Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 127. MEMBAHAGIAKAN MU


__ADS_3

Seperti biasa mencium punggung tangan dan cium kening itu seolah menjadi sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan ketika sepasang suami istri itu bertemu.


"Bagaimana kerjanya hari ini sayang?bos kamu galak, ya? tanya Dimas seraya menjalankan kembali mobilnya.


"lumayan sih Mas. Dia nggak suka pegawai lelet, jadi harus cekatan."Adu Andini.


"Kasihan istriku disuruh-suruh orang lain. Padahal aku sendiri belum pernah menyuruh."


"Masa? Andini menatap suaminya dengan bibir melebar seolah sedang mengejek.


"Paling juga Mas suruh rebahan di bawah tubuh Mas."balas Dimas sambil terkekeh.


"Hmmmm... beda jalur ini mah." Andini memutar bola matanya.


"Oh iya, kamu mau apa? tanya Dimas secara tiba-tiba.


Mau apa? maksudnya Mas? Andini balik bertanya dengan dahi mengerut.


"Iya, kamu ada yang ingin dibeli apa gitu? tapi kalau beli mobil nanti ya, ini beli apa saja yang kamu inginkan atau kamu butuhkan." jelas Dimas.


"Memangnya Mas sudah gajian? Andini menatap ke arah suaminya dengan senyum getir.


"Alhamdulillah ada rezeki. Kamu mau apa? kita langsung beli sekarang.


"Wihh...baik banget suami aku, nggak mau ditabung aja Mas uangnya?


"Untuk nabung sudah ada. Ini khusus untuk membahagiakan kamu, Karena tujuan utama Mas adalah itu."Dimas masih fokus mengemudi, sementara Andini hanya terdiam mendengar ucapan suaminya yang begitu membuat dirinya merasa diutamakan dan sangat bahagia.


"Aku jadi makin cinta sama kamu Mas. Kamu so sweet banget sih." Andini memeluk tubuh suaminya yang sedang menyetir.


"Oh jadi gitu. Kalau aku ada uang kamu bilangnya makin Cinta, kalau biasa aja kamu malah cuek."bibir pria itu tersenyum tipis


"Ih, nggak gitu Mas."


"Jadi gimana dong?"


"Ada uang Mas disayang nggak ada uang mas...."


"Ditendang!" Dimas mendahului ucapan istrinya.

__ADS_1


"Hahaha.... nggak lah Mas, durhaka dendang suami." ucap Andini sambil memberikan kecupan sekilas di ajah tampan suaminya


"Ya udah jadinya mau beli apa nih?


"Emmm.... beli skin care kali ya, biar wajah aku makin glowing sampai nyamuk pada kepeleset kalau nempel di pipi aku."


"Ingat Sayang, kecantikan kamu hanya boleh Mas yang menikmati."


"Iya Mas. Kita beli skin care dan kosmetik ya, soalnya kosmetik Andini juga sudah hampir habis. Terakhir beli saat Andini semester lima ucap Andini jujur.


Hal itu mengundang tawa dari Dimas. "Ini kamu Sudah semester berapa? tanya Dimas.


Andini hanya tertawa tidak menyahuti pertanyaan suaminya.


"Berarti kamu sudah lebih dari satu tahun tidak membeli kosmetik apa tidak habis-habis?tanya Dimas kepada sang istri.


"Iya nggak habis lah, secara Andini dulunya tidak pernah memakai kosmetik. Kosmetik Andini saja mama yang beli. Itu pun tidak pernah terpakai dulu. Andini memakai kosmetik sejak menikah dengan Mas. paling dulu Andini hanya memakai lotion dan lipgloss yang dipoles sedikit ke bibir Andini."sahut Andini jujur membuat Dimas menggelengkan kepala.


"Oh iya Mas, Andini perhatikan wajah Mas sedikit pucat. Apa Mas sakit? tanya Andini sambil menempelkan tangannya ke dahi Dimas.


"Tadi Mas di kampus sempat merasa pusing dan mual. Mas di kampus muntah-muntah. Padahal Mas makannya tepat waktu.


"Enggak loh sayang, mas makan tepat waktu.


"Tapi sekarang sudah mendingan nggak pusing dan mual lagi?"


"Sudah dong makanya Mas bisa menjemput kamu. Tadi petugas UKK sudah memberikan obat mual dan pusing untuk Mas. Mas rebahan sebentar kemudian pusingnya hilang dan mualnya juga hilang.


"Kasihan banget suamiku, Kalau Mas sakit tidak perlu memaksakan diri untuk menjemput Andini. Andini bisa naik taksi online atau dengan mobil Kak Herlan.


"Nggak apa-apa sayang, Mas saat ini sudah baikan kok. Ya sudah, kita beli skin care dan kosmetik kamu ya." Sahut Dimas sambil membelokkan mobilnya ke arah sebuah Mall dan ia memarkirkan mobilnya di sana.


Andini dan Dimas turun dari mobil. Keduanya berjalan memasuki Mall saat berada di toko kosmetik ternama yang ada di mall itu. Andini memilih kosmetik yang harganya ratusan ribu.


Walaupun Dimas seorang laki-laki, setidaknya Dia pernah membaca artikel mengenai skin care yang bagus. Sehingga ia meminta kepada Andini memilih skin care yang ia pegang.


"Sayang, mending kamu beli yang ini saja kualitasnya lebih bagus dan terjamin."ujar Dimas


"Tapi Mas harganya itu mahal loh."protes Andini

__ADS_1


"Nggak apa-apa sedikit mahal tapi kualitasnya bagus dan terpercaya."sahut Dimas


Andini menanyakan harga skin care itu kepada pegawai yang bertugas menjaga toko kosmetik itu.


"Maaf mbak skin care yang ini berapa ya? tanya Andini sambil meraih skin care yang ada di tangan suaminya.


"Lima juta Mbak." sahut wanita itu sambil mengembangkan senyumnya. Mendengar nominal Lima juta, Andini langsung meletakkan skin care itu, dan menarik tangan Dimas meninggalkan jajaran kosmetik yang memiliki harganya, menurut Andini sangat fantastis tapi bagi Dimas itu biasa saja.


"Mas ada-ada saja. Masa hanya untuk membeli skin care aja menghabiskan uang 5 juta, Mending uangnya ditabung. Sayang uang itu dibuat hanya beli skin care." Ucap Andini


"Tidak apa-apa sayang, Mas bekerja untuk kamu bukan untuk siapa-siapa." ucap Dimas


"Tapi nggak gitu juga kali mas, uangnya bisa ditabung. Nanti kalau kita punya anak biaya sekolahnya pasti besar. Aku tidak mau pendidikan mereka menjadi terhambat karena kita tidak pintar menabung uang." protes Andini.


Dimas hanya terkekeh mendengar Omelan Istrinya. Bukannya bahagia di belikan skincare yang berkualitas, malah ngomel. Dia mengira suaminya itu pria kere.


Dimas kembali meraih skin care itu, yang dibalas tatapan tajam dari Andini. Tapi Dimas tidak peduli kemudian memilih kosmetik seperti lipstik, blush on, lotion, dan kosmetik lainnya yang dirasa Dimas diperlukan sang istri.


Setelah merasa cukup, Dimas dan Andini berlalu ke kasir. Saat kasir menghitung belanjaan mereka, Andini terhenyak saat petugas kasir memberitahu nominal kosmetik dan skin care yang mereka beli menghabiskan uang sekitar lima belas juta.


"Apa?


"Lima belas juta?


"Ngak salah Mbak ? Waduh ini jajan aku selama dua tahun kuliah. Mahal banget."gerutu Andini sambil menatap suaminya dengan tatapan tajam. Ia beranggapan suaminya sangat boros. Padahal Dimas menganggap itu biasa saja.


"Tidak apa-apa sayang, tenang saja." ucap Dimas.


"Nggak apa-apa gimana ? beli skin care sama kosmetik aja ngabisin uang lima belas juta ada-ada saja kamu Mas."Andini mengomel.


Dimas mengeluarkan dompet di saku celana paling belakang Lalu memberikan black card-nya kepada petugas kasir. Petugas kasir itu tersenyum menerima black card dari tangan Dimas.


" Ia mengetahui hanya orang tertentu yang memiliki black card seperti milik Dimas. Dia tau Dimas seorang pengusaha kaya raya di kota ini, tapi untuk beli kosmetik saja Lima juta dia mengomel sama suaminya. Padahal suaminya berniat ingin membahagiakan dirinya. Seandainya aku di posisi wanita ini, aku pasti akan membelikan apa saja yang aku inginkan."gumam petugas kasir itu sambil mengembalikan Kembali black card milik Dimas kepada Dimas.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2