Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 56. KWATIR DI TINGGALKAN


__ADS_3

Dimas naik ke atas ranjang dan langsung mendekat tubuh ramping istrinya agar tidak bisa bergerak.


"Sudah, ah. Saya mau tidur, kaki saya sudah mendingan. Besok mau masuk kampus."


"Tidur di sini! Dimas mengangkat kepala Andini dan menidurkannya di atas lengan berototnya.


Andini menatap ke arah wajah tampan Dimas dan tersenyum getir.


"Selamat tidur pacarku, sayang."ucap Andini setelah itu, menyusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya, yang beberapa hari ini telah memberikannya kenyamanan.


Andini mulai memejamkan matanya, dengan hidung yang mencium dalam-dalam aroma maskulin pada tubuh suaminya.


Dimas tersenyum ketika melihat Andini menggunyel-unyel hidung kepada dadanya.


Entah kenapa, istrinya terlihat menggemaskan jika sedang bertingkah seperti itu.


Bunyi ponsel yang menandakan ada pesan masuk, membuat Dimas mengalihkan pandangannya dan meraih ponselnya yang terletak di atas nakas, dekat tempat tidur.


Dahinya mengerut ketika membaca sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.


"Hello Baby i'm come back."


****


Andini membuka matanya perlahan, kedua kelopak mata itu terasa berat.


Ia menarik kelopak matanya dengan jari telunjuk, agar kelopak matanya terbuka lebar.


"Tangannya bergerak, meraba ke tempat di sebelahnya. Matanya langsung melebar ketika merasakan kasur di sebelahnya kosong.


"Loh, Pak Dimas kemana? Eh Mas Dimas di mana? gumamnya Seraya menyikap rambut yang menghalangi sebagian wajahnya.


Andini langsung mengubah posisinya menjadi duduk, pandangannya ia endarkan ke sekeliling kamar.


Namun, setelah ia menulis seisi kamarnya, ia tak menemukan sosok pria yang sudah sah menjadi suaminya.


"Ada apa denganku? Mengapa aku sepertinya khawatir tidak melihat kehadiran Mas Dimas di sini?"Andini bermonolog sendiri.


Setelah itu, Ia turun dari ranjang dan perlahan kakinya yang tidak terlalu sakit lagi, berjalan walaupun sedikit pincang.


Andini berjalan ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Ia berharap suaminya sedang membersihkan diri di kamar mandi. Karena Dimas termasuk orang yang rajin. Setelah bangun tidur Dimas pasti biasanya langsung mandi.


Tok


Tok


Tok.


Andini mengetuk pintu sampai tiga kali, tapi tak ada sahutan.


"Mas, apa kamu ada didalam?"teriak Andini sambil menempelkan telinga pada pintu kamar mandi.


Tak ada terdengar gemericik air ataupun tanda ada seseorang di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Andini kembali mengetuk pintu kamar mandi itu lebih keras, sampai saat ketukan ketiga pintu kamar mandi tersebut terbuka, karena terdorong oleh tangannya.


Andini mengerutkan keningnya. Ternyata pintu kamar mandi tidak dikunci. Andini melihat ke dalam kamar mandi dan benar saja di sana tidak ada siapa-siapa.


"Kalau tidak ada di kamar mandi, lalu kemana Mas Dimas pergi? biasanya kalau aku bangun tidur dia ada di kamar."Andini bermonolog sendiri.


namu,n tiba-tiba saja ia ingat atas mimpinya semalam, mimpi membuatnya terbangun dan memeluk tubuh suaminya dengan erat.


Dia bermimpi Dimas menggenggam tangannya dengan erat, tetapi perlahan genggaman tangan itu terlepas. Dimas melambaikan tangan padanya dengan langkah yang semakin menjauh.


Astagfirullah. Kok mimpi aku gitu banget ya? apa yang terjadi dengan Pak Dimas? Jangan-jangan dia beneran minggat. Kok aku jadi nggak rela kalau Pak Dimas ninggalin aku? ada apa ini? apa aku sudah mulai jatuh cinta kepadanya? lagi lagi Andini bermonolog sendiri


Andini menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas lantai. Gadis itu duduk sampai sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok.


Kakinya yang sakit bertambah sakit, ketika ia membayangkan Dimas meninggalkannya dan pergi bersama dengan Mariska.


Sepertinya, ia Tak rela jika Dimas beneran memilih Mariska.


"Pak Dimas..."Andini membenamkan wajah pada kedua lututnya dan menyembunyikan tangisnya di sana.


Tiba-tiba sebuah tangan kekar menyikap rambut yang menutupi wajahnya, Andini langsung mengangkat kepala dan mendongakkan wajahnya.


Matanya membulat, ketika melihat seorang pria bertubuh kekar sedang berdiri di hadapannya.


Dada bidang dan perut kotak-kotak terpampang nyata. Andini menggigit Bibir bawahnya ketika melihat pemandangan itu.


Roti sobek yang menjadi dambaan setiap wanita, mempunyai pasangan dengan perut roti sobek sudah menjadi hal lumrah jika wanita menyukai postur tubuh seperti yang dimiliki oleh Dimas.


"Mas, kamu kembali?"Andini langsung menubruk tubuh Dimas dan memeluknya dengan erat.


Andini tidak peduli keringat yang menetes pada tubuh kekar suaminya. Ia anggap keringat itu seperti parfum khas yang membuatnya semakin nyaman.


Andini menyandarkan kepala pada bidang suaminya, ia memejamkan matanya menikmati kehangatan dari tubuh kekar itu.


Entah kenapa saat melihat Dimas kembali, ia merasa sangat lega.


"Kamu menangisi saya?"tanya Dimas dengan suara baritonnya. Seketika Andina tersadar dan melepaskan pelukannya.


Andini mengusap air matanya dengan cepat.


"Enggak, siapa yang nangis?"Andini menundukkan kepalanya agar wajah sebabnya tidak terlihat.


"Jangan berbohong! tadi saya mendengar Kamu memanggil nama saya."


"Jangan geer deh!" Andini menghentakkan kaki dan akan meninggalkan Dimas.


"Aw!"rintihnya ketika kakinya terasa sakit.

__ADS_1


Kenapa ia bisa lupa kalau Kakinya terluka dan malah menghentakkan kaki seperti tadi.


Dimas segera menarik tangan Andini dan menahan tubuhnya ketika akan terjatuh.


Tubuh Andini kembali menempel pada tubuh kekar Dimas, yang tidak terbalut pakaian, hingga memperlihatkan dada bidang suaminya.


Keringat yang menetes pada dada dan perut Dimas membuat tubuh kekar itu tampak terlihat seksi.


Dimas mengangkat kepala istrinya dengan perlahan, sampai membuat wajah itu menengadahkan ke arahnya.


Andini mematung, tubuhnya terasa membeku ketika wajah Dimas semakin mendekat.


Hembusan napas hangat dari suaminya terasa menyapu wajahnya. Bibir seksi milik suaminya mendekat. Hidung mancung keduanya menempel dengan sempurna.


Dimas memiringkan kepalanya agar hidung mereka tidak bertabrakan.


Tubuh Andini semakin menegang jantungnya berdegup kencang tak karuan.


Namun, tiba-tiba matanya menoleh ketika mengingat sesuatu.


Gadis itu langsung menjauhkan wajahnya sambil menutup mulut.


"Maaf, saya belum gosok gigi,"ucapnya dengan wajah merona.


"Ia Tak ingin Dimas mencium aroma khas bangun tidurnya, padahal suaminya sudah wangi walaupun sedang berkeringat.


Dimas tersenyum tipis ketika melihat wajah tegang istrinya.


"Memangnya kalau belum gosok gigi kenapa?"pria itu mengangkat alisnya sebelah


"Nanti bau."Andini kembali menutup mulutnya.


"Kalau aku menyukainya bagaimana?


"Hah? yang bener saja masak menyukai aroma wanita khas baru bangun tidur, jorok banget."


Dimas membalas ucapan istrinya. Pria itu kembali mendekap tubuhnya dan memepet tubuh Andini pada tembok.


"Mas dari mana sih? kok keringatan gini? nggak pakai baju lagi."Andini menyentuh dada bidang suami.


"Saya habis olahraga biar kuat."


"Biar kuat ngapain?


"Kuat ngangkat kamu?"Dimas memegang pinggang Andini dan mengangkatnya dengan.


"Astaga.."teriak Andini saat tubuhnya terasa terbang, tetapi Dimas langsung mengarahkan kedua kaki Andini pada pinggang ke kanan.


Andini mengalungkan tangannya pada leher Dimas, dan berpegangan dengan erat. Kedua pahanya ia rapatkan kepada Dimas, agar tidak terjatuh.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2