
Ketika Mamanya Mariska masih saja merendahkan Robert di hadapan Dimas dan juga Andini. Membuat hati Robert memanas.
Namun, sekuat tenaga pria itu menahan amarahnya. Walau bagaimanapun, ia harus tetap menghormati dan menghargai mertuanya
"Ma, stop bilang kayak gitu! Mariska tidak suka."
"Sayang, nggak apa-apa." Robert mengusap lembut lengan istrinya berusaha menenangkan agar Mariska tidak terlalu kepikiran ucapan Mamanya yang dapat membahayakan janin yang saat ini sedang ia jaga.
Sementara Dimas dan Andini hanya terdiam. Mereka merasa tak enak dengan suasana di ruangan itu.
"Ma, sebaiknya kita pulang dulu setelah ini kita kan,ada kerjaan." ucap Papanya Mariska. Pria baru baya itu tak nyaman dengan ucapan istrinya di hadapan teman-teman putrinya.
Oleh karena itu, ia lebih memilih mengajak istrinya pulang daripada urusannya semakin panjang.
"Astaga! Mama lupa kalau kita mau bertemu dengan klien." wanita paruh baya itu menepuk keningnya sendiri.
"Makanya Mama jangan marah-marah terus." timpal Papanya Mariska yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang istri.
"Ya sudah, Mariska. Mama pulang dulu ya. Nanti Mama ke sini lagi buat jemput kamu, kita pulang ke rumah Mama. Jangan pulang ke rumah mertua kamu." tegas Mamanya Mariska dengan wajah ketusnya.
Sementara Mariska memasang wajah masam ia sangat tak suka dengan sikap ibunya. Saat ini yang seolah-olah merendahkan suaminya.
Robert mencium punggung tangan Papanya Mariska, sebelum mertuanya itu keluar dari ruangan.
"Jaga Mariska baik-baik ya, Robert. Kalau ada apa-apa langsung hubungi papa. Pria paruh baya itu menepuk bahu menantunya.
"Iya, Papa juga hati-hati." balas Robert yang kini mengeluarkan tangannya ke arah Mamanya Mariska yang hanya berbalas sentuhan pada ujung telunjuknya.
Padahal Robert ingin mencium punggung tangan Ibu mertuanya.
Setelah itu kedua orang paruh baya tersebut keluar dari ruangan yang membuat Robert membuang nafas lega.
Padahal sebelumnya Mamanya Mariska merestui hubungan Mariska saat pernikahan mereka dilaksanakan. Mamanya Mariska tidak mengetahui kalau pernikahan Mariska akan dilanjutkan sampai mereka memiliki janin yang tumbuh di rahim Mariska.
Karena awal pernikahan Robert dan Mariska hanyalah untuk menghilangkan rasa frustasi Mariska yang saat itu, lelaki yang sangat ia cintai menikah dengan sahabatnya sendiri yaitu Dimas.
Dan entah mengapa kebersamaan mereka setiap hari, dan perlakuan lembut Robert dan perhatian yang diberikannya kepada Mariska, membuat Mariska lama-lama menjadi nyaman dan juga mencintai Robert. Sama halnya seperti Robert, lama-lama dirinya merasa nyaman hidup bersama Mariska dan benar-benar mencintai Mariska. Padahal dulunya mereka sering saling tukar ejek bak Tom and Jerry.
"Sabar ya, Robert." ucap Andini saat melihat wajah lesu sahabatnya.
"Tenang saja. Aku punya kebun sabar kok, Din." balas Robert sambil kembali mendekat ke arah istrinya.
"Mulutnya ngomong kayak gitu, tapi hatinya berkata mertuaku neraka Aku. Seloroh Andini yang membuat Robert dan Mariska terkekeh bersama.
"Robert, aku nggak mau pulang ke rumah Mama. Aku mau pulang ke rumah kamu aja." rengek Mariska dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kita pikirkan lagi nanti ya, Sayang. Yang penting sekarang kamu sehat dulu."
__ADS_1
Robert kembali mengusap kepala istrinya dengan lembut.
Sementara itu Ricky dan Bima yang sudah dari tadi menunggu di luar, sudah mulai bosan.
"CK.... Aku kira yang tadi keluar itu, Pak Dimas sama Andini. Eh tahunya orang tua Mariska." Gerutu Ricky sambil menatap ke arah punggung orang tua Mariska yang perlahan menjauh.
Mungkin sebentar lagi mereka keluar, nanggung banget. Masa udah ke sini kita nggak jadi jenguk si Mariska." balas Bima yang duduk santai di kursi tunggu.
"Tahulah, aku mau ke kamar mandi dulu." Ricky bangkit dan membenarkan kembali yang ia kenakan.
"Mau ngapain kamu?" tanya Bima sebelum pemuda itu melangkah.
"Pertanyaan kamu aneh! kalau ke kamar mandi itu mau ngapain? Kamu pikir aku mau ngeluarin benih kecebong?"jawab Ricky seraya menatap Bima dengan tajam.
"Idih, otak kamu mesum melulu."
"Bukan aku yang mesum, tapi kamu sama si Erin itu."
"Lagian kamu gabut banget, orang ke kamar mandi aja ditanya. Sudah, kamu tunggu di sini bentar lagi si Erin keluar." jawab Ricky meninggalkan Bima yang masih duduk di kursi tunggu.
Pemuda itu berjalan sambil mengendapkan pandangannya mencari petunjuk ke arah kamar mandi.
Namun, dari kejauhan ia melihat seorang wanita yang wajahnya sudah tidak asing.
"Faranisa, ngapain dia di sini? aku harus ngumpet." gumamnya sambil membalikkan badan.
"Ricky! suara itu menghentikan kaki Ricky yang baru berjalan beberapa langkah.
"Ricky, kamu di sini juga? Faranisa mendekat dan menepuk bahu Ricky.
Dengan terpaksa pemuda itu menoleh padanya, menghadap ke arah wanita cantik itu.
"Hai, Mbak Nisa." ucap Ricky yang sedikit ragu.
"Kenapa ya, Sekarang Ricky malah bagaikan seorang maling yang tertangkap basah.
"Ricky, Siapa yang sakit? kenapa kamu ada di sini? Tanya Faranisa penuh selidik dengan mata yang menatap intens ke wajah pria yang ada di hadapannya.
"Emmm.... Aku ....
"Kamu sakit? Ya ampun kamu sakit apa?" tanya Faranisa kembali sambil menempelkan telapak tangannya pada kening Ricky yang membuat tubuh pria itu tiba-tiba menggigil.
"Aku habis cek!" jawab Ricky ngasal.
"Cek? cek apa?"
"Kelamin." Ricky spontan menjawab
__ADS_1
Saat ini otaknya tidak bisa berpikir jernih akibat Nisa menempelkan punggung tangan pada dahinya.
"What? maksudnya tes kelamin Bagaimana? jangan-jangan kamu punya dua alat reproduksi." seketika mata wanita cantik itu membulat dengan wajah heran.
"Eh sorry, aku salah ngomong. Maaf ya, bibir Aku sedang keseleo remnya." Ricky Menggaruk kepalanya dengan perasaan yang semakin tak karuan.
"Ricky, kayaknya kamu beneran sakit deh."
"Sakit apa? aku nggak sakit kok. Aku tadi cuman bercanda, iya bercanda." Ricky mengangkat dua jari membentuk huruf V.
"Kamu kayaknya Sakit jiwa." balas Faranisa sambil terkekeh.
"Idih, amit-amit." pekik Ricky sembari menggerakkan kedua bahunya.
"Hahaha.....Lagian kamu ada-ada saja pakai cek kelamin segala." Faranisa tertawa kecil.
"Sorry, aku cuman bercanda. Tapi Aku ini seratus persen lelaki perkasa dan masih disegel." jelas Ricky dengan wajah serius.
"Hahaha.... terus Sebenarnya kamu ngapain di sini?" Siapa yang sakit tanya Faranisa.
"Aku mau jujur sebenarnya.... Ricky tidak melanjutkan ucapannya.
"Pria itu memberanikan diri menatap wajah wanita cantik itu."
"Seketika tubuh Faranisa mematung. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Ricky, sehingga netra keduanya saling beradu
"Aku mau jujur, kalau sebenarnya aku.... "pria itu kembali terdiam.
Bibir Faranisa Parlan mengembang senyum matanya menatap penuh harap.
Entah apa yang diharapkan wanita itu dari kalimat yang akan dikeluarkan pria yang ada di hadapannya. Yang jelas ia sangat menunggu Ricky kembali berkata.
"Sebenarnya apa?" tanya Faranisa dengan Tak sabar, Setelah sekian detik bibir Ricky hanya mengatup rapat.
"Sebenarnya aku ke sini untuk menjenguk teman aku yang sedang sakit." jawab Ricky yang membuat tubuh Faranisa seketika melemas.
Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Ricky.
"Okey, baiklah. Aku pikir kamu akan berbicara hal lain." ucap Faranisa dengan nada suara w kecewa.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1