Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 186. PENGAKUAN BIMA


__ADS_3

Bima yang tiba-tiba saja mendapat serangan mendadak dari Dimas berusaha untuk kembali menegakkan tubuhnya. "Kenapa Bapak memukul saya?"kini Bima bertanya


"Kamu sudah melakukan hal kotor, dasar kurang ajar kamu!!"


Dimas kembali melayangkan pukulan kepada wajah Bima sampai membuat wajah pemuda itu babak belur.


"Pak, tenang dulu. Kita bicarakan ini baik-baik!"sela Ricky sambil menghadang tubuh Bima yang masih ditatap nyalang oleh Dimas.


"Mas, kamu tenang dulu ya! benar kata Ricky, kita bicarakan ini baik-baik."ucapkan dini Seraya memegang tangan suaminya yang masih mengepal sempurna dengan urat dan otot yang masih menegang yang sudah siap melayangkan pukulan ke tubuh Bima.


Sementara Erin tidak berhenti menangis. Erin berdiri di belakang Andini.


"Baik, Saya mau bicara sama kamu!"Dimas menunjukkan arah Bima yang meringis menahan sakit di wajahnya akibat pukulan dari Dimas.


Kemudian mereka pun duduk di kursi yang berada di cafe. Kebetulan Cafe itu saat ini belum beroperasi. Cafe itu akan buka sekitar satu jam lagi. Sementara Mariska dan Robert belum ada di sana.


Ricky menepuk bahu Bima agar ikut duduk bersamanya di depan Dimas.


"Pak Dimas, silakan berbicara dan sampaikan maksud dan tujuan bapak ke sini!"titah Ricky terlihat lebih dewasa.


Dimas menatapnya nyalang ke arah Bima yang menunduk sambil sesekali mengusap luka pada sudut bibirnya.


"Saya ada perlu sama dia!"Dimas kembali menunjukkan arah Bima yang membuat pria itu langsung mengangkat wajah dan melihat ke arah Dimas.


Erin tak berani berucap sedikitpun, wanita itu melihat ke arah Bima dengan wajah tegang.


"Saya rasa, Kamu sudah bisa menebak Apa yang membuat saya sampai marah seperti ini."ucap Dimas dengan mata yang tak beralih pandang sedikitpun dari wajah mahasiswanya itu.


"Maksud Bapak apa? Bima balik bertanya yang membuat darah Dimas kembali mendidih.


"Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Ngaku Sebelum saya habisi nyawa kamu sekarang juga!"bentak Dimas membuat Ricky dan Andini hampir tersentak.


Namun, tidak dengan Bima. Pria itu terlihat lebih santai.


"Saya tidak tahu apa yang Bapak maksud."jawab Bima dengan nada santai.


"Kurang ajar!"

__ADS_1


Dimas mendorong tubuh Bima sampai membuat pemuda itu terjatuh, ia hampir saja kembali melayangkan pukulan jika Andini dan Ricky tidak segera mencegahnya.


"Kamu sudah menghamili Erin! kamu sudah merusak adik saya!"kamu ingin membalaskan dendam kepada saya, karena kamu tidak bisa menggapai cinta Andini!"bentak Dimas dengan urat leher menegang.


"Saya tidak melakukan itu!"sangkal Bima dengan nada datar.


"Astaga, kamu benar-benar membuat saya ingin menghabisi mu!"Dimas mengepalkan tangan dan meremas jemarinya sendiri.


"Mas, tenang dulu. Andini menggenggam lengan suaminya yang masih menegang. Ia berusaha menenangkan Dimas


"Bima, Apa benar kamu pelakunya?" tanya Andini dengan mata yang menatap intens wajah pemuda yang pernah menaruh hati padanya.


Tidak, aku tidak melakukannya dan aku tidak mencintai Erin. Aku hanya mencintai kamu!" tutur Bima yang membuat semua mata membulat.


"Brengsek! Dimas kembali melayangkan pukulannya dan hendak menghabisi pemuda itu sampai tak berdaya.


Entah kenapa Bima tidak melawan saat mendapat serangan bertubi-tubi dari dosennya. Pemuda itu malah membiarkan Dimas menghantam tubuhnya habis-habisan.


"Pak, stop! saya mohon hentikan." pinta Ricky yang tak tega melihat sepupu sekaligus sahabatnya dihantam terus-terusan.


"Mas, cukup! Andini kembali memegang tangan suaminya. Sementara Erin semakin memecahkan tangisnya. Ia menangis bukan karena Dimas telah menghabisi kekasihnya itu, melainkan pengakuan dari mulut pria brengsek itu yang telah merusak dirinya.


"Erin terdiam sejenak. Wanita itu mengatur nafas sambil, sesekali menyeka air matanya.


"Bima!" Dia yang telah menghamili aku." jawab Erin dengan telunjuk yang terarah pada Bima.


"Erin menatap ke arah Bima dengan tatapan tak percaya. Ia sungguh tidak menyangka sepupu baik-baik, yang sudah ia kenal sejak lahir bisa melakukan hal sebejat itu.


"Erin, kita tidak melakukannya." sangkal Bima yang membuat air mata Erin yang semakin luluh.


"Diam! semuanya sudah jelas. Erin hamil setelah kamu membawa kabur dari rumah. Sekarang kamu tanggung jawab, atau saya jebloskan kamu ke penjara!" ancam Dimas yang membuat mata Erin membulat.


"Jangan kak, aku mohon jangan laporkan Bima ke polisi. Mohon Erin dengan wajah memelas berlinang air mata.


"Kamu diam!!" bentak Dimas kepada adiknya yang membuat bibir Erin langsung mengatup sempurna.


"Saya tahu kamu adalah pelakunya, dan Erin mengakui itu. Jadi pilih tanggung jawab atau mendekam di penjara?" tanya Dimas dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Bima terdiam. Sorot mata pemuda itu tertuju ke arah yang berwajah sembab.


"Bima, please tanggung jawab. Aku tidak mau anak ini lahir tanpa Ayah. Kamu kan sudah janji mau tanggung." jawab Erin dengan suara parau


"Baiklah apa yang harus aku lakukan?" tanya Bima dengan santai.


"Kamu harus nikahin Erin, cepat suruh orang tuamu datang ke sini." bentak Dimas dengan suara menggelegar.


"Orang tua saya tidak ada di Jakarta." jawab Bima kembali masih dengan nada suara dan santai.


"Saya tidak mau tahu, suruh mereka datang ke sini untuk menemui saya. Kamu dan Erin harus segera menikah." tegas Dimas dengan geram.


"Pak, saya akan menghubungi orang tua Bima. Sebaiknya Bapak dan Erin beserta Nyonya Andini, pulang dulu. Nanti setelah orang tua kami datang, kami akan ke rumah bapak." usul Ricky


Ia sungguh tidak nyaman dengan situasi Saat ini. Apalagi sebentar lagi Cafe akan segera buka.


"Oke, saya tunggu kalian di rumah saya kalau dalam waktu dua puluh empat jam, kalian tidak datang juga datang. Terpaksa saya suruh polisi untuk menjemput kamu!" tegas Dimas sambil menunjuk ke arah Bima.


"Siap! Bapak Tenang saja. Saya adalah Ricky mahasiswa paling jujur dan teladan. Bahkan Selama berkuliah saya adalah mahasiswa paling jujur.


"Saya tunggu kalian di rumah!" tegas Dimas kembali sambil bangkit dan menarik tangan Erin agar mengikuti langkahnya. Andini mengikuti langkah suaminya dengan masuk ke dalam mobil.


Setelah tamu kehormatannya benar-benar pulang, Ricky kembali duduk dan mendekat ke arah Bima yang duduk termenung.


"Bima, Bima! Kenapa kamu bisa melakukan hal sebejat itu sih? tanya Ricky sambil menepuk bahu sahabatnya yang membuat Bima kembali menegakkan kepala.


"Aku nggak tahu, mungkin saat itu aku sedang dirasuki setan." jawab Bima dengan wajah putus asa.


"Gila! anak orang sampai bunting begitu, kamu kurang persiapan." cerocos Ricky yang ikut kesal ketika mendengar perlakuan sepupunya itu.


"Aku kira semua itu, nggak akan kayak gini." Bima mengacak rambutnya frustasi.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2