
Dimas pulang dengan membawa sebuah plastik hitam berukuran besar yang langsung diserahkan kepada istrinya.
"Apa ini, Mas?"tanya Andini saat melihat sebuah plastik yang dibawa oleh suaminya tadi.
"Buah pepaya. biar kamu tidak sembelit lagi."
"Ya, ampun Mas. sampai dibawain buah pepaya segala. mana besar-besar lagi."Andini melihat buah pepaya berukuran besar di dalam plastik itu.
"Nggak apa-apa, Mas sengaja beli banyak, buat semuanya juga kok. Biar punya pada lancar."
"Hahah .... ada-ada saja kamu Mas."Andini tertawa kecil.
"Mau Mas kupas pepayanya?"tawar Dimas.
"Nggak usah, Mas. Mending sekarang kamu mandi nanti kita makan pepaya bareng-bareng.
"Ya sudah. hati-hati pegang pisaunya."Dimas melangkah menuju lantai atas. sementara Andini akan pergi ke dapur, tepat berpapasan dengan Rian yang berwajah masam.
"Mbak Rian, bantuin aku mengupas pepaya yuk!"ajak Andini dengan nada sopan.
"Dih, manis banget."balas wanita itu dengan bibir mengerucut.
"Lah, orang ngomong baik-baik malah kayak gitu. Kamu kenapa sih?"tanya Andini karena sudah dari tadi melihat wajah kakak iparnya itu murung terus.
"Aku lagi khawatir berat,"jawabnya sambil menghentakkan kaki. Tangannya *******-***** ponsel yang sedari tadi digenggamnya.
"Khawatir kenapa? Coba ngucap!"Dita Andini dengan penasaran.
"Bang Herlan belum pulang juga."jawab Rian dengan mata memerah, sepertinya sebentar lagi wanita itu akan menangis.
"Memangnya kenapa? mungkin Kak Herlan lembur hari ini."
"Iya, memang lembur, katanya Di kantor ada acara,"jawab Rian kembali dengan bibir yang semakin mengerucut.
__ADS_1
"Nah, itu sudah tahu. Terus kenapa masih ketar-ketir begini?"Andini menatap kakak iparnya dengan heran.
"Aku khawatir aja. takutnya Bang Herlan digoda si kuntilanak Larissa,"cerita sambil terus *******-***** ponselnya.
Wanita itu tak kuat kejadian saat Herlan meminum obat perangsang dan pulang dalam keadaan tegang, terulang lagi.
"Lah, suudzon banget. Kak Herlan nggak bakal mau digoda cewek lain. Kak Herlan itu orang yang paling setia. seumur hidupnya aja deh cuman punya mantan dua."cerocos Andini membela kakaknya.
"Dua? bukannya mantan bareng Herlan Larissa? Terus yang satu lagi siapa dong?"tanya Rian dengan penuh penasaran.
"Ada deh, teman SMA-nya."
"Siapa? terus orangnya sekarang di mana? apa ada di kota ini?"tanya Rian kembali beruntun.
"Ada, dia kerja di cafe dekat kantor Kak Herlan."jawab Andini yang membuat Rian semakin memanas.
"Huaaaaa..... Bang Herlan!"Rian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Berisik!"dibilangin Kak Herlan itu orang yang paling setia."
"Benar, setiap tikungan adik. Hahaha...."Andini tertawa kencang.
"Adik ipar jahanam!"
"Lagian, nggak percaya banget. tuh ada suara mobil, pasti mobil Kak Herlan. Buruan samperin sana!"kita Andini setelah puas tertawa, menertawakan kakak iparnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Ryan langsung berjalan ke arah depan dan membuka pintu lebar, menyambut kedatangan suaminya.
Bahkan, wanita hamil itu sudah berdiri di depan pintu sebelum Herlan keluar dari mobil.
"Assalamualaikum. Tumben sudah nunggu di luar?"ucap Herlan Seraya mendekat ke arah istrinya.
"Waalaikumsalam. Dari mana aja? jam segini baru pulang? sergah Rian dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Dari kantor lah. Kan tadi sore aku udah bilang, kalau malam ini lembur, ada acara,"jawab Herlan.
"Beneran dari kantor atau habis dari Cafe?"tanya Rian kembali dengan mata yang menatap penuh selidik ke arah suaminya.
"Cafe apaan?"mengerutkan keningnya.
"Cafe tempat mantan kamu kerja,"jawab Ryan sinis.
"Jangan ngadi-ngadi deh. Suami baru pulang kerja, bukannya disambut dengan hangat malah dituduh yang enggak-enggak."Herlan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ryan yang terdiam dengan wajah masam.
"Bang Herlan tunggu!"wanita itu segera mengejar langkah suaminya dengan memeluk tubuh tegap pria itu dari belakang.
"Aku capek, mau mandi dan tidur!"Herlan melepaskan tangan Rian yang melingkar pada perutnya.
"Bang Herlan marah?"Rian menghadang langkah suaminya.
"Menurut kamu? Orang baru pulang kerja, capek, malah dituduh yang macam-macam."
"Maaf deh, kalau begitu. Aku bukan nuduh, cuma nanya."
"Nanya tapi kayak nuduh!"
"Iya, maaf. aku salah."
"Lain kali jangan gitu, kalau suami pulang kerja disambut dengan baik. Karena kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan suamimu di luar sana. Siapa tahu dia lelah dengan pekerjaannya. kalaupun ada sesuatu yang mengganjal, bicarakan atau tanyakan baik-baik setelah suami kamu istirahat."tutur Herlan yang membuat motor yang semakin memerah. Wanita itu sedang menahan tangisnya.
"Maaf Bang. aku terlalu posesif sama kamu."
"Ya udah, nggak usah nangis. lain kali jangan gitu lagi ya?"
"Iya, Bang."Rian menyeka air mata yang hampir menetes.
"Sudah, jangan menangis gini. aku jadi merasa bersalah kalau kamu nangis."Herlan mengusap air mata istrinya.
__ADS_1
Bersambung.....