
Rian dan Andini saat ini sudah perbaikan.
keduanya sudah sama-sama tertawa, membayangkan kebersamaan mereka yang sudah berlalu.
"Eh, tapi aku kangen si Mariska. nggak ada yang bisa aku jambak rambutnya kalau lagi kesal."wajah wanita itu kembali berubah menjadi sendu.
"Sudah, kamu tenang saja, ntar aku bantu supaya dia mau memaafkan kamu dan gabung lagi sama kita."
"Beneran?"mata Andini berbinar.
"Cius asal kamu jodohin aku dengan Kak Alan.
"Dih, jodoh itu sudah ada yang ngatur."
"Ya, kamulah jadi perantaranya gitu, emang nggak mau apa punya kakak ipar yang multitalenta kayak aku?"ucap Rian mengibaskan rambutnya.
"Dih, narsis banget sih. Ya sudah, asal kamu bisa bantuin balikin si Mariska.
"Beres my princess. Sekarang kita ke kelas yuk! laki kamu kayaknya bentar lagi masuk."Rian yang menarik tangan Andini agar bangkit mengikutinya.
****
Setelah jam kampus selesai, Andini dan Dimas langsung menuju tempat di mana mereka akan bertemu dengan tim WO yang akan mengurus acara resepsi pernikahan mereka yang tertunda.
"Mas, mereka minta ketemu di mana?"tanya Andini saat mereka berada di perjalanan.
"Mereka minta bertemu di cafe Maulana."Dimas melirik ponselnya yang terdapat pesan dari orang yang akan mereka temui.
"Hah? Kok jauh banget, Mas?"
"Memangnya kamu tahu lokasi Cafe Maulana di mana?"
"Iya tahu. karena aku juga pernah datang ke sana."
"Sama Bagas? atau sama Bima?
"Apaan sih? Mas cemburu? Andini tersenyum menggoda.
"Tidak,hanya bertanya saja."
"Kalau memang iya, kenapa?"
"Ngapain aja di sana?"
"Ngamar," jawab Andini sekenanya yang membuat Dimas langsung menatap ke arahnya dengan tajam.
"Canda, Mas. Ya ngopi, beli makanan ngapain lagi coba?
"Oh,"balas Dimas, singkat.
"Emang nggak bisa gitu ya, mereka yang datang nemuin kita? kita akan klien, masa harus kita sih yang nyamperin mereka,"gerutu Andini.
__ADS_1
"Katanya nggak bisa, kebetulan mereka juga ada klien yang bertemu di sana."
"perjalanannya lumayan jauh. Ya, udah aku mau tidur dulu."Andini menyandarkan kepalanya pada lengan Dimas, seperti biasa.
Pria itu melirik karena Andini dan mencium sekilas kepala istrinya.
Mobil yang mereka kendarai tiba di sebuah Cafe yang terletak di atas bukit.
Cafe dengan view hamparan rumput hijau, yang di sana juga dapat menikmati angin sepoi-sepoi, dan juga sedikit perbukitan membuat panoramanya semakin indah.
Mereka datang ke sana tidak hanya menemui tim WO, tetapi sekaligus bertemu dengan tim fotografer yang akan memotret foto prewedding keduanya.
"Itu mereka."Dimas menunjukkan dua orang pria yang sedang duduk di meja paling ujung.
Andini mengikuti langkah suaminya, menghampiri kedua pria tersebut.
"Selamat sore, Maaf, kami datang terlambat."Dimas memberikan salam hangat kepada tim fotografer itu.
"Tidak, apa-apa Mas. Kami juga baru datang. silakan duduk!"ujar pria itu kepada Dimas dan juga Andini.
Dimas dan Andini duduk di kursi yang telah disediakan.
Mereka mulai membicarakan tema untuk foto prewedding dan memilih lokasi yang tepat.
"Saya mau tema foto prewedding nya, bertema princess gitu. karenanya julukan saya di kampus diberikan oleh teman-teman saya, seorang princess."ucap Andini sambil terkekeh.
"Bisa, Mbak. nanti diatur sesuai rencana."
"Bagus, kira-kira kapan tuh bisa mulai pemotretannya?"tanya Andini kembali tanpa memberikan celah untuk Dimas berbicara, karena iya yakin suaminya akan menolak idenya itu.
"Sudah, semuanya sesuai apa yang dikatakan tadi,'balas Andini sekolah tak mau diganggu gugat.
"Baiklah, kalau begitu, kami permisi dulu. kami akan mencari tempat yang cocok dulu, nanti setelah itu mengabari Mas nya kembali untuk melakukan pemotretan."
Kedua fotografer itu berpamitan dan meninggalkan Dimas dan Andini yang masih duduk menunggu kedatangan tim WO.
"Mas, mumpung tim WO belum datang, Aku mau ke toilet dulu ya sebentar,"pamit Andini serial bangkit dari duduknya.
"Mau Mas antar?"
"Nggak usah, Mas di sini saja, takut nanti Tim WO-nya datang Jadi nggak ketahuan."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya."
"Iya, Mas. kamu juga hati-hati di sini, jaga mata, jaga hati."wanita itu tersenyum getir.
Andini berjalan ke arah belakang, di mana toilet itu terletak, sesuai petunjuk yang ada.
Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ternyata belakang Cafe itu masih hutan, tetapi terlihat sangat indah dan asri.
Andini akan masuk ke dalam toilet wanita, tetapi sebuah tangan membekap mulut dan hidungnya.
__ADS_1
Andini membulatkan mata, namun beberapa saat kemudian matanya terpejam bersamaan dengan hilangnya kesadaran wanita itu.
"Bagaimana, Mas? tema seperti apa yang akan dipilih untuk konsep pernikahannya?"tanya seorang wanita yang tak lain adalah tim WO yang sudah datang dan mulai menunjukkan beberapa contoh konsep resepsi pernikahan.
Namun, sadari tadi Dimas tidak terlalu memperhatikan, pandangannya terus ia edarkan ke arah menuju toilet.
Kenapa sih dari tadi Andini belum kembali juga?
Apa yang dilakukannya sampai selama itu di kamar mandi?
Setelah lima menit istrinya belum kembali juga, awalnya Dimas akan menyusul ke toilet, tetapi kedatangan tim WO menghentikan langkahnya.
"Mas, mau tema yang mana?'tanya wanita itu kembali yang langsung membuyarkan lamunan Dimas.
Perasaannya mulai tak enak, takut terjadi sesuatu dengan istrinya di sana.
"Mbak, untuk temanya saya serahkan kepada istri saya, tapi istri saya belum kembali dari toilet. Saya permisi untuk menyusul dulu,"pamit Dimas Raya bangkit dari duduknya.
"Oh, iya. silakan, Mas."wanita itu tersenyum.
Dimas berjalan dengan lebar, menuju toilet wanita.
Suasana di sekitaran sana cukup sepi, hari sudah semakin sore, para pengunjung KPU mulai mengurang.
Area hutan di belakang Cafe pun sudah terlihat gelap, karena pancaran sinar matahari mulai redup.
"Andini, kamu di mana?"Panggil dimasak ia telah tiba di area toilet wanita.
"Andini!"panggilnya kembali dengan suara lebih keras.
Namun, tidak ada sahutan ataupun jawaban di toilet itu bahkan terlihat tidak ada orang sama sekali.
Wajah pria itu mudah terlihat cemas dan khawatir.
"Andini, jangan buat Mas khawatir. kamu di mana?"panggilnya kembali dengan pandangan yang ia edarkan.
Namun, tiba-tiba saja matanya menangkap sesuatu yang tak asing lagi.
Dimas mendekat dan mengambil sepatu berwarna putih yang tergeletak di ujung toilet yang akan menuju hutan.
Dimas memperhatikan sebelah sepatu tersebut, iya hafal betul milik siapa sepatu itu.
"Sialan! ini pasti ada yang tidak beres,"gumamnya dengan tangan mengepal dan rahang mengeras.
Setelah itu, ia menghubungi seseorang agar membantunya.
Tak lupa pula, Dimas memberitahu pemilik Cafe agar turut ikut membantunya, serta meminta rekaman CCTV pada tempat tersebut.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.