
"Sayang, di sini nggak ada hair dryer ya?"tanya Nisa sambil memegang kepalanya yang masih terbalut sehelai handuk, menutupi rambut basahnya.
"Nggak ada. Kalau mau mengeringkan rambut, tinggal buka jendela aja, nanti langsung kena hair dryer alami."jawab Ricky Seraya memakai celana jeans-nya.
"Apaan sih? ntar yang ada rambut aku malah ada yang narik lagi."balas Nisa dengan nada sedikit kesal.
"Memangnya kenapa sih? sudah, biarin aja rambut basah doang, nanti lama-lama juga kering sendiri."
"Malu lah sama Mama dan Papa."
"Malu kenapa? orang cuman rambut basah doang, masa malu?"Ricky menyisir rambutnya yang juga masih terlihat basah.
"Entar kita dikira habis ngapa-ngapain."
"Ngapa-ngapain gimana?"pria itu membalikkan badan, menghadap ke arah sang istri.
"Ya, gitu deh."Nisa menyatukan kedua jari telunjuknya.
"Hahaha... ada-ada saja kita kan emang dia habis ngelakuin itu, tembus sampai subuh malah."Ricky tertawa renyah sementara pipi Nisa terlihat merona.
"Hussst... Jangan bilang-bilang dong, Nanti ketahuan."Nisa menempelkan jari telunjuk pada bibir ranumnya.
"ketahuan sama siapa?
"Sama Mama dan Papa."
"Ya sudah kalau kamu mau mengeringkan rambut, aku ambilkan kipas angin dulu di kamar belakang. Soalnya di kamar ini nggak ada kipas angin, kita kan pakai AC."
"Iya, sana! aku nunggu di sini aja, nggak mau keluar sebelum rambut aku kering.
Setelah itu, Ricky keluar dari kamar dan mengambil sebuah kipas angin dari kamar yang paling belakang.
Pria itu berjalan dengan langkah, agar tidak ketahuan sang ibu.
"Ricky, ngapain bawa-bawa kipas ke kamar itu? di sana kan ada ac-nya? suara cempreng itu seketika menghentikan langkah Ricky.
__ADS_1
Pria itu membalikkan tubuhnya dengan perlahan menghadap sang ibu yang menatapnya dengan heran.
"Emmm .. ini mah, AC di kamar mati, "bohong Ricky.
"Akh Masa ? perasaan kemarin masih nyala,"balas Sulastri dengan tatapan penuh selidik.
"Kan kemarin, Ma. Sekarang AC-nya mati."elak Ricky.
"Ya sudah biar mama coba cek dulu. Kalau beneran mati nanti siang manggil tukang AC."tanpa permisi lagi, wanita paruh baya itu langsung menerobos ke dalam kamar yang ditempati Ricky dan istrinya.
Nisa yang sedang duduk di tepi ranjang cukup tersentak ketika melihat kedatangan mertuanya secara tiba-tiba.
Sementara Ricky menepuk jidatnya, Kenapa ibunya susah sekali dibohongi..
"Ini adem, AC-nya masih nyala."Sulastri berdiri Seraya memperhatikan AC di kamar itu.
Namun, Tak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya ke ratnisa yang duduk di tepi ranjang dengan rambut yang terlihat masih basah.
Pipi wanita itu seketika merona saat tatapan sang mertua tertuju ke arahnya.
"Hmmm... Mama paham sudah cepat keringkan rambut istri kamu sana!"tita Sulastri yang diiringi tawa kecil, sementara wajah Nisa semakin merona ketika mendengar ucapan mertuanya.
"CK. .. Kenapa juga harus ketahuan sama mama?"serganisa saat mertuanya sudah benar-benar tidak ada di kamar itu.
"Maaf, tadi nggak sengaja kepergok Mama di depan."balas Ricky Seraya membawa kipas angin tadi ke arah istrinya.
"Ya sudah, terlanjur basah, kirimkan saja!"ucap Nisa dengan nada bibir mengerucut.
Setelah itu, Ricky membantu istrinya mengeringkan rambut, bisa tersenyum merekah, raut bahagia terpancar nyata pada wajah cantik itu tatkala Ricky menyisir rambutnya dengan perlahan.
"Terima kasih, ya. sudah bantuin aku nyisir rambut,"ucap Nisa sereal menoleh khas suaminya.
"Nggak usah berterima kasih. habis ini kamu harus menjalankan tugas sesuai apa yang telah kamu setujui, mengerjakan pekerjaan sebagaimana orang sini lakukan."balas Ricky yang membuat senyum istrinya perlahan memudar.
Nisa membuang nafas kasar, dia ingin membantah tapi tidak bisa. Saat ini dirinya harus benar-benar bersikap baik dan menuruti semua perintah suaminya.
__ADS_1
"Ya sudah, aku keluar dulu, mau nyapu." Nisa bangkit dari duduknya, wanita itu keluar dari kamar masih mengenakan daster semalam, karena iya sama sekali tidak membawa baju ganti. Ricky mengikuti langkah istrinya yang berjalan ke arah pojok.
Nisa mengambil sebuah sapu dan mulai menyapu lantai dengan gerakan kaku, mungkin Ini pertama kali dalam hidupnya ia memegang gagang sapu dan melakukan kegiatan yang belum pernah dilakukannya.
"Eleh, ini lagi ngapain? kenapa Nisa pakainya pulang teh segala?"Sulastri datang secara tiba-tiba yang membuat Nisa menghentikan gerakan tangannya sejenak.
"Nggak apa-apa Ma. Nisa mau beres-beres rumah, biar ada kegiatan." jawab wanita itu dengan senyum ramah.
Sementara Ricky kembali menepuk jidatnya sendiri, Kenapa ibunya selalu datang di saat yang tidak tepat.
"Tidak usah, ini bukan pekerjaan kamu Nak. Lagian lantainya sudah di sapu , jadi sudah bersih."tutur Sulastri Seraya mengambil sapu dari tangan menantunya.
Nisa terdiam dengan wajah bingung, wanita itu melirik ke arah suami yang juga sedang terdiam.
"Nak Nisa nggak ganti baju ya? aduh, kasihan banget menantu Mama yang cantik pakai daster kusut terus. Ricky sini kamu!" Sulastri melambaikan tangannya, memanggil Sang putra.
Ricky melangkah dengan perlahan, padahal Ia mau mengerjai istrinya, Kenapa harus gagal.
"Ricky, mending sekarang kamu ajak Nisa beli baju! belikan es krim mau baju yang cocok,"jangan daster kayak gini?"Dita Bu Sulastri dengan nada bicara terdengar cepat.
"Beli baju ke mana, Ma?" tanya Ricky kembali.
"Kau beli lagi Binjai, di sana kan ada beberapa Mall. Jangan ke pasar!" Dita Bu Sulastri kembali dengan nada bicara yang kini terdengar sedikit angkuh.
"CK... jauh banget Mas sampai ke Binjai. di sini kan ada serba tiga puluh lima ribu. " jawab Ricky ngasal.
"Jauh kalau kamu jalan kaki. Sebentar, kalian tunggu di sini!" wanita paruh baya itu melangkah dengan cepat ke arah kamarnya.
Tak lama kemudian, Ibu Sulastri kembali ke hadapan Ricky dan Nisa.
"Ini kunci mobil sama kartu ATM keluarga, Kamu pakai aja buat belanjain Nak Nisa, insya Allah isinya cukup, nggak akan habis malah. pin-nya tanggal lahir Mama, takutnya kamu lupa, padahal udah pernah kamu pakai kartu ini."
Sulastri menyerahkan sebuah kunci mobil dan kartu ATM kepada tangan Ricky.
Nisa merasa terharu ketika melihat kebaikan Mertuanya, bahkan Ibu Sulastri tak sedang-sedang mengucapkan PIN, ATM itu di depan Nisa. Mertuanya sangat terbuka bahkan hal yang sangat privasi.
__ADS_1
Bersambung..
Sambil menunggu karya ini update kembali. Mampir juga ke karya baru mak. "Divorce on the wedding day."