Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 64. MERASA TERHINA


__ADS_3

Dimas menarik tangan Andini dan melingkarkan kedua tangan wanita itu, pada perutnya.


"Ini baru namanya siapa?"setelah itu, Dimas menjalankan motornya meninggalkan rumah.


Andini menyandarkan kepalanya pada punggung tegap itu dan mencium dalam-dalam aroma maskulin dari tubuh suaminya yang membuat ia nyaman.


Jantungnya berdegup kencang, angin sepoi-sepoi malam membuat wanita itu semakin mengeratkan pelukannya.


Bintang yang bertaburan di langit indah di tengah sang rembulan, membuat suasananya semakin romantis.


Andini sungguh tak menyangka, Dimas yang selama ini terlihat cuek dan dingin bisa bersikap lembut dan sehat itu.


Sepasang suami istri itu menelusuri jalanan ibukota, di tengah gelapnya malam. Yang hanya disinari sang rembulan Dan lampu jalan.


"Kamu mau pergi ke mana Sayang?"tanya Dimas seraya memelankan laju roda duanya, agar suaranya terdengar oleh sang istri.


"Kalau aku mengatakan, Aku ingin pergi ke bulan bagaimana? jawab Andini tanpa mengendorkan pelukannya sedikitpun.


"Kita honeymoon aja atau nggak sekalian."teriak Dimas Seraya menambahkan kecepatan motornya yang membuat Andini semakin mempererat pelukannya.


****


"Kamu sudah ngantuk?"tanya Dimas saat mereka telah selesai makan di sebuah resto.


Andini hanya mengangguk dengan mata sayu. Kelopak matanya terasa berat setelah perutnya kenyang.


"Kita pulang sekarang ya!"Dimas merangkul bahu istrinya dan keluar dari resto. Tentunya setelah melakukan pembayaran menu makanan yang mereka santap.


Tak lupa, mereka juga membawa makanan untuk Erin, walaupun Dimas sudah melarangnya, tetapi niat Andini yang ingin memperbaiki hubungan dengan adik iparnya itu tetap memaksa untuk membeli makanan.


"Kamu pegang yang kuat, jangan tidur dulu, takut jatuh,"ucap Dimas seraya melingkarkan kedua tangan Andini pada perutnya.


"Punggungnya nyaman banget, mataku jadi tambah ngantuk."Andini menyandarkan kepalanya pada punggung tegap Dimas.


"Jangan tidur dulu Sayang, Mas takut kamu jatuh."Dimas mulai menjalankan roda duanya meninggalkan Resto.


"Mas takut kehilangan aku, ya?


"Setiap apa yang aku miliki, selalu aku jaga dengan baik dan aku tidak mau kehilangan apapun yang selalu aku jaga."Dimas menggenggam jemari Andini dan mengecup sekilas punggung tangan wanita itu.


Namun, Dimas tak langsung melepaskan tangan istrinya, lelaki itu malah mengelus-elus kan punggung tangan Andini pada bulu jenggotnya yang mulai tumbuh kembali.


"Mas, ih... geli tahu! Andini menarik tangannya dan kembali melingkarkan pada suaminya.


Dimas hanya terkekeh dan kembali fokus mengendara.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sepuluh menit kemudian, mereka telah tiba di halaman rumah.


Mobil milik Alena sudah tidak ada di sana, sepertinya Wanita itu sudah pulang.


Setelah menyimpan kembali motornya ke garasi, Dimas dan Andini segera masuk ke dalam rumah, Kebetulan sekali mereka berpapasan dengan Erin yang akan masuk ke dalam kamarnya.


"Erin,"Panggil Andini Seraya melepaskan genggaman Dimas dan mendekat ke arah adik iparnya.


Erin menghentikan langkah dan menoleh dengan malas ke arah Andini.


Wanita itu menatap ke kakak iparnya tanpa bicara.


"Nih, Kakak bawakan makanan. Tolong diterima, ya!"Andini menyodorkan makanan itu ke arah Erin dengan senyum yang terlihat ramah.


"Mau diterima ya? ya udah, sini!"Erin mengambil bungkusan makanan itu dengan kasar.

__ADS_1


Andini masih mengembangkan senyumnya, dengan mata berbinar karena Erin mau menerima pemberian darinya.


"Sudah diterima, kan?"


Erin menjatuhkan makanan itu ke lantai dengan wajah angkuh, setelah itu ia kembali membalikkan badan dan melanjutkan langkah.


"Erin!"bentak Dimas yang tak dihiraukan oleh adiknya. wanita itu langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.


Andini menghela nafas panjang. lalu membuangnya secara perlahan. Ia menatap makanan itu dengan nanar, hatinya terasa teriris. Untuk pertama kalinya ia merasa terhina. Bahkan air mata seakan menetes, tetapi ia berusaha menahannya.


"Aku harus beri pelajaran anak itu."Dimas akan mendekat ke arah kamar adiknya, tetapi Andini menahan lengannya.


"Sudah, Mas. nggak apa-apa kok."


"tapi dia harus dikasih tahu agar tidak bersikap seperti tadi lagi."


"Aku nggak papa kok."Andi ini berusaha menampilkan senyuman pada wajahnya.


"Benar?"


"Iya, kita masuk kamar yuk!"Andini mengambil kembali makanan itu.


"Bi... Bibi,"teriak Andini yang langsung membuat asisten rumah tangga di rumah itu langsung datang menghampirinya.


"Ada apa, non? Apa ada yang bisa Bibi bantu?


"Ini makanan untuk bibi."Andini menyerahkan bungkus makanan itu ke arah asisten rumah tangga itu.


Untung makanan tadi tidak tumpah, jadi masih bisa dimakan.


"Alhamdulillah, Terima kasih non."


"Sama-sama, Bi."


"Maaf ya,"ucap Dimas Seraya membuka jaketnya.


"Maaf untuk apa, Mas?"Andini mengikuti gerakan yang sama membuka jaket yang ia kenakan.


"Maaf atas sikap Erin terhadap kamu."


"Nggak apa-apa. Nggak usah minta maaf, lagian yang salah bukan Mas kok. Erin hanya butuh waktu saja untuk kenal lebih dekat denganku. Mungkin wajahku kelihatan jutek, makanya dia tidak menyukaiku.


"Terima kasih, tapi aku tetap merasa tidak enak sama kamu."


"Jangan merasa bersalah seperti itu, mukanya nggak lucu."Andini menculik dagu suaminya sambil terkekeh.


Dimas menangkap tangan istrinya dan mendekatkan wajah.


Lelaki itu menempelkan dahi keduanya dengan bibir yang semakin mendekat.


Andini memejamkan mata, menikmati alunan detak jantung yang kian bertalu-talu.


Dimas mendorong tubuh istrinya dengan perlahan dan keduanya terjatuh di atas kasur dengan posisi Dimas yang menindih tubuh Andini.


Pria itu membelah tengkuk istrinya dan menempelkan bibir keduanya.


Dimas langsung melahap pucuk ranum itu dengan rakus.


Andini mengikuti permainan suaminya dengan lihai


Tangan pria itu bergerak menurun, hingga tiba pada dua gunung kembar yang selalu menggodanya.

__ADS_1


Hawa panas mulai dirasakan keduanya, Andini bergelinjang tubuhnya saat kedua tangan kekar itu meremas sesuatu yang membuatnya tambah terangsang.


Dimas melepaskan pagutannya saat pasokan oksigen mulai habis.


Keduanya saling menatap dengan tarikan nafas panjang, mengisi rongga dada yang hampir kosong.


"Boleh kan?"Dimas meminta izin sebelum memulai kembali permainannya.


Andini hanya mengangguk dengan wajah yang kian merona. Wajahnya bak kepiting rebus.


Setelah mendapat izin dari sang istri, pria itu kembali melancarkan aksinya, membuka kancing baju Andini satu persatu sampai kedua gunung kembar itu terlihat dengan sempurna.


Andini tidak tinggal diam, wanita itu ikut bekerja, membuka kancing kemeja suaminya sampai dada bidang itu terbuka.


Andini memainkan jemarinya di sana dengan manja. Dimas tampak menikmatinya.


Dimas mendekatkan wajahnya pada Ceruk leher sang istri, menyesap dan memberikan jejak kepemilikan pada tengkuk Andini.


lenguhan mulai terdengar saat rasa semakin terangsang.


Dimas menurunkan bibirnya dan terus memberi rangsangan pada sang istri.


Sesuatu di dalam sana sudah bangkit dan menetap dipuaskan.


Tangan Kakak itu membuka pengaman segitiga milik istrinya. Tetapi matanya membulat ketika melihat bercak merah.


"Kamu terluka?"tanya Dimas dengan heran, tetapi tangannya langsung gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.


"Terluka Kenapa Mas?"


"Ini kamu berdarah loh."


"Astaga!!! aku lagi datang bulan."Andini langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi.


Seketika harapan itu musnah, Dimas menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kasur dengan lesu.


Andini kembali memakai pakaiannya dan mendekat keras suaminya yang terlihat putus asa.


"Mas, maaf ya! Aku nggak tahu kalau lagi datang bulan,"ucapkan dini dengan wajah sendu.


Ia benar tidak merasakan apapun, mungkin darah itu baru saja keluar.


"Tidak apa-apa. mungkin ini cobaan untuk aku."wajah tampan itu masih terlihat kecewa.


Andini melihat ke arah bawah suaminya masih terlihat on walaupun tertutup selimut.


"Mas mau aku bantu?"Andini mendekatkan tubuhnya


"Bantu apa?


"Tuh!"Andini menunjuk ke arah batang yang masih menjulang tinggi.


"Haha....ha" pasangan suami istri itu tertawa renyah. Dan Andini pun membantu suaminya untuk menuntaskan, yang seharusnya dituntaskan oleh suaminya tadi.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1



__ADS_2