Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 94. MEMINTA RESTU


__ADS_3

" Sudah mending Kalian jadian saja. Sudah cocok juga. "celutuk Robin kepada Rian dan Ricky.


"Nggak bisa!" teriak Rian dan Ricky secara bersamaan.


Mending sekarang kamu bawa motor calon istri kamu ke bengkel, mumpung belum tutup. " Titah Ricky.


" Idih, calon istri. geli banget aku dengarnya." kekeh Rian menggerakkan kedua bahunya.


Setelah itu, mereka langsung membawa motor Mariska ke bengkel di pinggir jalan dan membenarkan motor wanita itu sampai kembali menyala.


" Sekarang kita ke rumah aku, buat minta izin sama kedua Mama Aku. " ajak Robert setelah motor Mariska kembali menyala.


"Aku malu. " cicit Mariska Seraya memakai kembali helmnya.


"Kalau malu, entar ketemu sama orang mamaku helmnya nggak usah dibuka.


"Apaan sih, Entar muka cantik aku yang cetar membahana nggak kelihatan. "


" Sudah buruan naik, atau aku tinggalin kamu. "


" Idih, sok kejam!" Mariska mulai naik ke atas motornya yang dibawa oleh Robert.


Mereka segera meluncur menuju rumah Robert. Ran dan Ricky mengikuti motor mereka dari belakang.


Hingga setelah beberapa menit berkendara mereka tiba di sebuah rumah sederhana, tapi terlihat bersih dan rapi. Rumah itu dipenuhi dengan tanaman bunga dan pepohonan hijau membuat situasi rumah semakin sejuk dan nyaman.


Setelah memarkirkan motornya di halaman rumah itu, Robert segera mengajak teman-temannya masuk.


Pintu rumah itu tidak dikunci. Ibu Halimah yang belakangan ini hanya bisa berjalan dengan menggunakan kursi roda sengaja tidak Mengunci pintu rumah sebelum sang putranya pulang.


Ibu Halimah yang beberapa bulan ini mengalami stroke ringan, sehingga dirinya tidak dapat berjalan layaknya seperti biasa. Sehingga dia pun berjalan dengan menggunakan kursi roda.


" Assalamualaikum Ma! " sapa Robert Seraya masuk ke dalam rumah.


" Waalaikumsalam! " jawab seorang wanita paruh baya yang duduk di atas kursi roda.


Robert langsung mencium punggung tangan sang ibu, yang langsung disusul oleh Mariska dan yang lainnya.


"Tumben datang rame-rame ke rumah? tanya ibu Halimah dengan senyum ramah.


" Iya Ma, kenalin ini Mariska calon menantu Mama. Robert merangkul bahu wanita yang ada di sampingnya.


Mariska Langsung melempar tatapan tajam ke arah Robert, rasanya ia ingin menepis dan melempar tangan pria itu yang merangkul bahunya tanpa izin. Tapi Ia berpikir lagi,kalau ia melakukan itu pasti ibunya Robert tidak akan Merestui Pernikahan mereka. Walaupun Mariska berniat menikah dengan Robert, bukan didasari karena cinta atau karena terselut emosi saja.

__ADS_1


"Oh Mariska ini pacar kamu? baru tahu Mama kalau kamu punya pacar."Wanita paruh baya itu terkekeh.


"Bukan pacar Ma, tetapi calon istri. Robert sama Mariska akan menikah besok."ucap Robert dengan mantap.


Namun, perkataannya barusan malah membuat mata sang Ibu membulat dan kaget.


Apa? menikah? kamu tidak melakukan yang macam-macam kan? Mariska kamu nggak hamil kan Nak." Serah Halimah dengan wajah heran bercampur kaget.


" Astagfirullah ma, kita berdua ini masih Suci. Se suci air zamzam yang dari Mekah. Kita menikah karena kita nggak mau pacaran, dan maunya langsung menikah. Biar tidak terjerumus sama dosa zina. Iya kan, sayang? Robert menoleh ke arah Mariska sambil mengangkat alisnya sebelah.


Namun wanita itu malah merasa sedikit mual ketika mendengar panggilan Robert yang memanggilnya dengan panggilan sayang.


"Terhindar dari zina? bisa aja ngomongnya. Itu tangan kamu ngapain coba? rangkul anak gadis orang. Halimah menunjukkan arah tangan Robert yang merangkul bahu Mariska.


"Kita kan mau nikah, Ma. "


"Nggak bisa! belum halal, nggak boleh gitu."


"Tapi mama setuju kan kalau Robert nikah sama Mariska besok?


" Kenapa harus besok sih? kan masih banyak waktu kita bicarakan rencana pernikahan ini baik-baik sama keluarga Mariska.


"Nggak usah Ma. semuanya kita yang ngatur kalau nunggu besoknya lagi nanti Mariska keburu diambil orang.


" Iya Ma, Mariska udah tahu kok Robert orangnya kayak gimana." Mariska membalas senyuman wanita paruh baya itu.


"Berarti mama setuju nih sama pernikahan kita? tanya Robert kembali untuk memastikan.


"Setuju Asal kamu bisa menjadi imam yang baik untuk istri kamu dan anak-anak kamu" nasehat Halimah.


"Siap Ma! Bila perlu Robert ganti nama jadi imam supaya feel nya dapat."


"Nggak gitu konsepnya Robert." kesel Mariska Seraya mencubit lengan pria itu.


Ran dan Ricky yang melihat adegan itu hanya terkekeh. Kali ini mereka tidak ikut campur dengan urusan kedua sahabatnya.


Setelah itu mereka kembali berpamitan untuk meminta izin kepada orang tua Mariska.


Ran dan Ricky dipaksa tetap ikut oleh Robert, Karena ia merasa cukup takut untuk berhadapan langsung dengan orang tua calon istrinya.


Ibu Halimah tidak bisa ikut ke rumah sang calon besan, karena keadaan wanita paruh baya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Robert....."tunggu! Mariska menepuk bahu Robert agar menghentikan laju motornya. Kemudian mereka pun mengatur strategi dan apa yang harus mereka katakan nanti Saat meminta izin kepada kedua orang tua Mariska.

__ADS_1


Dan Setelah tiba di rumah keluarga Mariska ke empat sahabat itu pun masuk setelah mengucapkan salam.


Saat keduanya mengungkapkan niat hati mereka, ayah dari Mariska tidak setuju dan malah meminta Mariska untuk tetap melanjutkan kuliahnya, terlebih dahulu baru menikah.


Tetapi ancaman diberikan Mariska untuk ayahnya dan langsung ditimpali oleh ibunya memohon kepada ayahnya, agar memberikan restu kepada Putri dan calon menantunya Robert. Dan pada akhirnya kedua orang tua Mariska pun menyetujui pernikahan dadakan itu.


****


Pagi ini Andini sudah bangun terlebih dahulu, bahkan sebelum suaminya membuka mata.


Andini sengaja Memasang alarm beberapa kali agar tidak kesiangan.


Pagi ini ia ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya. Setelah mandi dan berpakaian rapi, Andini pergi ke dapur, Andini memasak nasi goreng untuk suaminya dan untuknya.


Menu yang sangat simpel menurutnya. Wanita itu bergerak dengan lincah mengumpulkan bahan dan meracik bumbu yang menjadi penyempurna masakannya.


Seorang pria berjalan dengan perlahan menghampirinya, senyum pada wajah Tampan itu terlihat mengembang.


Rambutnya masih basah membuat penampilan pria bertubuh tegap itu nampak fresh.


"Kamu lagi masak? " tanya Dimas seraya berdiri di samping istrinya yang sedang sibuk meracik bumbu.


" Mas ngagetin saja." Andini menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengupas bawang.


"Kok berhenti? tanya Dimas kembali dengan dahi mengerut


"Aku malu kalau dilihatin."


" Ya udah, aku merem. " Dimas menyipitkan matanya seolah akan terpejam.


"Ini bukan merem namanya, tapi ngitip. Andini memperhatikan wajah suaminya yang menurutnya terlihat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu.


" Ya udah, aku buka mata lagi." Dimas kembali membuka lebar kedua matanya.


" Mas, ih. Aku kan jadi salah tingkah kalau dilhatin kamu."


" Kenapa begitu? aku kan mau memperhatikan Bidadari masak." Dimas mengangkat alisnya sebelah dengan senyum tipis.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.


__ADS_2