Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 293. FARANISA HAMIL


__ADS_3

"Ikh! ngeselin banget, orang lagi mual juga."Nisa mencubit perut suaminya dengan kesal.


"Auh ...Auh ..Auh ..."bukannya berteriak, Ricky malah mengeluarkan suara seperti itu.


"Ricky, ngeselin banget!"Nisa kembali menjemput perut suaminya lebih keras lagi.


"Aaarghhhh!!! sayang, cubitan kamu nembus sampai ke usus," teriak Ricky saat merasakan sakit yang luar biasa akibat cubitan istrinya.


"Rasain! salah sendiri bikin orang kesal. Hoek...."Nisa kembali merasa mual.


"Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang! aku takut kamu kenapa-napa."tanpa basa-basi lagi, Ricky langsung mengangkat tubuh istrinya.


Pria itu berjalan dengan cepat keluar dari kamar mandi dan akan membawa tubuh Nisa keluar dari kamar.


"Stop!"teriak wanita itu Seraya menepuk dada suaminya agar menghentikan langkah.


"Kenapa? kita ke rumah sakit sekarang, kamu harus segera diperiksa."Ricky menghentikan langkahnya.


"Stop dulu! Kamu nggak lihat apa? aku cuman pakai underwear sama dalaman doang."


Seketika Ricky menundukkan kepala, melihat ke arah istrinya.


***


Seperti biasa, setelah Dimas berangkat kerja, Andini selalu direpotkan dengan ketiga buah hatinya.


Wanita yang kini berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu terlihat sibuk. Terlebih lagi saat ini ketiga bayinya secara bergantian menangis.


Terlebih lagi tangis Dania semakin kencang, Andini langsung memberikan kembali tubuh putranya baby Dasa, setelah baby dasar sedikit anteng.


"Iya, Nak. sebentar!"Andini segera mendekat ke arah Dania yang baru bangun tidur, Tetapi entah kenapa bayi itu malah menangis kencang, Tidak seperti biasanya.


"Cup ..cup ...cup .."kesayangan Mama Kenapa nangis sayang?"Andini segera mengangkat tubuh Dania, wanita itu mengecek popok yang dikenakan putrinya.

__ADS_1


"Masih kering,"gumam Andini di dalam hati.


Dania termasuk bayi yang anteng dan jarang menangis, tetapi kali ini tangis bayi perempuan itu semakin mengeras. Entah karena dia mendengar suara tangis kedua kakaknya, Danes dan Dasa.


"Mau nyusu? sebentar ya, sayang! Andini membuka kancing baju atasnya dan bersiap menyusui Dania.


Namun, baik itu malah menolak.


Dania tidak mau menyesap ASI-nya. bayi itu malah menangis sejadi-jadinya.


"Kok nggak mau?"kamu Kenapa Nak?"wajah Andini mulai terlihat panik.


Wanita itu menempelkan telapak tangannya pada kening Dania untuk mengecek suhu.


"Astagfirullah. Panas sekali."Andini tercengang saat merasakan suhu tubuh Dania yang begitu tinggi.


"Gimana ini? Dania panas banget,"Andini semakin tak karuan.


Selama ini, Dania tidak pernah sakit sampai panas seperti ini. Untuk pertama kalinya, Andini menghadapi bayi sakit dan membuatnya panik luar biasa.


"Sayang, Kamu kenapa begini? sebentar ya Mama telepon dokter dulu."Andini bingung harus melakukan apa.


Suster yang selama ini membantu Andini merawat ketiga buah hatinya hanya tersenyum. Melihat raut wajah panik Andini.


"Nyonya tenang saja, demam seperti ini sudah hal biasa untuk seorang bayi. "baby sitter yang sudah sangat berpengalaman itu langsung meraih tubuh Dania, kemudian memberikan obat yang sudah ia persiapkan sebelumnya, untuk menurunkan suhu tubuh Dania yang sangat panas.


Andini hanya memperhatikan Apa yang dilakukan oleh sang baby sitter. Memang suaminya tidak salah memilih baby sitter yang ingin merawat ketika bayinya yang sudah sangat berpengalaman.


Satu jam Setelah babysitter itu memberikan obat penurun panas kepada baby Dania, suhu tubuh Dania berangsur-angsur mulai normal. membuat Andini sedikit merasa lega.


Ia menatap ketika buah hatinya yang saat ini sudah tertidur setelah dia memberikan ASI-nya secara bergantian.


"Terima kasih ya Allah, aku sudah sempat panik tadi."gumam Andini di dalam hati sembari memperhatikan ketiga buah hatinya bergantian.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Nisa dan Ricky menuju ke rumah sakit. Saat ini sepasang suami istri yang berada di ruangan dokter, duduk dengan perasaan tak karuan.


"Bagaimana hasil tesnya dokter?"tanya Ricky penasaran.


"Hasil tesnya positif. Selamat ya, Pak, Bu atas kehamilannya,"tutur dokter itu yang membuat Ricky membulatkan mata sebulat-bulatnya.


"Beneran dokter?"Ricky menatap dokter di hadapannya dengan intens.


"Betul,Pak. usia kehamilannya baru menginjak tiga minggu,"jelas dokter itu kembali.


"Alhamdulillah. Sayang, Kamu hamil."pria itu langsung memeluk tubuh Nisa yang duduk di sampingnya dengan erat.


"Alhamdulillah, aku bisa hamil juga,"ucap Nisa dengan bibir yang tersenyum haru.


"Akhirnya, perjuangan pagi siang dan malam tidak sia-sia,"tutur Ricky kembali yang membuat dokter di hadapannya terkekeh.


"Eh, maksudnya kerja pagi, siang dan malam, biar istri saya bisa resign dari pekerjaan dokter,"jelas Ricky yang merasa malu sendiri.


 Dokter itu hanya membalas dengan senyuman.


"Sekali lagi, Terima kasih ya dokter."Ricky menjabat tangan dokter itu.


"Sama-sama Pak. jangan lupa rutin kontrol ke rumah sakit untuk mengawasi perkembangan janinnya ya!"


"Siap Dokter. Terima kasih, kami permisi dulu. Ayo Sayang!"Ricky sedikit berjongkok, pria itu mengangkat tubuh ini saat tanpa ragu.


"Astaga... Kenapa kamu gendong aku?"teriak Nisa


"Diam, sayang! kamu nggak boleh jalan, biar dedeknya di dalam nggak keganggu sama langkah kamu."carocos Ricky sambil membawa tubuh istrinya keluar dari ruangan itu.


"His.... kamu lebay banget sih."


"Bukan lebay, Aku cuma mau jadi suami siaga. Sekarang kamu mau apa? biasanya kan orang ngidam banyak maunya."Ricky masih belum menurunkan tubuh Nisa, Iya menggendong istrinya keluar dari rumah sakit dan menuju mobil mereka.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2