
Bagas masuk ke tengah kerumunan dan menatap Bima dengan nyalang.
Sementara Andini semakin terdiam, bingung harus berbuat apa. Kalau ia menerima, dia menyakiti hati Dimas. Tapi dia juga tidak ingin temannya itu keluar dari kampus hanya karena taruhannya dengan Bagas.
"Andini, kalau kamu menerima aku, ambil bunga ini tapi kalau kamu menolak aku, kamu jangan terima bunga ini."Bima menyodorkan setangkai mawar yang telah disiapkannya ke arah Andini. Andini merasa tidak tega.
Bagas semakin mendekat dengan tatapan penuh ancaman.
"Ingat! kamu harus cabut dari kampus ini kalau Andini nolak kamu!"ancam Bagas sekali lagi.
"Siapa takut!"balas Bima dengan penuh percaya diri.
"Andini, dalam hitungan ketiga, kamu tentukan jawabannya,"ucap Bima dengan tatapan penuh harap sambil mulai menghitung.
Semua mahasiswa terdiam, tatapan mereka tertuju karena mawar yang dipegang Bima.
Mariska dan Rian yang berdiri di samping Andini, ikut merasakan ketegangan.
Terima!
Terima!
Terima!
Teriak mahasiswa terdengar memenuhi lokasi itu.
Niat hati ingin membantu Bima agar tidak keluar dari kampus, sehingga Andini memejamkan matanya sebentar.
"Maafkan aku Mas, setelah ini aku akan memutuskan Bima secara baik-baik, Aku tidak ingin menyakiti hatimu. Tapi Bima lelaki yang baik tidak mungkin karena taruhan seperti ini dia harus keluar dari kampus ini. Dia juga mahasiswa yang berprestasi."gumam Andini dalam hati.
Setelah itu, iya menggerakkan tangan dan mengambil setangkai mawar merah tersebut dari tangan Bima.
"Yes! thanks Andini."Bima mendekat dan langsung memeluk tubuh Andini.
"Huuuuu! sorak para mahasiswa terdengar kembali.
Namun, jantung Andini seolah berhenti berdetak, tubuhnya melemas, setangkai mawar itu terjatuh dari genggamannya ketika melihat seseorang sedang menatapnya dengan penuh kehancuran.
"Mas Dimas! Andini segera mendorong tubuh Bima sampai pelukan itu terlepas.
Dimas yang kembali lagi ke kampus, hendak menjemput Andini, dikejutkan dengan adegan itu.
Dimas membalikkan tubuhnya ketika Andini berlari ke arahnya.
"Mas, tunggu!"teriak Andini sekencang mungkin.
Namun, Dimas sama sekali tidak menghiraukan teriakan istrinya, pria itu masuk kembali ke dalam mobilnya dan menjalankan roda empat itu dengan kecepatan tinggi.
"Mas, tunggu! aku bisa jelasin!"teriak Andini kembali dengan air mata yang seakan tumpah.
"Din, Ada apa sebenarnya?"tanya Mariska yang mengejar langkahnya
"Ris, aku pinjam motor kamu ya."Andini menyodorkan tangannya ke arah Mariska.
"Din, kamu sama Pak Dimas Kenapa sih?"tanya Mariska kembali.
"Aku pinjam motor kamu, cepetan!" bentak Andini.
__ADS_1
"Iya!"Mariska menyerahkan kunci motornya dan Andini langsung meluncur, mengejar mobil Dimas yang sudah menjauh.
Andini yang notabennya seorang wanita yang senang sekali balapan, Tak butuh waktu lama ia dapat mengejar mobil Dimas.
"Mas, tunggu!"aku bisa jelasin semua ini!"
Andini semakin menambah laju motornya, Bahkan ia menyalip beberapa kendaraan dan akan menghadang mobil Dimas
Pria itu menghentikan mobilnya, takut jika Andini celaka kalau terus mengejarnya.
Andini langsung turun dari motor menghampiri Dimas juga sudah keluar dari mobilnya.
"Mas, aku minta maaf. aku bisa jelasin semuanya."Andini akan memegang tangan Dimas, tetapi pria itu langsung menepisnya.
"Semuanya sudah jelas. pantas saja selama ini kamu selalu menolak untuk saya gauli, Ternyata kamu tidak menerima saya sebagai suamimu dan hati kamu tertuju pada pria lain,"ucap Dimas dengan Gigi mengerat tangan mengepal.
"Mas, aku akan memutuskan Bima setelah ini. Aku melakukan itu, karena Aku tidak ingin Bima keluar dari kampus, dan Bagas tertawa akan penderitaan yang dirasakan Bima keluar dari kampus, tanpa kesalahan apa-apa terhadap pihak kampus."Andini mencoba memberitahu hal yang sebenarnya yang ia lakukan.
"Tidak perlu! selamat bertemu kembali di pengadilan agama!"tegas Dimas, lalu masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Mas, tunggu! dengarkan penjelasan aku, Aku mohon! teriak Andini dengan sekencang mungkin, sampai tenggorokannya terasa tercekat.
Namun, Itu semua tidak menghentikan mobil Dimas yang kembali melaju semakin menjauh.
Air mata wanita itu mengalir dengan deras, Mbak sebuah hujan baru turun.
Andini menjambak rambutnya sendiri dengan wajah kacau. Ia tak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.
Padahal Ia menerima Bima hanya supaya pemuda itu tidak dipermalukan dan tidak keluar dari kampus karena taruhan dengan Bagas.
kenapa Dimas tak mau mendengarkan penjelasannya sedikit saja.
Bruk!
Wanita itu menjatuhkan tubuhnya yang ke atas tanah.
Tubuhnya terasa lemas, bahkan lututnya bergetar dan membuat kakinya tak mampu lagi berpijak.
Andini terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa akan pecah, air mata sudah tak terhitung lagi.
tak peduli orang-orang berlalu lalang di jalan itu memperhatikannya yang terlihat bak orang gila. menangis meraung sambil sesekali memukuli kepalanya sendiri.
Kenapa ini terjadi di saat perasaan sudah mulai berubah?
Di saat dia sudah bisa menerima Dimas sebagai suaminya?
Tiga unit mobil motor, berhenti tepat di hadapannya.
Andini tak memalingkan wajahnya sedikitpun, wanita itu masih duduk menunduk dengan wajah kacau.
Beberapa orang mahasiswa turun dari motor dan segera menghampirinya.
Bima terlihat sangat khawatir ketika melihat keadaan Andini begitu kacau, walaupun ia tidak tahu permasalahan apa yang sedang dialami wanita itu.
"Din, kamu kenapa?"tanya Bima seraya ikut berjongkok.
"Mariska, Rian, Robert dan Ricky ikut mendekat.
__ADS_1
"Din, bangun ya!"Bima mengulurkan tangannya, akan membantu Andini bangkit.
Namun, wanita itu langsung menepisnya.
Andini bangkit sendiri dengan rambut berantakan dan wajah sebab.
Bima ikut bangkit dan berdiri di hadapan gadis itu.
"Din, kamu kenapa seperti ini?"tanya Bima kembali.
Raut heran dan khawatir terpampang nyata pada wajah tampan pria itu.
Mariska, Rian,Robert dan Ricky hanya terdiam, membiarkan kedua orang itu menyelesaikan masalahnya.
Andini masih terdiam, mengatur nafas agar tidak terlalu sesak.
Bima memegang kedua bahu wanita itu yang terlihat bergetar, lalu bertanya kembali,
"Din, jawab aku! kamu kenapa?".
"Ini semua gara-gara kamu! coba aja kamu lakuin hal ngak gila kayak tadi!"Andini mendorong tubuh tegak pemuda itu sampai menjauh darinya.
Keempat teman-temannya membulatkan mata ketika melihat Apa yang dilakukan Andini.
"Maksud kamu apa, Din?"aku memang sudah lama menyimpan perasaan untukmu, cuma aku memilih waktu yang tepat untuk mengungkapkannya."Bima kembali mendekat.
"Tapi, waktu kamu sangat tidak tepat bagiku. Gara-gara kamu pernikahanku hancur!"Andini kembali mendorong dada Bima.
Sementara semua yang mendengar kalimat itu membulatkan mata tak percaya, termasuk Mariska dan Rian yang langsung mendekat dan memberikan tatapan penuh interogasi.
"Pernikahan? maksud kamu pernikahan apa, Din? tanya Bima dengan wajah bingung.
"Pernikahan aku sama Pak Dimas!"jelas Andini penuh penekanan.
Rasanya saat ini ia tak ingin lagi menutupi pernikahan itu dari siapapun, walaupun pernikahan keduanya sedang berada di ambang kehancuran.
"Apa, Din? kamu sama Pak Dimas udah nikah?"tanya Mariska dengan raut heran bercampur hancur.
"Iya, aku sama Pak Dimas sudah menikah satu bulan yang lalu,"jelas Andini yang membuat sahabatnya itu langsung menghafalkan tangan.
Mariska mendekat dengan perasaan yang seakan meledak.
"Maksud kamu apa, Din ngomong kayak gini? kamu mau mempermainkan perasaan aku? Kamu kan tahu aku sangat mengagumi Pak Dimas."Mariska menatap Andini dengan nyala.
"Aku nggak pernah larang kamu buat mengagumi Pak Dimas, tapi aku tak rela kalau kamu mencintai Pak Dimas! tegas Andini membalas tatapan tajam Mariska.
Semua orang yang ada di sana terdiam. mendengar kenyataan yang sebenarnya. sementara Mariska sudah tersulut emosi.
"Mariska, aku sama Pak Dimas sudah lama menikah, bahkan mungkin sebelum kamu menyukainya."dan kami pun sudah ditunangkan semenjak aku masih kecil.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1