
"Kamu boleh nggak rubah panggilan kamu ke Saya? Kita ini suami istri loh, masa kamu panggil saya seperti dosen kamu di kampus. Oke, kalau di kampus Kamu boleh memanggilku Bapak, tapi kalau di rumah janganlah. Karena kamu itu istriku."ujar Dimas
Andini mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan ia tidak salah dengar.
Di ruangan itu, tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua. Jadi Dimas tidak sungkan untuk berbicara dengan istrinya.
"Maksudnya ubah gimana?
"Iya gimana, aja. Masa kamu ke suami sendiri manggil Bapak, sih?"
"Ya, memang udah takdirnya begitu, kan?
"Takdir apaan? kita menikah memang takdir tapi kalau panggilan bisa diubah. Masa panggilan juga termasuk takdir?" protes Dimas
"Ya, iya. Bapak kan, dosen saya. Jadi saya harus tetap manggil Bapak sebagai sebuah kehormatan."
"Bukan begitu konsepnya Andini. Kamu mahasiswa yang sangat pintar. Bahkan mendapat beasiswa dan juga mengharumkan nama baik kampus, tapi untuk masalah seperti ini masa kamu tidak memahaminya."gerutu Dimas frustasi.
"Loh loh...,kok larinya jadi ke prestasi di kampus sih? di kampus, Bapak adalah dosen saya. Dan di luar kampus, juga bapak masih tetap dosen saya." bantah Andini.
"Ngak bisa gitu dong!" masa di luar kampus juga kamu tetap manggil saya bapak! kamu itu beda sama Mariska, dan yang lain teman-teman kamu.
"Tunggu tunggu! Kenapa bawa-bawa nama Mariska?
"Itu hanya sebagai perumpamaan, dodol!
"Bohong! biasanya orang itu kalau menyebutkan nama orang lain, berarti nama orang tersebut tersimpan di hatinya dan teringat terus."
"Kamu cemburu? seketika kata-kata itu membuat bibir tipis Andini langsung mengatup rapat.
"Nggak! Siapa yang cemburu? udah sini baksonya. Saya mau makan." bibir Andini mengerucut.
"Ubah dulu nama panggilanmu."
"Ubah gimana sih? mau, saya panggil kakak, Paman, Om, atau...."
"Cari yang lebih pantas lah, kamu juga nggak mau saya panggil Mama."Dimas terkekeh.
"Ih, geli banget dengarnya." Andini menggerakkan kedua bahunya ketika mendengar nama panggilan itu.
"Ya sudah, cari panggilan yang cocok untuk saya, dan yang nyaman untuk kamu."
"Emmmm .. dosen killer! iya, itu cocok untuk bapak dan nyaman untuk saya."Andini tersenyum sumringah
"Ngak bisa! panggil saya Mas aja, kalau gitu." tegas Dimas seolah tak mau dibantah
"Mas? nggak cocok!"
"Kalau gitu panggil sayang aja."Dimas tersenyum tipis. Sementara Andini langsung membulatkan matanya.
__ADS_1
"Nggak mau ih, lagi ngapain sih pakai nama panggilan segala. Nanti kalau saya keceplosan di kampus gimana?"
"Ya udah, kalau nggak mau biar saya umumkan sekalian ke semua mahasiswa dan dosen di kampus, kalau kita sudah menikah." ancam Dimas yang membuat Andini geram sambil meremas jemarinya
"Ya udah udah, Mas Dimas... ucap Andini dengan pelan dan terpaksa."
"Apa? ulangi sekali lagi!" Dimas mendekatkan telinganya ke arah Andini
"Mas Dimas." ucap Andini sekali lagi masih dengan nada yang sama
"Ulangi, nggak kedengaran."
"Mas Dimas." Andini mencubit kedua belah pipi suaminya dengan kesal.
"Aw! tangan kecil-kecil nakal juga ya, Dimas memegang kedua tangan istrinya.
Andini langsung menarik kembali tangannya dari genggaman Dimas. "Sudah sini baksonya!"
"Biar saya suapi." Dimas menusuk satu bakso dengan garpu dan menyodorkan ke arah bibir sang istri.
"Saya bisa sendiri." Andini akan mengambil garpu itu, tetapi Dimas langsung menjauhkannya
"Aa....."Dimas memperagakan membuka mulutnya.
Andini mengikuti gerakan yang sama membuka mulut dan satu pentol bakso berukuran kecil, mendarat dengan sempurna ke dalam mulutnya.
Gadis itu mengunyah sambil memperhatikan wajah suaminya.
"Uhuk....uhuk.... Andini kesendak ketika ia menelan makanan yang belum dikunyah dengan halus.
"Sebentar! saya ambil minum dulu. Dimas bangkit dan berjalan dengan cepat mengambil air minum.
Dimas mengambil segelas minum dan kembali ke ruangan dimana sang istri berada.
Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang pemuda menghampiri Andini, dengan sebuah buket bunga dan plastik pada genggamannya.
Dimas mengepalkan tangannya, ketika melihat Bagas mendekat ke arah Andini. Berani-beraninya mahasiswa itu datang ke rumah dan menemui istrinya.
"Hai....Din! sapa Bagas dengan langkah yang semakin mendekat.
Andini terkesiap, netranya membulat ketika melihat Bagas tiba-tiba datang ke rumah.
"Siapa yang membukakan pintu untuk Bagas?
apakah pemuda itu masuk begitu saja?
"Gas, Kamu ngapain ke sini?"tanya Andini tetapi Bagas Malah semakin mendekat ke arahnya dan duduk tepat di samping Andini
"Kaki kamu masih sakit Din?
__ADS_1
"Kok kamu tahu kalau kaki aku sakit? tanya Andini dengan heran. Padahal Ia tidak memberitahu orang kampus kalau kakinya sakit
"Iya, tahu lah Din. Kan, aku melihat kaki kamu diperban."Bagas menunjukkan kaki Andini.
"Oh iya, aku lupa. Gadis itu nyengir tak karuan .
"Ini untukmu! Bagas menyerahkan buket bunga yang dibawanya ke arah Andini.
Andini terdiam, tak langsung menerima pemberian Bagas.
"Kamu kok bisa masuk ke sini? apa Mama bukakan pintu tadi?" tanya Andini dengan heran.
"Tadi Bibi yang membukakan pintu untukku." jawab Bagas sambil tersenyum.
Andini melihat ke arah asisten rumah tangga yang berjalan ke arah dapur seraya mengangkat kedua Jarinya dan membentuk huruf V.
Sementara Andini langsung melototinya.
"Ambillah Din, aku tahu kamu suka bunga mawar. Dan aku juga bawa ini." Bagas menyerahkan satu box coklat ke hadapan Andini.
Andini masih terdiam, Ia bingung harus berbuat apa.
Pikirannya tiba-tiba error, tak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Kenapa Bagas malah berubah menjadi manis seperti itu?"
Bagaimana jika Dimas melihatnya.
"Din, kamu kok diam aja. Kamu kan, suka coklat. Aku tidak lupa semua yang kamu sukai, makanya aku membawakan bunga mawar dan coklat ini untukmu.
"Gas, Kamu mau ngapain ke sini?" tanya Andini kembali.
"Kenapa memangnya? nggak boleh? aku cuman pengen jenguk kamu Din. Semua teman-teman kamu juga jenguk kamu, masa aku nggak boleh. Ini bunga dan coklat untukmu, terima ya. Pleasess....." Bagas kembali menyodorkan bunga dan coklat itu ke hadapan Andini.
Gadis itu menatap wajah Bagasm Ada rasa Tak tega, Jika ia harus menolak pemberiannya.
Andini mengulurkan tangannya dan menerima pemberian Bagas dengan perlahan. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang melihatnya dengan tajam.
"Terima kasih ya." Andini tersenyum
"Harusnya, Aku yang berterima kasih. Karena kamu menerima pemberian aku. Cepat sembuh ya, biar bisa ngampus bareng aku lagi. Tangan Bagas terulur menyikap anak rambut yang menghalangi wajah cantik wanita di sampingnya.
Andini terdiam. Matanya menatap ke arah wajah tampan Bagas.
Dari dulu, Bagas melakukan hal yang sama menyikap anak rambut Andini. Karena ia tak suka ada sehelai rambut pun menghalangi wajah cantik wanita yang dulu dekat dengannya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN