
"Alena, aku minta jangan membuat keributan di sini. Sekarang kamu keluar, Aku mau menjenguk papaku."
"Dimas, kamu belum menikah, kan?"Gadis itu semakin mendekat dan akan memeluk tubuh Dimas, tetapi pria itu langsung menahannya.
"Alena, Tolong keluar sekarang!"Dimas mengusir dengan nada dingin.
"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini. Aku sangat merindukanmu sayang."Alena kembali ingin memeluk Dimas, lagi lagi pria itu menahannya.
"Alena, keluar sekarang juga!"bentak Dimas yang membuat wanita itu langsung terdiam.
"Keluar! jangan mengganggu istirahat papaku!"Dimas menunjuk ke arah pintu keluar. Ia sangat kecewa kepada wanita yang ada di hadapannya saat ini. Saat Papanya menginginkan Dimas segera menikah kala itu, Alena memilih untuk pergi mengejar impiannya di luar negeri.
"Oke, aku akan keluar! tapi aku akan kembali lagi."setelah mengatakan itu, Alena langsung keluar dengan langkah kesal, bahkan suara pantulan high heels-nya yang dikenakan terdengar sangat nyaring.
Dimas membuang nafas kasar, lalu mendekat ke arah branker pasien di mana ayahnya sedang terbaring dengan lemah, terlihat di punggung tangan Tuan Anggara tertancap jarum infus.
"Bi, Kenapa Alena bisa ada di sini?"tanya Dimas kepada seorang asisten rumah tangga yang sudah dari tadi hanya terdiam dengan wajah menunduk. Wanita paruh baya itu sudah sangat lama bekerja di rumah utama keluarga Anggara.
"Non Alena, datang disaat Tuan pingsan dan non Alena yang membantu membawa Tuan ke sini,"jelas wanita paruh baya itu dengan wajah menunduk.
"Kenapa tidak pergi bersama Pak sopir saja?"
"Maaf, Tuan, Pak Karyo sedang sakit."
Dimas mengepalkan tangannya, Kenapa Alena kembali di saat seperti ini.
Disaat dirinya sudah menikah, Padahal selama beberapa tahun Ia menunggu wanita itu kembali, sampai pada akhirnya ia dijodohkan dengan seorang wanita barbar seperti Andini.
Setelah beberapa lama menemani sang ayah, Dimas berpamitan untuk menjemput Andini, karena waktu sudah menunjukkan jam pulang kampus
Ia tak ingin Andini menunggu atau bahkan pulang bersama dengan Bima atau Bagas. apalagi mengingat kejadian beberapa hari lalu yang menimpa Andini.
Saat mobilnya mendekati ke kampus, iya berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang membawa sepeda motor.
Matanya menatap jeli, takut jika yang naik motor itu adalah istrinya.
Suasana kampus mulai sepi, Dimas menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus.
Pandangannya ia edarkan, mencari sosok wanita barbar yang sudah sah menjadi istrinya.
"Din, pulang bareng aku yuk!"ajak Bima ketika Andini akan keluar dari gerbang kampus.
Namun, belum juga Gadis itu berbicara, suara klakson motor terdengar nyaring dan membuatnya langsung membalikkan badan.
Bagas turun dari motornya dan membuka helm.
"Din, kita pulang bareng yuk!"ajak Bagas Seraya menyugar rambutnya.
__ADS_1
"Bareng aku aja, Din,"ajak Bima kembali.
"Apa-apaan sih kamu? jangan ikut-ikutan!"Bagas menatap tajam ke arah Bima.
"Kamu yang ikut-ikutan! aku yang duluan ngajak Andini pulang, tiba-tiba saja kamu datang nyorocos aja."balas Bima sambil turun dari motornya.
"Apa maumu?! kau mengajak ribut denganku! Bagas langsung mencengkram kerah baju Bima.
Buhkkk
Bima mendaratkan sebuah pukulan keras pada wajah tampan Bagas.
Andini membulatkan matanya ketika melihat itu.
"Sialan! Bagas mendekat dengan tangan mengepal lalu memberikan tonjokan ke wajah tampan Bima.
Kedua pemuda itu saling melempar pukulan keras, suasana kampus yang mulai sepi membuat mereka lebih leluasa dan tidak ada yang melerai perkelahian keduanya.
"Bima.. Bagas.... stop!!!! teriak Andini dengan wajah tegang bercampur takut.
"Namun, kedua pemuda itu tidak menghentikan aksinya. Bagas dan Bima terus saling memberikan serangan.
Dimas yang melihat kedua mahasiswanya sedang baku hantam, langsung turun dari mobil.
"Bagas..... Bima..... hentikan!!!!"teriak Andini kembali Seraya mendekat ke arah kedua pemuda itu.
Andini berlari ke tengah-tengah Bima dan Bagas yang akan kembali melempar pukulan keras.
"Aaaarrrgh...."
Andini memejamkan matanya ketika mendengar bunyi pukulan keras itu. Tapi ia baru menyadari kalau tubuhnya tidak terasa sakit sedikitpun.
Wanita itu membuka matanya dengan perlahan, dua tangan kekar mendekati tubuhnya dengan erat.
"Pak Dimas!"ucap Bagas dan Bima serentak, ketika melihat dosen itu sedang mendekap tubuh Andini yang hampir terkena pukulan keduanya.
Andini membalikkan badannya dengan perlahan, benar saja, Dimas telah menghalangi tubuhnya dari pukulan Bagas dan Bima.
Wanita itu menatap tak percaya ke arah suaminya, yang sedang meringis menahan sakit. Karena telah menyelamatkannya dari pukulan kedua lelaki yang memperebutkan dirinya.
Sementara Bagas dan Bima mematung dengan wajah ketakutan. Takut jika mereka di DO ataupun discourse dari kampus. Karena mereka sangat mengetahui siapa sosok Dimas di kampus tempat mereka menyembah ilmu.
Dimas bukan hanya seorang dosen tetapi sekaligus pemilik kampus.
Kenapa mereka bisa sampai kecolongan dan memukul tubuh dosennya sendiri.
"Bapak tidak apa-apa?"tanya Andini dengan khawatir sambil memeriksa wajah tampan suaminya yang saat ini lebam akibat bogeman yang dilakukan oleh Bagas dan Bima.
__ADS_1
"Saya baik-baik saja. apa kamu terluka?"tanya Dimas kembali dengan Tatapan yang memperhatikan tubuh istrinya, takut jika Gadis itu terluka.
"Saya tidak apa-apa."
"Pak, Maaf saya tidak sengaja."ucap Bagas sebelum terkena amukan dosennya.
"Saya juga minta maaf, saya tidak sengaja, Pak."timpal Bima.
"Besok, suruh orang tua kalian datang menemui saya di kampus! kalau tidak datang, kalian tahu sendiri apa akibatnya."tegas Dimas, lalu menarik tangan Andini menjauh dari kedua pemuda yang masih mematung.
Dimas langsung membawa istrinya masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil itu meninggalkan kampus.
"Pak.... eh mas,"Panggil Andini dengan ragu.
"Hmmm...."Dimas hanya bergumam dengan Tatapan yang lurus ke arah jalan.
"Terima kasih ya, Mas,"Andini menatap keras suaminya yang tak melirik sedikitpun ke arahnya.
"Hmmm...."Dimas kembali bergumam.
"Kok cuman hanya gitu doang sih?"tanya Andini yang mulai tak nyaman dengan sikap suaminya.
"Jika saya telat menjemputmu, apa kamu akan pulang bersama salah satu dari mereka?"tanya Dimas membuat Andini terdiam sejenak.
"Ya, enggaklah!"
"Kenapa enggak?
"karena aku yakin Mas akan menjemput aku,"Andini menggigit Bibir bawahnya ia merasa geli berbicara seperti itu.
"Beneran? Kenapa tidak pulang bersama dengan Bima saja atau Bagas?
"Aku maunya pulang sama suamiku."
seketika Dimas langsung menoleh ke arah istrinya yang tersenyum lebar.
"Bisa saja bohongnya."Dimas merentangkan tangan sebelah kiri dan meraih tubuh Andini.
"Ih, Mas ini bagaimana sih. Padahal aku serius. Tapi masih dianggap juga berbohong."wanita itu mengerucutkan bibirnya.
"Makanya jangan suka berbohong."Dimas membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Enak aja! Siapa juga yang pembohong."ucap Andini dengan kesal menatap tajam ke arah suaminya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN