
"Aku bisa lebih agresif dari ini malah,"balas Andini dengan angkuh.
"Mana buktinya?"
Andini kembali berjinjit dan memegang kedua bahu suaminya, wanita itu mendekatkan bibir pada telinga Dimas, lalu berbisik. "Nanti!"
Setelah itu, Andini kembali berdiri tegak.
Dimas hanya tersenyum ketika mendengar bisikan istrinya barusan.
"Perban luka kamu sudah diganti?"tanya Dimas Raya memegang dagu Andini dan menengadahkan wajah gadis itu.
"Belum, aku takut melakukannya sendiri."
"Sekarang, Kamu duduk!"Dimas memegang pinggang ramping Andini dan mendudukkannya kembali di atas kursi yang menghadap langsung ke arah meja rias.
Dimas mulai membuka perban luka sang istri dengan hati-hati dan mengobatinya.
"Apa kepalamu masih sakit?"tanya Dimas Seraya memasang kembali perban yang baru.
"Sudah tidak, mungkin waktu itu aku pingsan karena syok melihat darah yang mengalir dari kepalaku,"jelas Andini dengan kepala yang tegak, Tak bergerak sedikit pun karena Dimas sedang mengganti perban lukanya.
"Maafkan Mas yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik,"ucap Dimas dengan penuh penyesalan.
"Tidak perlu minta maaf. Ini bukan salah Mas kok. tapi aku penasaran Siapa yang menculik Aku?" Andini mengerutkan keningnya, berusaha berpikir.
"Kamu mau tahu orangnya?"
"Iyalah, Mas. Siapa sih yang jahat banget menculik Aku sampai disekap di gedung kosong itu. Terus Aku dipukul sampai pipiku memar. Mereka juga bilang kalau besoknya aku akan dijual ke Madan. Madam siapa ya aku lupa,"carocos Andini seolah anak kecil yang sedang bercerita.
"Dijual? Dimas membulatkan matanya.
"Iya, pasti mereka untung banyak kalau menjual tubuh aku yang berharga ini."
"Mereka akan menjual kamu ke tempat pelacur dan menjadikanmu wanita malam,"jelas Dimas dengan tangan yang mengepal dan sorot mata tajam.
"Apa?Na'udzubillah. Aku nggak mau."Andini langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat, air mata Gadis itu kembali menetes dengan perlahan.
Dimas mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"untung kamu keburu datang menyelamatkan aku, Mas. Mereka jahat banget, siapa sih pelakunya? Kamu tahu nggak Mas?"Andini menengadahkan wajah tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Alena,"jawab Dimas yang membuat mata Andini langsung terbelalak.
"Tante Alena mantan kamu itu, Mas? tanyanya kembali memastikan.
Dimas mengangguk dengan perasaan tak enak.
"Kurang ajar! dasar tante-tante ganjen,"Andini menarik jemarinya satu persatu sampai berbunyi.
"Kamu mau ngapain?"Dimas memegang jemari istrinya yang menegang.
"Aku mau kasih pelajaran sama mantan kamu itu, Mas. Enak aja main curang, pakai nyuruh orang buat menculik Aku segala."wanita itu menggebu-gebu, dadanya terlihat naik turun menahan amarah.
"Kamu tenang ya. Alena sudah ada yang mengatasi."Dimas memeluk tubuh istrinya.
"Siapa Mas?"
"Heri."
"Siapa Heri?"
"Dia temanku, seorang detektif."
"Wah, hebat. kamu punya teman detektif juga Mas?"mata wanita itu berubah menjadi berbinar.
"Tunggu....., tunggu. Tumben memanggil aku? biasanya kan, saya."Andini memperhatikan wajah suaminya yang perlahan mengembangkan senyumnya.
"Memangnya kenapa? kamu ini istriku, bukan mahasiswa ku jika di luar kampus."Dimas menyentuh ujung hidung istrinya.
"Emmmmm...,so sweet."Andini kembali memeluk tubuh suaminya dengan erat, menyandarkan kepala pada perut kekar pria itu.
Tetapi, Tak lama kemudian ia mengangkat kepala dan menatap kembali ke arah wajah suaminya.
"Eh, terus mantan kamu itu dia beri hukuman apa, Mas?"orang jahat nggak bisa dia biarin gitu aja. harus diberi hukuman yang setimpal biar kapok,"geram Andini.
"Tenang saja, semuanya sudah aku serahkan sama Heri."
"Terus, mau diapain sama Heri itu?"harusnya, mantan kamu itu diasingkan ke pedalaman, biar jadi manusia purba kala sekalian."
"Ha ha....ha... kamu tenang saja, Heri sudah menyiapkan sesuatu yang spesial, iya dan Alena ada sesuatu yang belum terselesaikan."
"Maksud kamu apa, Mas? Andini belum bisa mencerna ucapan suaminya dengan baik.
__ADS_1
"Nanti juga kamu tahu. mending Sekarang kita berangkat, Setelah dari kampus kita akan melakukan pemotretan."
"Jadi hari ini, mas?"
"Kamu sudah siap belum? Kalau belum siap, aku bisa hubungi tim fotografer untuk menunda dulu."
"Tidak usah,Mas. aku sudah siap kok,"cegah Andini dengan ceria.
"Tapi ini bukan tim fotografer yang kemarin."
"Kok gitu, Mas? padahal aku sudah memesan konsepnya Seperti yang kemarin.
"Kemarin itu, bukan tim fotografer sesungguhnya, ternyata mereka adalah suruhan Alena."
"Sialan! pantesan tuh Mereka manggut-manggut aja waktu aku minta konsep yang aneh,"wajah wanita itu terlihat kesal.
"Kamu tenang saja, aku sudah memesan konsep yang lebih bagus dari kemarin."
"Kayak gimana tuh, Mas?
"Rahasia."
"Mas, ih!"Andini menjepit perut suaminya.
"Oh,iya Mas. kemarin juga setelah aku minum jus waktu di cafe, aku langsung pengen ke kamar mandi, rasanya kayak mau kebelet. Pasti mereka memasukkan sesuatu ke dalam minuman aku. Lagian, Aku bodoh banget sih, itu kan minuman udah mereka pesan duluan, kenapa malah aku minum pula."Andini masih kesal, bahkan gigi Gadis itu terlihat mengerat.
"Yang penting sekarang kamu tidak kenapa-kenapa. Cukup jadikan pelajaran saja, lain kali kalau ke toilet harus saya antar."
"Modus itu mah!"Andini bangkit dan memakai tasnya.
Sepasang suami istri itu berangkat bersama menuju kampus.
Sekarang, Andini sudah tak malu lagi untuk masuk ke dalam kampus dan berjalan bersama suaminya.
Walaupun masih banyak tatapan horor dari para mahasiswa, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.