
" Tunggu dulu! " kalian pada bahas apa sih?" tanya Andini dengan wajah bingung.
"Magang!" jawab Ricky dan juga Rian.
"Astaga, aku kok bisa lupa ya. Andini menepuk jidatnya sendiri, bisa-bisanya ia melupakan hal sepenting itu.
"Begini nih, kalau otak sudah terkontaminasi dengan Romansa rumah tangga." celutuk Ricky.
"Aku.... aku ikut kamu aja deh, kamu mau magang di mana? Andini dengan jari telunjuknya yang tertuju ke arah Ricky.
"Aku sama Bima mau magang di kantor Om, Wijaya.
" Wah hebat Aku ikut ya." seru Andini dengan mata berbinar.
" Om Wijaya siapa?
"Dia kakak dari papa aku." jawab Bima dengan nada dingin.
"Nggak boleh Din, mending kita magang di tempat kerjanya Bang Herlan aja." ajak Rian dengan Senyum merekah.
"Ogah! malas aku kalau satu kantor sama Kak Herlan.
"Kamu yakin kalau kamu megang satu kantor sama Bima, suami kamu bakalan ngizinin?" Rian mengangkat alisnya sebelah.
"Iya jugaya, Ah..pusing! " entar aku diskusikan dulu deh sama suami aku." Andini menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Wajib itu! Ridho suami itu penting dalam hal apapun." ujar Ricky dengan wajah serius.
" Iya pak ustad. " Andini memicingkan matanya.
"Tunggu! tunggu! aku ketinggalan apa gush. " suara Mariska mengalihkan pandangan semuanya.
__ADS_1
Wanita itu datang bersama dengan Robert yang berjalan dengan gontai di belakangnya.
"Ya Allah manten baru, kesiangan. lihat tuh mukanya si Robert kelelahan banget, pasti sepuluh ronde ya Mariska. " cerocos Ricky sambil terkekeh.
"Eh Ricky pikiran kamu travelling terus. " Mariska memberikan tatapan tajamnya.
"Iya, otak aku travelling sampai ke gunung Rinjani."
" Ricky...., pijitin aku dong! " Robert mengarahkan lengannya ke arah Ricky.
" Idih, kamu pijitin aja sana sama bini kamu." Ricky menepis tangan Robert dari hadapannya.
"Nggak mau dia. Padahal aku jadi begini juga gara-gara dia. " balas Robert dengan Tatapan yang tertuju ke arah Mariska,
" Jangan fitnah!"wanita itu memicingkan matanya.
" Widih! si Mariska agresif juga." seru Ricky Seraya terkekeh.
" Hahaha....lebay banget kamu Ricky! " Bima memecahkan tawanya.
"Salah sendiri! punya kasur kecil, Sudahlah, males aku masuk kelas yuk. Mariska berjalan terlebih dahulu yang langsung disusul oleh Andini dan Rian.
Setelah masuk ke dalam kelas, mereka duduk di bangku masing-masing.
Andini mengambil ponsel suaminya dari saku celananya ketika ponsel itu bergetar menandakan ada pesan masuk.
Andini langsung membuka ponsel dari nomor tidak dikenal itu.
Matanya membulat ketika melihat foto seorang wanita dengan wajah yang dipenuhi luka memar serta darah yang menetes pada luka di dahinya.
"Foto itu diiringi dengan sebuah pesan. "Mas Dimas tolong aku."
__ADS_1
Tangan Andini bergetar, wanita itu menatap lebih jeli lagi wajah wanita tersebut, agar ia bisa mengenal Siapa orang itu.
Kembali pesan masuk dan langsung menampilkan sebuah foto pada layar ponsel yang dipegang Andini.
"Astaga!!!
Andini menjatuhkan ponsel itu ke atas meja belajarnya, ketika melihat sebuah foto tangan yang berlumuran darah.
Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis dan juga telapak tangannya.
Jantung wanita itu berdebar hebat dengan kedua tangan yang memegangi kepalanya.
" Kamu kenapa Din? tanya Mariska dan Rian serentak Seraya mendekat ke arah sahabatnya yang terlihat syok.
"Aku nggak apa-apa." Andini langsung mengambil kembali ponsel Dimas yang tergeletak di atas meja.
Untungnya ponsel itu jatuh dengan posisi terbalik, sehingga Mariska dan Rian tidak melihat gambar pada ponsel tersebut.
Setelah itu, Andina langsung memblokir nomor itu dan menghapus pesan tadi.
" Din, kamu ponsel baru? tanya Mariska saat melihat ponsel berwarna hitam sedangkan ponsel milik Andini berwarna silver dan merk ponsel yang berbeda.
"Ini bukan punya aku. "
" Terus punya siapa? " Tanya Rian penasaran.
" Ini punya Pak Dimas." Andini memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.
"Tukar ponsel nih, ceritanya. " Mariska memutar bola matanya.
" Ya, iyalah. Namanya juga suami istri. Kamu juga harusnya gitu sama Robert. " Celoteh Rian yang membuat Mariska langsung menatapnya dengan kesal.
__ADS_1
Bersambung....