percuma."Mariska duduk di tepi beranjang itu.


"Mama takut nomor Mama diblokir. jangan-jangan Papa kamu sedang bersama wanita lain di sana. Dari pagi Papa nggak bisa dihubungi, Papa juga nggak nelpon mama.


"Astagfirullah. Mama Jangan berpikir yang nggak nggak deh. Papa kan keluar kota lagi kerja. Lagian mana mungkin papa berbuat kayak gitu."sangkal Mariska.


"Bisa saja. Buktinya, papa kamu nggak ada kabar dia juga nggak ngabarin Mama."hanya Mariska meremas selimut yang menutup sebagian tubuhnya.


Wajah wanita itu terlihat marah bercampur sedih.


"Mama tenang dulu, kita doakan semoga Papa baik-baik saja."Mariska memijat pelan kaki ibunya.


"Iya, Mama tenang dulu. papa kan di luar kota juga lagi bekerja."timpal Robert yang sudah dari tadi hanya diam.


"Diam! kamu tidak mengerti perasaan wanita."balas mamanya Mariska dengan Ketus.


"Salah lagi."gue Mama Robert sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Sekarang, mama istirahat ya."titah Mariska


"Mana mungkin mama bisa istirahat? sedangkan Papa kamu sedang senang-senang sama wanita lain."Mamanya Mariska meneteskan air matanya dengan wajah besar.


"Astagfirullah. Mama tahu dari mana Kalau Papa sedang bersama wanita lain?"Mariska mengerutkan keningnya, Tak habis pikir dengan perkataan ibunya.


"Insting seorang istri itu buat. apa yang Mama pikirkan, pasti benar kejadian. Kamu juga, kalau kamu kepikiran soal suami kamu, pasti itu benar, suami kamu kayak gitu."Ciracas mamanya Mariska dengan telunjuk yang tertuju kerap menantunya.


"Astagfirullah, kuatkan iman hamba ya Allah."hukuman Robert di dalam hati sambil mengusap dadanya.


"Kata Pak ustad, kita tidak boleh suudzon."tutur Mariska kembali, tapi iya ingin tertawa ketika melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat tertekan.


"Sudahlah, mama capek ngomong sama kamu. Kamu nggak ngerti perasaan mama.


"Terus, Mama mau ngomong sama siapa? kalau bukan sama Mariska mau ngomong sama cicak?"


"Cicak dan tokek."mereka itu spesies yang sama tapi berbeda.",timpal Robert dengan suara pelan, tetapi masih terdengar jelas di telinga mertuanya.


"Assalamualaikum."suara itu membuat pandangan ketiga orang langsung tertuju ke arah pintu.


"Waalaikumsalam, papa."jawab Robert dan Mariska secara bersamaan.


Sementara mamanya Mariska masih bungkam dengan mata yang menatap sini secara suaminya.


Pria itu masuk ke dalam kamar sambil membawa tas berukuran besar, serta sebuah plastik pada tangannya.


"Alhamdulillah. Papa akhirnya pulang juga."Mariska dan Robert segera mencium punggung tangan pria paruh baya itu.


"Alhamdulillah, pekerjaan Papa udah beres. Papa ngebut kerja biar cepat pulang, Pak pakai pikiran mama terus yang lagi sakit."tutur pria paruh baya yang mendekat karena istrinya yang masih memasang wajah masam dan tak menolehkan sedikitpun ke arahnya.

__ADS_1


"Tuh dengar, Ma. Papa kepikiran Mama terus! sindir Mariska.


"Ma, gimana? sudah baikan? tanya pria baru bayar itu sambil merangkul bahu istrinya.


"Dari tadi Mama misuh-misuh sendiri tuh, Pa. kayaknya mama rindu berat."Mariska tergagah.


Mamanya Mariska mau lihat paskan tangan pria baru kayak itu dari bahunya.


"Dih, jual mahal banget. padahal dalam hatinya pengen dipeluk itu,"gua udah Mariska yang malah mendapat tatapan sinis dari ibunya.


"Mama mau apa? papa bawa sablek mau nggak?"tawar Papanya Mariska Seraya menunjuk kan plastik dan masih dipegangnya.


"Ngak!"jawab mamanya Mariska singkat.


"Ya, sudah. Mariska, ini buat kalian aja. Mama kamu katanya nggak mau."Papanya Mariska menyerahkan plastik ke arah putrinya.


"Asyik!!! Terima kasih Pa." Mariska menerima plastik itu dengan wajah berbinar.


"Mama nggak mau sablek, terus kalau-kalau ini mau nggak?"Papanya Mariska mengambil sebuah kota kecil dari dalam saku celananya.


Pria itu membuka kotak boleh berubah warna merah di hadapan istrinya dan terlihat sebuah kalung cantik dari dalam kotak itu.


Seketika mata mamanya Mariska berbinar. "Pa, Mama sudah lama loh pengen kalung ini."mamanya Mariska segera mengambil kalung dari kotak itu.


"Ehem... tadi aja sok marah, jual mahal sampai salamnya Papa aja nggak dijawab."sindir Mariska kembali sambil terkekeh.


"Apaan sih? udah keluar sana!"ajak suamimu makan seblak, sekalian buatkan dia kopi."usir mamanya Mariska.


"Cie .. yang mau kangen-kangenan."Mariska menyatukan kedua telunjuknya.

__ADS_1


"Sayang, kita keluar yuk! jangan ganggu yang mau melepas rindu."Mariska menggandeng tangan Robert dan keluar dari kamar kedua orang tuanya.


Bersambung....


__ADS_2