Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 224. CEMBURU ITU TIDAK ENAK


__ADS_3

"Nggak enak, ya? akhirnya kamu merasakan juga Gimana rasanya cemburu. Makanya, jangan suka genit-genit sama cewek lain. Aku juga merasa gitu kalau kamu dekat sama cewek lain." tutur Erin dengan bibir mengerucut.


"Cewek lain siapa?"Bima menautkan kedua alisnya.


"Ya banyak, kayak kemarin tuh waktu di pangkalan Brandan di kampung kamu, kamu kan dekat sama penyanyi dangdut itu. Terus, kamu juga pernah dekat sama seseorang, Bahkan kamu pernah mengatakan kalau kamu mencintai dia, kamu bilang kayak gitu di depan aku sendiri."tutur Erin kembali dengan raut wajah yang terlihat sendu.


Wanita itu mengendorkan pelukannya dan melepaskan tangannya dari tubuh Bima dengan perlahan.


"Siapa? Bima menahan lengan istrinya agar tidak melepaskan pelukan dari tubuhnya.


"Kak Andini."jawab Erin dengan nada lesu dan terdengar putus asa. Raut wajahnya menyerahkan ada rasa sakit yang ia tahan di dalam sana.


"Itu hanya masa lalu. dulu kita memang sempat dekat dan Aku terjebak oleh perasaan bodoh itu. Tapi jujur, sekarang Aku sudah tidak tertarik dengan wanita manapun setelah aku menikah denganmu dan mengetahui sikap kamu yang ternyata lebih penyayang dan penyabar."Bima menggenggam jemari lentik istrinya.


"Masa? jadi, kamu mau sama aku karena aku penyayang dan penyabar doang?"Erin kembali mengerucutkan bibirnya.


"Itu poin utama. poin bonusnya karena kamu cantik, putih baik dan aku cinta sama kamu."tutur Bima dengan suara lembut, setelah ia mengangkat tangan istrinya dan memberikan sebuah kecupan lembut pada punggung tangan Erin.


Erin tersenyum lebar, ada rasa haru di hatinya. Setelah sekian lama sikap suaminya cuek dan seolah tidak peduli, akhirnya Erin mendapatkan pengakuan Cinta yang sesungguhnya dari pria itu.


****


Sementara di tempat, Dimas yang baru pulang dari kantor langsung ke rumah mertuanya untuk menjemput sang istri. karena sebelumnya Andini menghubungi suaminya, kalau dirinya bosan di rumah dan memilih pergi ke rumah kedua orang tuanya.


Mobilnya datang ke rumah itu bertepatan dengan mobil Herlan yang juga baru tiba. keduanya turun dari mobil hampir bersamaan.


"Eh, Kak Herlan baru pulang juga?"tanya Dimas dengan drama.


"Iya, kebetulan baru selesai lembur."balas Herlan. Keduanya melangkah bersama ke arah pintu rumah


"Gimana kerjaannya, lancar Kak?"tanya Dimas kembali basa-basi. Meskipun usia Dimas lebih tua dibandingkan Herlan, tetapi pria yang berprofesi sebagai CEO dan juga dosen itu tetap menyebut Kakak kepada kakak dari istrinya itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah lancar. Ya, meskipun kadang tak luput dari protestan."sindir Herlan karena dia tahu yang mengkritik pekerjaannya itu adalah Dimas. Yang disampaikan kepada Alvin dan Alvin yang menyampaikan langsung kepada Herlan.


"Namanya juga kerja, saya juga sama, kadang seperti itu."balas Dimas yang ikut tersenyum tanpa merasa sakit hati dengan ucapan kakak iparnya.


"Ah, Masa sih CEO dan dosen profesional seperti mendapat protes."


"Namanya juga manusia, Kak. tak luput dari salah dan dosa."keduanya tertawa ringan sambil terus berjalan, masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar itu.


"Mas!"


"Bang!"


Dua orang wanita dengan dengan perut yang membuncit menghampiri mereka.


Dimas dan Herlan menghentikan langkah, membiarkan istri mereka yang mendekat.


Andini dan Rian terlihat ceria, bagaikan seorang anak yang menyambut kedatangan ayahnya.


"Astaga, ini kedua orang hamil kelakuannya kayak bocah." celetuk Nyonya Laras yang datang membawa sepiring pisang coklat ke ruang tengah.


"Menyambut kedatangan suami dengan hangat, Ma,"balas Andini dengan tubuh yang menempel rapat pada suaminya.


"Sudah, mending aja suamimu sini, Duduk dulu!"Mama buatkan kopi. sekalian sama Herlan juga. Kita ngobrol-ngobrol dulu. jarang-jarang kan kita bisa kumpul bareng kayak gini."cerocos Nyonya Laras sambil meletakkan sepiring pisang coklat itu di atas meja.


"Papa mana Ma? tanya Herlan.


"Ada di kamar. Paling sebentar lagi pasti keluar. ya sudah, Mama buat kopi dulu ke dapur."


"Eh, enggak usah. Ma. biar yang aja yang buat."wanita yang memakai daster itu berjalan dengan cepat ke arah dapur.


"Rian, aku ikut. ntar kopi buat suami aku kamu kasih apa-apa lagi."ucap Andini sambil berjalan mengejar langkah kakak iparnya.

__ADS_1


"Dih, pikiran negatif aja."balas kalian sedikit sewot.


"Sewot banget sih, Awas entar anaknya jutek." timpal Andini.


"Kagak ya! anak aku pasti cantik kayak aku kalau cewek dan kalau cowok pasti ganteng kayak Bang Herlan."cerocos Rian dengan penuh percaya diri.


"Ya, iyalah. masa kayak tetangga!"balas Andini sambil mengusap wajah Rian dengan telapak tangannya dan tertawa renyah.


"Adik ipar durhaka!


"Kamu tuh kakak ipar durhaka!"


"Dih, buset dah!! kedua wanita itu tertawa sambil terus berjalan ke arah dapur.


Andini dan Rian adalah sahabat yang sangat akrab, sehingga setelah keduanya memiliki hubungan ipar, mereka sulit menghilangkan sikap somplak keduanya ketika sedang bersama.


"Setelah itu, kedua wanita yang sedang berbadan dua itu kembali ke ruang tengah dan menyajikan kopi di hadapan ketiga laki-laki yang terlihat sedang berbincang dengan hangat.


"Kalau lagi kayak gini, aku jadi kangen Opa deh."tutur Andini dengan wajah sendu.


"Kita semua kangen Opa, tapi pasti sekarang Opa sudah tenang di alam sana."ucap Tuan Miko Pratama, agar putrinya tidak terlalu merasa sedih.


"Amin.Opa pasti sedang tersenyum melihat kita bahagia."balas Andini kembali


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2